• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Segenggam Cinta Untuk Ayah Season 2

Masih ku ingat saat kau melambaikan tanganmu ke arahku. Aku masih tidak percaya bahwa itu pertemuan terakhirku bersamamu. Saat ini aku baru mengerti kenapa aku menangis saat melihat ayah melambaikan tangannya padaku dan tersenyum lemah. Itulah lambaian perpisahan. Andai waktu masih memihakku akan ku ukir kenangan indah bersamamu dalam sebuah batu yang takkan lapuk. Tetapi itu hanyalah harapan yang kini tak mungkin menjadi kenyataan. Penyesalan selalu datang terlambat, dulu aku selalu menghiraukanmu bahkan aku sempat berpikir buruk tentangmu. Apalagi saat aku melihatmu bertengkar dengan ibu. Yang ku lakukan justru berlari pergi meninggalkanmu dan menemui ibu. Usia ibu yang masih terlalu muda untuk membina rumah tangga membuat ia belum bisa memahamimu. Tetapi aku juga tidak bisa menyalahkan ibu begitu saja.
Kenapa harus ada peraturan yang membuatku menyesal??? Kenapa anak kecil tidak diperboleh masuk ke dalam rumah sakit??? Tempat yang selama ini ku kira hotel, ternyata adalah rumah sakit. Tempat di mana terakhir kalinya aku melihat ayah. Dari kejauhan.
Malam yang indah
Tak seindah senyum di bibirmu
Eloknya bintang yang bersinar
Tak se-elok kasih sayangmu padaku
Kini sang penerang malam mulai menampakkan wujudnya
Tetapi kenapa kau justru menghilang diantara gelapnya malam
Kala sang rembulan mengucapkan selamat malam
Kenapa kau justru mengucapkan selamat jalan
Ayah…
Mengapa kau pergi meninggalkanku seorang diri
Dimana janji manis yang selalu kau ucap
Mana kasih sayangmu yang dulu tak henti menghangatkan tubuhku
Kini yang ku temui hanya kesunyian malam
Oh Tuhan….
Mengapa ini harus terjadi padaku
Mengapa malam yang sunyi harus jadi saksi kerinduanku pada ayahku
Kerinduanku ini telah melilitku hingga air mata tak henti menetes dari mataku
Ayah….
Akan ku coba menerima kenyataan ini walau perih
Mungkin ini memang sudah suratan takdir Sang Pemilik Jagad Raya
Ayah…
Kan ku sebut namamu disetiap doaku
Walau jagad memisahkan
Tetapi disetiap langkahku selalu ada bayangmu
Aku yakin doaku akan jadi pengantarku untuk bersatu denganmu di surga –Nya suatu saat nanti

BACA JUGA :   Sibuk sama Masa Depan

Hal yang paling menyakitkan saat aku mendengar ayah telah menutup mata untuk selamanya. Aku baru tahu, mungkin ini memang yang terbaik untukku. Walau aku telah mempunyai pengganti yang mungkin lebih baik darimu, tapi aku selalu mendoakanmu. Mungkin ini awal hidup yang baru, aku tak mungkin terpuruk dalam kesedihan ini. Walau tak bisa ku pungkiri aku masih mengharapkan kehadiranmu. Saat ini kebahagiaan ibu yang terpenting. Senyum dan tawa yang terukir dari bibirnya yang sangat berharga. Semoga saja aku bisa mempertahankan senyum dan tawa itu untukmu ayah dan untuknya seseorang yang telah melanjutkan tugasmu. Seseorang yang kini ku panggil dengan sebutan “ayah”.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *