Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tidak Semua Saran Itu Baik

TIDAK SEMUA SARAN ITU BAIK
Oleh: DR. Abdi Kurnia Djohan

Saya serasa hampir mati pada hari Jum’at 2 Juli yang lalu. Pada pukul 01.00 pagi, serangan Covid Delta begitu dahsyat menghantam semua sistem imunitas tubuh saya. Praktis sepanjang malam hingga datang waktu subuh saya tidak bisa tidur.

Tetiba ada WA masuk. Alih-alih memberi saran apa yang harus saya lakukan, isi WA ini memberi saya ceramah tentang Covid. Dalam hati, ” ini orang tega banget, di saat saya sedang butuh support dia malah memberi saya kuliah tentang varian Delta.” Tanpa basa basi, saya langsung tembak dengan pertanyaan, ” apa solusi abang buat saya yang lagi sekarat ini?” Jawaban yang orang itu berikan membuat saya kaget, “jangan minum obat ustadz! Itu hanya akan menambah buruk keadaan.” Walhasil, saya makin mangkel membaca jawaban itu. Bukannya memberi solusi paling tidak memberi motivasi, yang dia sarankan malah jalan mempercepat kematian.”

Sejak jawaban WA yang menurut saya sadis dan tidak berperikemanusiaan itu, saya tidak mau membaca pesan-pesan WA yang dikirimkan orang itu. Akhirnya, pada hari Jum’at sore, seorang pejabat di Kampus UI mengirim saya obat-obatan yang biasa dipakai di RSUI, untuk Pasien Covid. Saya pun langsung meminum obat yang diantarkan staf kampus ke rumah. Alhamdu lillah, ada perubahan yang saya rasakan. Kendatipun demam masih datang menghampiri, frekuensi dan intensitasnya tidak seperti pada malam Jum’at.

Atas pertolongan Allah pula, beberapa orang kawan alumni FHUI menanyakan keadaan saya dan keluarga saya. Mereka pun mengirim obat-obatan yang menurut hitungan saya cukup untuk isoman selama 14 hari, khususnya bagi kami bertiga. Dan yang mengejutkan lagi, malam Sabtu pukul 10.00, seorang alumni FHUI mengirimkan tabung oxygen ke rumah untuk antisipasi jika ada di antara kami yang alami sesak nafas.

BACA JUGA :   Penampilan

Malam Sabtu kemarin, benar-benar berkah bagi kami. Di antara puncak keberkahan itu adalah kami selamat dari analisis-analisis bodong tentang Covid.

Ketika jelang waktu subuh, pemberi saran mematikan itu kembali mengirim WA ke saya. Seperti biasa melampirkan potongan-potongan berita di media online sebagai data mentah analisisnya tentang Covid. Dalam hati, orang ini bukan cuma gak punya otak tapi gak punya hati. Seharusnya dia paham bahwa penderita covid harus diajak berpikir rileks santai dan jangan dijejali info-info yang membuatnya pusing. Seperti biasa, orang ini memberi saran aneh. Yaitu jika mendapat oksigen murni tidak perlu menggunakan tabung oxygen. Ia menyarankan agar saya dan keluarga mencari kebun bambu dan rebahan di tengah-tengahnya. Alasannya, karena bambu mengeluarkan oxygen lebih banyak daripada tumbuhan lain. Ya salam, entah apa maksud orang ini? Kalau bukan dokter, janganlah beropini tentang covid.

Saya pun berlalu saja dari pesan itu. Saya lebih suka dengan saran-saran religi yang menganjurkan bacaan beberapa zikir untuk meringankan beban pikiran daripada saran-saran medis dari orang yang sama sekali tidak punya latar belakang medis atau saran dari bukan mantan penyintas covid yang pengalamannya bisa dijadikan acuan…

Jadi kalau dulu setan datang langsung ke pikiran tanpa melalui teknologi informasi.

Sekarang setan datang melalui berita yang disebut HOAX….

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: