Oktober 26, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Asal mula kota Samarinda

Pada kala pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Admiral Speelman memimpin tingkatan laut Kompeni menyerang Makassar dari laut,[2] sedangkan Arung Palakka yang mendapat bantuan dari Belanda karena mau melepaskan Bone dari penjajahan Sultan Hasanuddin (raja Gowa) menyerang dari daratan. Akibatnya Kerajaan Gowa mampu dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.[2]

Kedatangan orang Bugis ke Kesultanan Kutai

Pemukiman penduduk di tepi Sungai Mahakam pada abad pendudukan Belanda. Wilayah ini sekarang menjadi kawasan Karang Asam.
Beberapa orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap inti perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan telah tersedia pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya di selanya telah tersedia yang hijrah ke kawasan Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan patut oleh Sultan Kutai.[2]

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu kawasan dataran rendah yang patut untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus menolong segala kebutuhan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.[2]

Semua rombongan tersebut memilih kawasan sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi kawasan ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena kawasan yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar balik gunung-gunung (Gunung Selili).[2

alambae (90)

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Sehelai Sajadah
%d blogger menyukai ini: