Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sejarah kota solo

Eksistensi kota ini dimulai di saat Kesultanan Mataram memindahkan posisi raja dari Kartasura ke Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Sunan Pakubuwana II membeli tanah tersebut dari Kyai Sala sebesar 10.000 ringgit (gulden Belanda).[8][9] Secara resmi, keraton Surakarta Hadiningrat mulai ditempati tanggal 17 Februari 1745 dan meliputi wilayah Solo Raya dan Wilayah Istimewa Yogyakarta modern. Akhir sebagai akhir suatu peristiwa dari Kontrak Giyanti (13 Februari 1755) dan Kontrak Salatiga (17 Maret 1757) terjadi perpecahan wilayah kerajaan, di Solo berdiri dua keraton: Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, dan di Kesultanan Yogyakarta.

Saat kemerdekaan
Wilayah Istimewa Surakarta
Kekuasaan politik kedua kerajaan ini dilikuidasi setelah berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama 10 bulan, Solo berstatus sebagai wilayah setingkat provinsi, yang dikenal sebagai Wilayah Istimewa Surakarta.

Karesidenan Surakarta
Selanjutnya, karena mengembang gerakan antimonarki di Surakarta serta kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan pejabat-pejabat DIS, maka pada tanggal 16 Juni 1946 pemerintah RI meniadakan DIS dan menghilangkan kekuasaan raja-raja Kasunanan dan Mangkunagaran. Status Susuhunan Surakarta dan Raja muda Mangkunegara menjadi rakyat biasa di masyarakat dan Keraton diubah menjadi pusat pengembangan seni dan muslihat budi Jawa. Akhir Solo dformalkan menjadi lokasi posisi dari residen, yang membawahi Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) dengan luas wilayah 5.677 km². Karesidenan Surakarta terdiri dari daerah-daerah Kota Praja Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukowati, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Boyolali, sedangkan tanggal 16 Juni diperingati sebagai hari berlaku Kota Solo era modern.

Kota Surakarta
Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Sejak berjalannya UU Pemerintahan Wilayah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan wilayah, Surakarta menjadi wilayah berstatus kota otonom.

BACA JUGA :   Logika dan Pikiran

Geografi dan administrasi
Hidrogeologi

Arus sungai Bengawan Solo
Surakarta tidak kekurangan di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Surakarta tidak kekurangan sekitar 65 km timur laut Yogyakarta dan 100 km tenggara Semarang serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu dan Merapi (tinggi 3115m) di aspek barat, dan Gunung Lawu (tinggi 2806m) di aspek timur. Lebih kurang jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes[10]. Mata cairan bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik. Ketinggian rata-rata mata cairan adalah 800-1.200 m dpl. Pada tahun 1890 – 1827 hanya aci 12 sumur di Surakarta. Saat ini pengambilan cairan bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang bertempat di 23 titik. Pengambilan cairan tanah dilaksanakan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol. [11]

Hingga dengan Maret 2006, PDAM Surakarta memiliki kapasitas produksi sebesar 865,02 liter/detik. Cairan baku bermula dari sumber mata cairan Cokrotulung, Klaten (387 liter/detik) yang tidak kekurangan 27 km dari kota Solo dengan elevasi 210,5 di atas permukaan laut dan yang bermula dari 26 buah sumur dalam, selang lain di Banjarsari, dengan total kapasitas 478,02 liter/detik. Selain itu total kapasitas resevoir adalah sebesar 9.140 m3.Dengan kapasitas yang aci, PDAM Surakarta mampu melayani 55,22% masyarakat Surakarta termasuk daerah hinterland dengan pemakaian rata-rata 22,42 m3/bulan.[12]

Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akhir suatu peristiwa keaktifan vulkanik Merapi dan Lawu. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan cairan yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini paling adun kepada budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu. Namun demikian, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata mengembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan kepada cara industri dan perumahan masyarakat.

alambae (90)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: