• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Raden Mas Walangsungsang, Banyak yang Percaya Masih Hidup Meski Ada Makamnya

TRIBUNJABAR.CO.ID, CIREBON – Selain Syekh Dzatul Kahfi atau Syekh Nurjati, penyebaran agama islam di tanah Cirebon tak lepas dari sosok Mbah Kuwu Sangkan Cirebon.

Mbah Kuwu Sangkan Cirebon atau Raden Mas Walangsungsang ini adalah sulung dari Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subang Larang.

Banyak orang yang masih mempercayai jika Mbah Kuwu Sangkan belum, meski bentuk fisik makamnya ada di beberapa tempat. Seperti di Gunung Sembung, Desa Astana yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Sunan Gunung Jati dan di Kampung Girang, Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Petilasannya bahkan sampai di tanah Dieng, Jawa Tengah.

Mbah Kuwu Sangkan ini konon masih sering mengembara. Mengunjungi tempat-tempat di mana dulunya ia pernah berdakwah dan mensyiarkan agama Allah.

Diantaranya, Majalengka, Kuningan, Indramayu, Sumedang, Subang, Bogor, Banten, Garut, Karawang bahkan hingga ke Madura untuk mengunjungi Makam Mbah Kholil.

Pengembaraan Mbah Kuwu Sangkan juga dinilai cukup unik. Mbah Kuwu Sangkan seringkali menyamar menjadi orang biasa yang mengaku dirinya adalah seorang musafir.

Namun, orang yang mampu melihat sosok Mbah Kuwu Sangkan ini merasakan adanya ilmu yang tidak biasa berada dalam diri Mbah Kuwu Sangkan.

“Orang-orang pintar (yang diberi kelebihan khusus) masih sering bertemu dengan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon. Mereka menganggap jika Mbah Kuwu Sangkan Cirebon belum wafat. Beliau memang Manusia Turun Sanghyang yang katanya enggak akan wafat sampai hari kiamat,” ujar Tohir (51) Juru Bicara Makam Kramat Talun Pangeran Cakrabuwana Mbah Kuwu Sangkan Cirebon kepada Tribun, Selasa (6/6).

Mbah Kuwu Sangkan juga terkenal akan kesaktiannya. Kesaktian yang dimilikinya diantranya Ajian Cakrabirawa, Ajian Pancawarna Tunggal Jati, Aji Waringin Sungsang dan sebagainya.

Ajian-ajian inilah yang mampu menguatkan dakwahnya untuk menyebarkan islam jika diganggu oleh-oleh musuhnya.

BACA JUGA :   Melihatmu Saja Membuatku Bahagia

Selain seorang waliyullah, Mbah Kuwu Sangkan juga seorang Umaroh, kepala pemerintahan. Ia sempat menjadi seorang raja di Kerajaan Caruban atau Cerbon pada sekitar 1445 M.

Saat memimpin kerajaan itu, usianya bahkan belum genap 22 tahun. Meski demikian, ia mampu memegang kendali kerajaan hingga 38 tahun lamanya. Ia dikenal sebagai salah satu raja yang kuat dalam sejarah islam Jawa Barat.

“Selain jadi Raja dia juga jadi Kuwu ke II Cerbon. Sebelumnya pada usia 17 tahun ia dan adiknya Lara Santang dan Kian Santang lari karena diusir dari Pajajaran akibat meluk agama Allah,” kata Tohir.

Mbah Kuwu Sangkan, kata Tohir, kemudian lari ke Alas Banten. Tepatnya di wilayah yang kini didiami suku Baduy yang konon adalah keturunan asli dari Mbah Kuwu Sangkan.

Setelah menetap cukup lama di alas Banten, Mbah Kuwu Sangkan kemudian menemui Sanghyang Danuarsi di Gadog, Garut.

Disanalah Mbah Kuwu Sangkan berguru kepada Sanghyang Danuarsi yang merupakan penasehat Kerajaan Galuh. Sanghyang Danuarsi pun kemudian menikahkan Mbah Kuwu Sangkan dengan putri satu-satunya, yakni Endang Geulis.

“Dari pernikahan itu, Mbah Kuwu Sangka mendapatkan seorang putri. Namanya Dewi Pakungwati. Yang besarnya menikah dengan keponakan Mbah Kuwu Sangkan. Yaitu Sunan Gunungjati,” katanya.

Untuk menyempurnakan agamanya, Mbah Kuwu Sangkan oleh Sanghyang Danuarsi diminta untuk menemui Syekh Dzatul Kahfi atau Syekh Nurjati di Amparan Jati atau yang disebut Gunung Jati.

Usai berguru dengan Syekh Nurjati ia disuruh untuk pergi menunaikan ibadah haji dan diberi gelar Syekh Mursyahadatillah atau Somadullah.

“Nah setelah pulang ibadah haji, beliau bertemu dengan guru ngajinya, Syekh Bayanullah. Beliau diberi gelar nama Haji Abdul Iman. Dan kemudian kembali ke Kampung Girang mengajarkan ngaji disini. Ini rumah singgahnya beliau (bangunan makam). Karena menjadi Kuwu kedua di beri gelar Mbah Kuwu Sangkan,” ujar dia.

BACA JUGA :   BERJUANG MENEMBUS KEMUSTAHILAN

Menurut Tohir, banyak yang mempercayai jika Mbah Kuwu Sangkan adalah pendiri pertama Keraton Cirebon yang sebelumnya nama keratonnya adalah Keraton Pakungwati dengan Kerajaan Caruban, meski begitu yang berhasil membuat keraton tersebut berubah menjadi kesultanan adalah Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dan menjadi pengganti Mbah Kuwu Sangkan dari tahtanya.

“Sunan Gunung Jati yang kemdian menggantikannya. Sedangkan Mbah Kuwu Sangkan masa tuanya dihabiskan untuk mengembara. Dan katanya wafat pada 1529 M.

Makam aslinya entah disini atau di Gunung Sembung enggak ada yang bisa membuktikan persis. Apalagi kan banyak beliau belum wafat,” katanya.

Jika peziarah ingin ke Makam Kramat Talun Mbah Kuwu Sangkan Cirebon, jaraknya hanya sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Cirebon. Tepatnya, berada di Kampung Girang, Desa Cirebon Girang, Kabupaten Cirebon. Setidaknya butuh waktu sekitar 30 menit jika menggunakan kendaraan roda empat.

Bangunan Makam Kramat Talun Mbah Kuwu Sangkan sisi-sisi pagarnya didominasi warna merah dengan tumpukan bata-bata khas arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon. Ada tiga gerbang untuk masuk ke halaman utama Makam Kramat Talun Mbah Kuwu Sangkan.

Ketiga gerbang tersebut berada di sisi Barat, Selatan dan Utara. Namun, kebanyakan orang-orang cenderung masuk melalui gerbang utama yang didepannya terdapat seekor patung macan putih atau gerbang disisi Barat.
Saat masuk ke halaman utama, tepat sebelah kanan terdapat sebuah bangunan yang disebut pendopo. Pendopo ini yang sering digunakan peziarah untuk beristirahat atau juga berkumpul dengan peziarah lainnya.

Untuk masuk kedalam bangunan utama, ada sebuah gerbang lagi tepat disamping gerbang masuk ke halaman utama yang berada di sisi utara. Gerbang masuk ke bangunan utama ini cukup unik. Di depan gerbang terdapat patung seekor macan putih dengan patung senjata kujang dan seekor kerbau warnanya putih kemerahjambuan.

BACA JUGA :   Puisi: Cerita Ngawur

“Patung ini adalah perwujudan peliharaan Mbah Kuwu Sangkan. Peliharaan beliau namanya adalah Macan Samba dan Kebo Dongkol Bule Karone,” ujar Tohir.

Berbeda dengan pagar dan gerbang bangunan makam yang dicat merah. Bangunan utama dimana Makam Mbah Kuwu Sangkan ada justru bercat warna hijau. Konon, warna hijau ini merupakan warna favorit dari Mbah Kuwu Sangkan.

Saat masuk ke bangunan utama, lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar lirih dibacakan. ternyata berapa peziarah dari berbagai wilayah di Jawa Barat tengah melakukan tadarus Alquran di ruangan yang sering digunakan untuk tempat salat.

“Hampir setiap hari banyak yang menginap disini, berziarah disini. Kebanyakan merekanyang datang kesini ingin nasibnya seperti Mbah Kuwu. Ya jadi kuwu dan raja. Intinya biar jabatannya panjang,” katanya.

Makam Mbah Kuwu Sangkan sendiri ditutupi tembok dengan diberi pintu dan temboknya ditutup kain berwarana biru. Sedangkan pintunya diberi hordeng kain berwarna hijau.

Di luar tembok pembungkus makam, ada sekitar enam kuburan. Kuburan-kuburan itu adalah kuburan kuncen-kuncen penjaga Makam Mbah Kuwu Sangkan.

“Kalau peziarah hanya boleh berdoa atau baca tahlil diluar dinding. Ada juga yang diluar yang ada batunya itu. Itu batu dulunya tempat duduk beliau saat mengajari ngaji anak-anak muda di Kampung Girang,” katanya seraya jika menyebut jika makam selalu ramai saat hari-hari Kliwon atau saat Muludan. (*)

Djuan Revi (161)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!

Djuan Revi

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *