Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sistem Politik Dan Ekonomi Di Masa Jahiliyah : Monarkhi Absolut

Di masa itu, pada umumnya di muka bumi ini tidak terdapat suatu bangsa yang mempunyai tabiat baik, tidak ada masyarakat manusia yang berdiri di atas landasan budi pekerti dan keutamaan.

Zaman jahiliyah merupakan pentas kekuasaan zhalim dan penindas. Pada masa itu sistem politik di tegakkan atas dasar monarkhi absolut (kekuasaan mutlak di tangan raja). Ada kalanya juga di tegakkan atas dasar pemujaan terhadap keluarga-keluarga (dinasti-dinasti) khusus, seperti yang terdapat di Persia.

Dinasti Sassanid berkeyakinan bahwa hak mereka atas kerajaan berasal dari Tuhan. Dengan segala cara dan kekuatan mereka berusaha menanamkan pengaruh di kalangan rakyat. Agar hal itu benar-benar menjadi keyakinan atau akidah dan agar rakyat mengakui sepenuhnya hak suci mereka atas kerajaan. Ada juga sistem politik yang di tegakkan atas dasar pemujaan terhadap raja-raja.

Orang Cina memandang raja mereka sebagai Maharaja Putera Langit. Mereka berkeyakinan bahwa langit adalah lelaki sedangkan bumi adalah perempuan, kemudian lahirlah alam semesta.

Ketika Maharaja Lie Yan atau Thai Tsung meninggal dunia, seluruh negeri Cina berkabung, bangsa Cina sangat berduka-cita. Untuk memperlihatkan kesedihan, ada diantara mereka yang menusuki mukanya dengan jarum dan adapula yang menggunduli kepalanya.

Adapula sistem politik yang di tegakkan atas dasar pemujaan terhadap bangsa dan tanah air, seperti yang berlaku di kerajaan Romawi. Dimana memuja bangsa dan tanah air Romawi merupakan prinsip yang menjadi landasan politik di negeri itu.

Bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain hanya di pandang sebagai budak yang harus melayani kepentingan bangsa Romawi. Berdasarkan prinsip itu, kerajaan Romawi memandang rendah semua macam hak dan segala macam pendirian bangsa lain. Menginjak-injak harga diri dan kehormatan manusia, serta menghalalkan segala bentuk kelaliman dan kebengisan.

Perpecahan dan keruntuhan masyarakat mencapai puncaknya di masa kekuasaan Romawi Timur (Byzantium). Kesukaran yang sudah terlampau banyak di derita oleh penduduk. Di tambah lagi dengan keharusan membayar upeti-upeti yang semakin tinggi dan pajak-pajak yang semakin berlipat-ganda.

BACA JUGA :   Pemilu 2024 dan Tantangan Parpol Baru

Oleh karena itu, penduduk sangat benci kepada pemerintah dan sangat dendam serta mengharapkan adanya kekuasaan asing lainnya yang akan memerintah mereka. Berbagai macam pungutan dan denda yang harus di bayar oleh penduduk di rasakan sebagai bencana di atas bencana yang sudah ada.

Karena itu semua terjadilah kegoncangan-kegoncangan hebat di barengi dengan pemberontakan. Dalam keadaan penduduk sangat membutuhkan adanya perbaikan ekonomi. Terdapat orang-orang yang hidup bermewah-mewah sedemikian royalnya hingga sampai kepada titik kemerosotan akhlak yang paling rendah.

Bagi mereka, satu-satunya hal yang paling menjadi perhatian ialah memperoleh kekayaan dengan segala cara, kemudian menghamburkannya untuk berfoya-foya. Hancurlah sudah asas-asas keutamaan dan runtuhlah sudah kaidah-kaidah moral. Keadilan ketika itu di perjual-belikan dan di adakan tawar-menawar seperti barang dagangan. Suap-menyuap dan pengkhianatan memperoleh dorongan dari bangsa Romawi.

Di bawah kekuasaan Romawi pada abad ke-tujuh, Mesir mengalami penindasan hebat selama sepuluh tahun. Selama masa itu terjadi kekejaman-kekejaman yang membangkitkan bulu kuduk.

Doktor Alfred G. Butler berkata :
“Pemerintahan Romawi di Mesir tidak mempunyai tujuan selain satu hal, yaitu menggaruk kekayaan sebesar-besarnya dari rakyat untuk kepentingan orang-orang yang berkuasa. Dalam fikiran pemerintah yang seperti itu, tidak terlintas samasekali tujuan hendak meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ataupun mempertinggi taraf kehidupan rakyat dan tidak pula terlintas tujuan hendak mendidik rakyat.”

Mengenai pemerintahan Romawi di Syam, seorang sejarawan Arab yang berasal dari Syam mengatakan :
“Pada mulanya orang-orang Syam di perlakukan dengan adil dan baik oleh orang Romawi, sekalipun imperium Romawi sendiri sedang menghadapi masalah-masalah yang sukar dan berat. Akan tetapi, setelah Negara itu menjadi dewasa dan kuat, perlakuan baik terhadap orang-orang Syam berbalik menjadi penghambaan dan perbudakan yang amat kejam.”

BACA JUGA :   DPRD Kab. Pultab Tidak Mengetahui Rencana Pelaksanaan Pilkades

Dan mengenai kerajaan Romawi itu sendiri, Robert Briffault mengatakan :
“Yang menjadi sebab pokok runtuhnya negara Romawi bukan kerusakan mental yang berlebih-lebihan. Melainkan karena kerusakan, kejahatan dan tidak adanya persesuaian dengan kenyataan yang mengiringi tumbuhnya Negara itu.

Semua lembaga negara dan kemasyarakatan di dirikan atas dasar landasan yang tidak sehat. Karenanya, lembaga-lembaga itu tidak mampu mempertahankan diri dengan kecerdasan fikiran dan kegiatan apapun juga.

Negara yang berdiri di atas landasan yang rusak seperti itu, pada suatu saat niscaya akan runtuh dan lenyap. Kita telah menyaksikan, Negara Romawi bukan lain hanyalah merupakan alat kesejahteraan bagi satu golongan kecil. Atas resiko rakyat banyak yang di peras dan di hisap darahnya oleh golongan tersebut.

Ketika itu perdagangan di Roma berjalan dengan penuh kejujuran dan keadilan, sifat-sifat yang sebenarnya menjadi watak negara itu. Dalam periode itu, Romawi sedang unggul di bidang kekuatan hukum dan peradilan, juga unggul dalam hal kemampuan dan kesanggupannya. Akan tetapi, semua hal yang baik itu bukan untuk menjaga keselamatan Negara dari akibat-akibat kekeliruan dan penyelewengan fundamental.”

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: