• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Asmara Hasan dan Ten Leo Nio, Mencoba Merangkai Kisah Kelam Etnis Tionghoa di Batavia Pada Abad 17

ByAgus Yanto

Sep 14, 2021

As
Satu lagi film berlatarbelakang budaya Tionghoa akan segera hadir menghiasi layar bioskop. Judulnya “Tan Len Nio Genosida 10.000 Tionghoa di Batavia” (tentatip).

Film berdurasi 60 menit ini dikemas dalam format multi media yang menampilkan seni pertunjukkan drama, tari, dan musik.

Film yang melakukan syuting di Jabodetabek ini mengisahkan cinta sepasang manusia, Hasan dan Tan Len Nio.

Hasan berasal dari suku Betawi yang bekerja sebagai buruh kuli panggul di pelabuhan Sunda Kelapa.

Sedangkan sang gadis memiliki darah Tionghoa dalam tubuhnya. Dia bekerja sebagai penjual Bakpao di kawasan Kota Tua Jakarta.

Tan Len Nio, merupakan salah satu anggota komunitas Cina Benteng. Warga Tionghoa yang dulu tinggal di kawasan sepanjang pinggiran kali Cisadane, Tangerang.

Kisah cinta Hasan dan Tan Len Nio, bersemi di sebuah perguruan tinggi eksklusif kenamaan, yang sebagian besar mahasiswanya adalah suku Tionghoa.

Hasan dan Tan Len Nio hampir mustahil dapat kuliah di perguruan tinggi elite bila tidak ditopang beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebuah lembaga yang memberi beasiswa untuk pelajar Indonesia.

Tan Len Nio, merupakan salah satu anggota komunitas Cihna Benteng. Warga Tionghoa yang dulu tinggal di kawasan sepanjang pinggiran kali Cisadane, Tangerang.

Keluarga Tan Len Nio, dan nenek moyangnya, turun-menurun telah tinggal di wilayah tersebut sejak 1740 setelah tragedi Perang Batavia.

Seperti kebanyakan suku Tionghoa Benteng, keluarga Tan Len Nio berada dalam kondisi ekonomi yang tidak mencukupi.

Warga di kampungnya kebanyakan berprofesi sebagai penggali dan penjaga makam, buruh cuci pakaian, dan pekerja kasar lainnya.

Tan Len Nio sejak kecil yatim. Hidup bersama ibunya yang hanya mengurus rumah tangga sambil berjualan Bakpau.

BACA JUGA :   Wisata Ancol Resmi Dibuka Mulai Hari Ini, Pengunjung Wajib Vaksin, Anak-anak Belum Boleh Masuk

Tak jarang keluarga Tan Len Nio terpaksa meminjam uang kepada rentenir dengan bunga besar hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Menurut Eddie Karsito, salah satu pegiat seni yang terlibat di film ini, kisah cinta Hasan dan Tan Len Nio ini menjadi pesan universalitas cinta kemanusiaan sejati.

Kisah yang akan mengena di hati, bagi siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.

Katanya, Ccnta sejati Hasan dan Tan Len Nio tidak memiliki akhir. Sebab cinta senantiasa hidup dan menginspirasi.

Eddie yang juga Sekjen Forum Wartan Hiburan (Forwan) ini menambahkan, kisah asmara dua sejoli berbeda kultur tersebut sebagai promosi seni dan budaya Indonesia yang berbasis pada kearifan lokal.

Sementara itu, film-film lainnya yang mengangkat budaya Tionghoa sebelumnya telah banyak diproduksi, sebuat saja Cau Bau Kan yang dibintang Remi Silado.

Juga film kolosal perjalanan Laksamana Cheng Ho dari Negeri China ke Nusantara yang didukung Yusril Ihza Mahendra.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *