• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Asal mula danau Toba

Ingkar janji dan amarah. Inilah yang menjadi pokok persoalan legenda Danau Toba. Danau terdalam dan terluas di Indonesia yang terletak di Tanah Batak, Provinsi Sumatera Utara. Disebut ingkar janji, seperti ditulis kemenparekraf.go.id, bahwa seorang pemuda Toba telah berjanji dengan seekor ikan emas besar yang menjelma jadi putri cantik, pada saat akan menikahinya, untuk tidak mengungap asal usulnya.

Namun, Toba yang seorang petani yang senang memancing ikan di sungai itu lupa akan janjinya. Disebutnya, bahwa ibu dari anaknya yang bernama Samosir adalah ikan emas. Penyebutan itu spontan karena emosi dan amarah yang amat sangat memuncak, lantaran perlakuan anak yang memakan nasi yang diperuntukan buat Toba, sang ayah yang sedang bekerja di ladang.

Oleh Samosir, karena perut sedang lapar. Lagian jauhnya berjalan dari rumahnya menuju ladang, tempat ayahnya Toba berladang, nasi itu langsung di makan di tengah jalan. Samosir sehabis makan langsung menuju ladang, tempat ayahnya bekerja.

Nasi baannya dari rumah sudah habis. Tak bersisa sedikit pun. Samosir hanya bercerita kalau nasi untuk ayahnya habis. Toba tentu marah dan bengis. Sudah capek bekerja, lama menunggu, nasi yang seharusnya dia makan saat istirahat bekerja, malah dihabiskan oleh anak kandungnya, Samosir.

Amarah memuncak. Toba untungnya tak main tangan menampar anaknya. Tapi, mulutnya bicara. “Oi, kau anak ikan emas. Atau, ibu kau adalah ikan emas,” kata dia dalam melampiaskan marahnya seketika.
Padahal, Toba sudah berjanji dengan ibunya Samosir pada saat akan menikahinya. Janji, Toba tidak akan mengungkap asal usul istrinya kepada siapa pun juga. Oleh Toba, janji dipegang erat. Terjadilah pernikahan antara Toba dan ikan emas yang sudah menjelma jadi seorang gadis manis nan elok parasnya itu.

BACA JUGA :   PEREMPUAN DALAM HUJAN HUJATAN (Tinjauan Kritis Beban Perempuan Dengan Anak Penyandang Disabilitas

Sontak, Samosir bingung dan tercengang apa yang diungkapkan oleh ayahnya itu. Suasana pun berubah. Hari yang awalnya panas yang lumayan terik, berubah menjadi kelam. Petir pun saling bersahutan, mengundang awan yang bergumul di atas langit yang tinggi.
Berhari-hari setelah kejadian itu, hujan tak pernah henti-hentinya turun dari atas langit. Banjir pun tak dapat dielakan, sehingga membentuk sebuah danau, yang kini bernama Danau Toba. Di tengahnya terletak sebuah pulau, Samosir namanya.

Berangkat dari cerita rakyat itu, tentu kearifan lokal jadi landasan kuat di tengah masyarakat Danau Toba demikian. Orang Minang menyebutkan, laut sati rantau bertuah. Artinya, danau yang begitu indah dan mempesona dipandang mata, adalah karunia Tuhan yang mempunyai nilai-nilai kesaktian, yang tidak boleh dipandang enteng oleh manusia.
Apalagi dengan rasa sombong dan gembira yang berkelebihan pada saat menempuh dan mengarungi Danau Toba.

Ada cerita bahwa tiap tahun danau itu minta tumbal dan segala macam yang berbau mistik. Memang hal demikian sulit untuk dibuktikan, namun realita dan kenyataannya ada dan benar. Ada saja peristiwa yang menakjubkan yang nyaris tiap tahun terjadi di selingkaran danau itu.

Tentunya, tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti para wisatawan yang datang ke sana. Melainkan, untuk selalu berhati-hati dan selalu ingat akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Perkuat dan gunakan kearifan lokal setempat, agar perjalan wisata kita selamat dan membuahkan hasil yang terasa sepanjang hidup.

Tak heran, danau terbesar kedua setelah Danau Viktoria di Afrika ini memiliki potensi yang amat besar. Suguhan budaya Batak di Pulau Samosir menambah daya tarik tersendiri membuat wisata ini masuk ke dalam kelas dunia. Kuatlah, kalau Danau Toba adalah wisata alam dan budaya, yang menuntut kita untuk terus menggali sejarahnya.

alambae (90)

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *