Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Anti Islam, Berkedok Anti Arab

Belakangan ini memang ada oknum yang menyebarkan paham anti-Arab atau seolah-olah budaya Arab yang dibawa ke Indonesia ini bertentangan dengan pancasila dan kesatuan NKRI. Setelah ditinjau lebih dalam, sebenarnya tujuan utama mereka adalah anti-Islam yang berkedok anti-Arab.

Ada beberapa cara oknum tersebut:

  1. Menyebarkan bahwa budaya Arab itu tidak sesuai dengan hak asasi manusia, seperti budaya jilbab dan cadar.

Misalnya, mereka menuduh jilbab dan cadar akan mengekang para wanita dan merampas hak asasi mereka.

Jawaban: Jilbab dan cadar tidak pernah mengekang para wanita, justru mereka bahagia dan merasa terhormat dengan pakaian sesuai syariat tersebut.

  1. Menyebarkan bahwa budaya Arab itu akan mengancam kebudayaan Indonesia dan nusantara.

Jawaban: Sebenarnya budaya Arab dan ajaran Islam sudah sejak lama mewarnai budaya nusantara kita dan tidak akan merusak kebhinekaan Indonesia. Kalau mau jujur, budaya Barat dan budaya Korea juga banyak masuk ke Indonesia, seperti memakai celana jeans ketat, hot-pants, dan lain-lain. Akan tetapi, mereka tidak mempermasalahkan hal ini, mereka hanya mempermasalahkan budaya Arab saja.

  1. Mempopulerkan istilah-istilah yang menyudutkan bahkan menjelekkan Arab atau yang berbau Arab.

Misalnya:

“Kadrun (kadal gurun)”;
“Pulang sana ke Arab”;
“Jilbab kan budaya Arab”.

Jawaban: Julukan ini mereka populerkan dan menunjukkan justru mereka yang tidak toleransi. Ketika seseorang memilih berpakaian ala Korea lalu mempopulerkannya, mereka tidak mempermasalahkan. Coba saja ada yang berkata:

“Pulang sana ke China”
“Ini kan budaya China?”

Tentu kalimat ini adalah kalimat “rasis” dan tidak toleransi.

Baca Juga:Benarkah Cadar Budaya Arab?

  1. Mereka mengeneralisir bahwa orang seperti itu tidak memiliki toleransi dan rasis terhadap minoritas di Indonesia serta tidak setia NKRI.

Jawaban: Kita dapati bahwa orang keturunan Arab banyak yang mendukung dan menjadi tokoh kemerdekaan Indonesia bersama bapak Soekarno-Hatta di awal-awal kemerdekaan. Apabila kita belajar sejarah, justru yang mendukung kemerdekaan Indonesia banyak berasal dari negara-negara Arab.

Kami nukilkan tulisan Ustadz Yulian Purnama:

“Jangan lupakan sejarah

Negara-negara yang pernah menjajah Indonesia:

  1. Portugis
  2. Spanyol
  3. Belanda
  4. Prancis
  5. Britania Raya (UK)
  6. Jepang

Negara-negara yang paling awal mengakui kemerdekaan RI adalah:

  1. Mesir
  2. Yordania
  3. Libanon
  4. Suriah
  5. Irak
  6. Arab Saudi
  7. Yaman

Semuanya negara Arab. Lah kenapa sekarang banyak orang Indonesia yang malah anti-Arab?” (Selesai nukilan, sumber: Status FB Ustadz Yulian Purnama ditulis pada 17 Agustus 2020).

Baca Juga: Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme

BACA JUGA :   Ajar Anak Anda Pengendalian Diri Sejak Dini

Fakta di atas bukan maksudnya menyebarkan kebencian kepada negara-negara yang pernah menjajah Indonesia. Karena sekarang kita sudah hidup damai dan sejak dahulu kala sudah banyak peperangan antar negara berlalu. Kalau kita masih dendam, tidak akan ada habisnya. Akan tetapi, kita ingin menekankan, ada oknum yang sebenarnya anti-Islam, tetapi berkedok anti-Arab.

Kami akan membahas beberapa poin berikut bahwa agama Islam itu tidak anti-total dengan budaya. Dan agama Islam di Indonesia ini sejak dahulu kala tidak pernah membuat kegaduhan dan mengancam kebudayaan serta keutuhan NKRI.

Inilah langkah yang dilakukan oleh kalangan liberal dan munafik (mengaku beragama Islam, tetapi sebenarnya tidak suka dengan Islam dan bahkan ingin menghancurkannya). Orang munafik sejak zaman dahulu kala mengaku mereka sedang melakukan kebaikan di muka bumi, padahal sedang melakukan kerusakan. Demikian juga orang munafik di zaman ini, mereka mengaku sedang menjaga keutuhan negara dan toleransi, namun justru mereka yang tidak toleransi.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang munafik,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman!’ Mereka menjawab, ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 11-13)

Bahaya yang lebih besar justru muncul dari orang munafik karena mereka ibarat “menggunting dalam lipatan” dan menusuk dari dalam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي ، كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah setiap munafik yang pandai bicara.” (Shahih Al-Jami’ no. 239)

Agama Islam tidak anti total dengan budaya, bahkan apabila budaya setempat tidak bertentangan dengan syariat, kita diperintahkan untuk menyesuaikan dengan budaya dan kebiasaan. Misalnya, memakai baju batik bagi laki-laki; atau memakai sarung dan kopiah ketika ke masjid bagi laki-laki.

Bahkan ada kaidah dalam agama Islam yang justru menjadikan adat dan budaya sebagai sandaran hukum pada kasus tertentu,

BACA JUGA :   Haru dan Syukur dari Paralimpiade Tokyo 2020

العادة محكمة

“Adat (kebiasaan) dapat dijadikan sandaran hukum.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjelaskan bahwa adat akan menjadi patokan apabila syariat dan bahasa tidak menjelaskan definisi, beliau berkata,

ولهذا قال الفقهاء: الأسماء ثلاثة أنواع:

نوع يعرف حده بالشرع؛ كالصلاة والزكاة.

ونوع يعرف حده باللغة؛ كالشمس والقمر.

ونوع يعرف حده بالعرف ، كلفظ القبض، ولفظ المعروف.

“Oleh karena itu, para ahli fikih menjelaskan bahwa istilah (nama) itu ada tiga macam:

Pertama, yang didefinisikan oleh syariat; seperti shalat dan zakat.

Kedua, yang didefinisikan oleh bahasa; seperti matahari dan bulan.

Ketiga, yang didefinisikan oleh adat (budaya) seperti lafaz jual beli dan patokan berbuat baik.” (Al-Iman, hal. 224)

Apabila ada budaya dan adat yang baik serta tidak bertentangan dengan Islam, justru kita diperintahkan untuk melakukannya agar mencocoki dan bersesuaian dengan kebiasaan masyarakat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkata,

أن موافقة العادات في غير المحرم هي السنة؛ لأن مخالفة العادات تجعل ذلك شهرة، والنبي صلّى الله عليه وسلّم نهى عن لباس الشهرة ، فيكون ما خالف العادة منهياً عنه.

“Mencocoki (menyesuaikan) kebiasaan masyarakat dalam hal yang bukan keharaman adalah disunnahkan. Karena menyelisihi kebiasaan yang ada berarti menjadi hal yang syuhrah (suatu yang tampil beda sekali dan mencolok, pent). Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berpakaian syuhrah. Jadi, sesuatu yang menyelisihi kebiasaan masyarakat setempat, itu terlarang dilakukan.” (Syarhul Mumti’, 6: 109).

Demikian, semoga bermanfaat.

Baca Juga:

Syahwat Liberal
Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme


@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: Muslim.or.id

Buku Putih Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab
Buku Putih Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

Dapatkan ebooknya langsung di email Anda

Nama Anda

Email Aktif
🔍 Hukum Memakai Cadar, Islam Itu Mudah, Hadits Tentang Shalawat, Pekerjaan Medical Representative, Hadits Penaklukan Roma

TOPICS: ANTI ARAB, ANTI ISLAM, BAHAYA LIBERALISME, BUDAYA, BUDAYA ARAB, BUDAYA BARAT, BUDAYA INDONESIA, LIBERAL, LIBERALISME, NKRI, PLURALISME, SEKULERISME, SYARI’AT ISLAM, TOLERANSI
PREVIOUS
Apakah Perbedaan antara Qadha dan Qadar?
NEXT
Hukum Azan dan Iqamah jika Salat Sendirian

ABOUT AUTHOR

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK
Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah “Kesehatan Muslim”

View all posts by dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK »
ARTIKEL TERKAIT
Pahala dalam Amarah
Menggapai Pahala dalam Amarah
13 September 2021
Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Islam
Berapa Frekuensi Berhubungan Intim Suami-Istri Menurut Syariat?
9 September 2021
Mengobati Kegalauan
Mengobati Kegalauan (Bag. 6)
7 September 2021
Doa Berlindung dari Wabah dan Penyakit
Beberapa Doa Berlindung dari Wabah dan Penyakit Mengerikan
6 September 2021
Suami Menolak Berhubungan Intim
Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan Intim Apakah Berdosa?
4 September 2021
Ayat Sebelum Tidur
Ayat-Ayat Al Qur’an yang Disunnahkan Dibaca Sebelum Tidur
24 Agustus 2021
Childfree
Childfree dalam Pandangan Islam
23 Agustus 2021
Cinta Tanah Air
Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah Manusia
20 Agustus 2021
Kebaikan untuk Indonesia
Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia?
19 Agustus 2021
10 Hari Pertama Bulan Muharram
Memuliakan 10 Hari Pertama Bulan Muharam
18 Agustus 2021
LEAVE A REPLY
Your comment…

BACA JUGA :   Resep sayur lodeh

Name (required)

Email (required)

Website

Download Ebook Islami
Download Buletin at-Tauhid
Donasi YPIA via Paypal
Donasi Masjid Al-Ashri
DUKUNG KAMI DI FACEBOOK

Artikel Terpopuler

Apa Arti Masya Allah?

Hadits Tentang Niat

Mengenal Mani, Wadi dan Madzi

Tata Cara Mengqadha Shalat Yang Terlewat

Muslim Harus Bergembira Menyambut Ramadhan

Ilmu Dicabut dengan Wafatnya Ulama

Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat

Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa

Penyakit Ain

Hadits Tentang Bid’ah

TENTANG KAMI

Muslim.or.id merupakan salah satu media dakwah milik Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Muslim.or.id selalu berusaha menyebarkan dakwah Islamiyyah Ahlussunnah wal Jama’ah di jagat maya.

Moto Muslim.or.id adalah “Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunah”.

Yuk, kenali kami lebih dekat.

ALAMAT KAMI

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

TENTANG YPIA

Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA) adalah yayasan yang bergerak di bidang dakwah publik dan pembinaan generasi muda, khususnya mahasiswa, dan umat Islam pada umumnya.

Yayasan ini memfokuskan diri dalam pembinaan mahasiswa yang diwujudkan dalam bentuk pengadaan kursus bahasa Arab dasar, perbaikan bacaan Al Qur’an (tahsin), kajian Islam intensif, dan pondok pesantren mahasiswa.

Baca selengkapnya tentang YPIA.

Copyright 2021 Muslim.or.id. All Rights Reserved.

Sumber: https://muslim.or.id/68402-anti-islam-berkedok-anti-arab.html

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: