Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Fiksi Mini-Nada untuk Luka

Tepat sudah tiga tahun aku terus memelihara luka itu. Dengan nada-nada yang kuciptakan sendiri, aku mencintainya dengan sepenuh hati. Merawatnya dengan musik paling luarbiasa yang pernah kudengar. Dan kunamai suara-suara itu dengan nada kematian.

Seperti ini ceritanya. Tepat tiga tahun yang lalu, aku mengenal seseorang yang selalu mampu membuatku menciptakan musik yang indah. Kehadirannya dalam hidupku selalu membuat hari-hari sangat menyenangkan. Dan berkat dia, kemampuanku menciptakan nada-nada yang indah meningkat tajam. Hampir setiap hari aku ingin terus berada di dekatnya. Bahkan aku sudah berencana untuk memilikinya selamanya.

Namun, siapa yang menyangka pada akhirnya aku akan benar-benar melepasnya. Sungguh ini adalah perpisahan yang paling membuatku ingin mengakhiri hidupku. Atau bisa saja ini hanya penyesalan di awal. Atau aku belum sepenuhnya bangun dari tidur yang panjang.

Malam itu, sebuah mahakarya yang tercipta dari redup matanya yang menenangkan,akan kutunjukkan pada dunia. Nada-nada yang mengisahkan betapa besar rasa cintayang kumiliki untuknya. Aku ingin dunia tahu jika keberhasilanku adalah kerja keras dari dia yang selama ini begitu nyaman di sampingku. Aku juga ingin dunia menyadari jika ada seseorang yang selama ini membuatku dikagumi dunia. Dan dia yang berdiri di sampingku. Yang menopang ketika dunia tidak menerima apa yang tengah kulakukan. Maka dia hadir dalam setiap nada-nadaku. Meski begitu kehadirannya tidak pernah membuatku bosan. Tidak ada sedikit waktu yang kumiliki untuk menyisihkan dirinya dari sisiku. Namun malam itu, kukorbankan dirinya sendiri untuk ambisiku yang berkobar.

Dan siapa yang menyangka jika pada akhirnya, dia membuatku menjadi manusia fanatik? Kehadirannya seperti candu yang ingin terus-menerus kurindukan. Dan kehilangannya membuatku mati. Akan tetapi kuhidupkan dia lewat lagu-lagu yang kugubah. Dalam nada-nada itu terselip jiwanya yang terus hidup meski sejujurnya dia telah lama tidak ada di sampingku.

BACA JUGA :   Saat Suara Azan Memanggil

Dulu, seseorang pernah bilang jika musikku adalah cara paling cepat untuk mengakhiri hidup. Dan sekarang baru kurasakan setelah dia pergi.

Aku masih nyaman dengan pilihan-pilihan itu. Aku masih dengan nadaku. Sejak tiga tahun yang lalu, tidak pernah terpikirkan olehku untuk membuat lagu lain.

“Terlalu bodoh bagimu untuk hidup dalam luka,” ucap seorang sahabat suatu waktu.

Aku tersenyum sebelum menjawab.”Tidak. Aku justru tengah berusaha merawat kenangan dengan baik. Kau tahu bagaimana rasanya kesepian?”

“Justru karena itu hidupmu terlihat sangat miris. Kau mengejek dirimu sendiri. Kaulah sepi itu,” ejeknya tanpa sensor.

“Kesepian adalah caraku merawat semua itu. Aku tidak perlu orang lain datang untuk memberi penghiburan. Cukup dengan mengulang nada-nada ini, maka aku akan merasakan begitu banyak yang akan menghiburku. Dia hadir lewat nada ini dan aku tidak ingin mengusaikan itu,”jelasku. Kata-kata itu berhasil membuatku tertegun. Perlahan kumainkan jemari mengiringi lagu yang paling kusenangi di seluruh bumi. Dia hadir. Dia tersenyum, sebelum kemudian sirna. Hatiku kembali hampa.

Apakah itu luka?

Benarkah dengan mempertahankannya ada dalam diriku akan membuatku hidup dalam kesia-siaan?

Aku tidak paham bagaimana itu. Hatiku terasa nyaman saat dia hadir lewat lagu-lagu itu. Namun hampa setelahnya.

“Hidupmu tidak akan berlanjut jika kau tetap hidup dalam memori usang yang seharusnya telah kau usaikan,” ucap temanku.

Aku terdiam cukup lama. Mencoba mencerna tujuan dari kata-kata itu. “Sudah berapa lama?” tanyaku seoleh tersadar dari mimpi yang panjang.

“Sejak kau menganggap jika hidupmu akan berhenti sampai di sana.”

Mataku berembun. Di sudut terjauh kulihat kenangan itu tengah bersedih pilu. Hanya saja,aku harus menentukan pilihanku selanjutnya. Merawat luka itu seperti sedikala atau pergi dan memulai sesuatu yang baru.

BACA JUGA :   Musik Kenangan Sang Kekasih

Nada-nada berbisik pilu di telingaku. Dia ingin kembali. Merajut hari-hari seperti dulu. Hanya saja, perlahan kusadari bahwa aku harus menciptakan lagu baru. Lagu yang bisa membuatku lebih cinta dengan apa yang kusebut hari esok.

Perawang, 16 September 2021

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: