• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Segenggam Cinta Untuk Ayah Season 1

Aku lahir tak sesempurna malaikat di surga-Nya
Kau lah yang membantuku menjadi sempurna
Aku ingat jerih payahmu selama ini
Menghidupiku seorang diri
Meski saat ini kau tak lagi disampingku
Tetapi kau selalu ada dipikiranku
Kan ku ceritakan pengorbananmu pada semua orang
Hingga semua orang tahu betapa besar kasih cintamu padaku
Aku memang lahir dari keluarga yang tak terpandang. Bahkan ayahku bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional. Suatu hari ayahku mengidap penyakit yang sangat parah. Hingga ibuku tak dapat menahan air matanya. Saat itu aku masih berusia 5 tahun. Apa yang ku tahu tentang penyakit yang sedang menggerogoti kesehatan ayahku. Yang ku tahu hanya ayahku ingin beristirahat dari pekerjaan, itu juga hanya kesimpulanku sendiri. Ibu tidak pernah menceritakan apapun tentang penyakit ayah padaku. Entahlah mungkin memang ini yang terbaik untukku saat itu. Hampir semua dokter ia kunjungi untuk mengobatkan ayah. Tetapi itu sia-sia, ayah tak kunjung sembuh. Hingga kami harus kembali ke kota kelahiranku, Kota Pahlawan, Surabaya.. Dan meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi. Meninggalkan segala kenangan indah di kota tempat tinggalku. Meninggalkan seribu luka yang selama ini dipendam oleh ibu seorang diri. Ya, mau bagaimana lagi? Kami tidak punya sanak saudara di sini. Dan ibu tidak sempat menceritakan kondisi ayah pada orang lain, hanya untuk sekedar menghilangkan sedikit beban yang selalu memeras pikirannya. Yang ibu tahu saat itu hanya kesehatan dan pengobatan untuk ayah. Bahkan aku harus meninggalkan sahabat kecilku yang selalu menemaniku. Yang menjadi sumber kebahagiaan dan tawaku saat ibu sibuk mengurus ayah.
Saat kami sudah tinggal selama beberapa hari di Surabaya. Aku mulai merasakan kesepian. Saat itu aku benar-benar tak mengenal ibuku. Di pagi hari ibu berangkat ke suatu tempat bahkan biasanya sampai menginap di sana. Dia hanya akan pulang untuk mengambil pakaiannya dan pakaian ayah lalu kembali ke suatu tempat. Saat itu secara tidak sengaja aku melihat ibuku sedang merenung di teras dengan pandangan kosong dan saat itu juga aku melihat ada butiran air yang membasahi pipi ibuku. Oh Tuhan, itu air mata. Ibuku menangis. Aku segera menghampirinya dan bertanya.
“Ibu kenapa? Ibu sakit?” tanyaku.
Hanya kata-kata itu yang bisa ku ucapkan saat melihat kondisi ibu yang semakin terpuruk. Lagi pula hanya kata-kata itu yang ada di otakku. Wajar saja saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami semua kejadian yang terjadi. Saat itu ibu tidak menjawab dan memelukku dengan erat. Andaikan saat itu aku sudah menginjak masa remaja, pasti aku akan bertanya pada ibu siapa yang sudah menyakitinya dan membuatnya menangis. Aku lupa bahwa berandai-andai saja tidak akan mengubah jalan hidup yang sudah digariskan.
“Ibuu…” kataku lirih.
Saat itu aku merasakan beberapa butir air yang mengenai pundakku. Ya, itulah air mata ibu yang saat itu membuat bajuku basah.
“Ibu enggak apa-apa kok.” Kata ibu sambil tersenyum dan mencium keningku.
Aku baru ingat, sudah beberapa minggu ini aku tidak bertemu dengan ayah. Sekedar mendengar suaranya pun tidak. Bahkan aku tidak bertanya pada ibu dimana ayah sekarang. Akhirnya saat itu juga ku putuskan untuk bertanya pada ibu.
“Ayah kemana Bu? Kok enggak pernah main sama Kia?”
“Ayah sedang berada di suatu tempat.”
“Apa Ayah kerja? Apa ayah enggak sayang lagi sama Kia?”
“Kia, ayah sedang berjuang untuk Kia. Ayah juga sayang sama Kia.”
“Apa Kia boleh ketemu Ayah?”
Ibu hanya tersenyum dan mengangguk padaku.
Saat itu juga aku, ibu dan pamanku bergegas menuju tempat ayah sekarang. Aku sangat senang bisa bertemu ayah. Di perjalanan aku menceritakan segala hal tentang teman – teman baruku dan sekolah baruku pada ibu. Bahkan aku bernyanyi dengan riangnya. Dan saat itu juga aku hanya melihat ibu tersenyum. Dulu sebelum kami pindah, setiap ibu melihat aku bertingkah seperti itu ibu selalu tertawa lepas. Tapi sekarang semuanya berbeda. Ada sebuah ukiran indah di bibir ibu yang selalu ku rindukan yaitu tawa yang membuatnya terlihat lebih cantik dan memukau.
Sesampainya di tempat itu, aku melihat gedung yang sangat tinggi. Saat itu aku berpikir itu adalah sebuah hotel. Seperti yang ku lihat di televisi. Aku segera bertanya pada ibu.
“Ibu, apa ayah tinggal di hotel ini?” Tanyaku.
“Iya, ayah berada di sana.”
Ibu menunjukkan sebuah kamar di lantai 3 dengan dekorasi yang sederhana dan bercat putih.
“Ibu akan segera menemui ayah. Kamu di sini saja bersama paman.” Sambung ibu.
Aku sangat terkejut mendengar perkataan ibu. Kenapa aku tidak boleh menemui ayah? Apa ayah memang sudah melupakan aku? Apa ayah sudah tidak menyayangiku?
“Apa Kia enggak boleh ikut? Apa ayah enggak sayang lagi sama Kia?” tanyaku sambil menahan air mataku yang memberontak ingin keluar.
“Tidak sayang. Hanya saja di sini peraturannya anak kecil tidak boleh masuk. Jadi kamu tunggu di sini saja sama paman.”
“Tapi Kia pengen ketemu ayah.” Kataku sambil melihat kamar ayah.
“Ibu janji padamu, nanti setelah ibu sampai di atas ibu akan menyuruh ayahmu untuk menyapamu. Bagaimana?”
Aku hanya mengangguk sambil berwajah murung dan tiba – tiba air mataku menetes. Aku menangis.
“Sayang, suatu saat nanti kamu pasti bisa ketemu sama ayah dan main sama ayah lagi. Sekarang ayah sedang berjuang untuk kamu.” Kata ibu sambil menghapus air mataku.
“Aku akan menunggu ayah, Bu.” Kataku sambil tersenyum.
Setelah itu aku melihat ibu pergi. Dan selang beberapa menit aku melihat ibu dan ayah di jendela lantai tiga yang sedang melambaikan tangannya padaku. Saat itu aku sangat senang dan tersenyum. Saat itu juga tanpa terasa air mataku menetes. Dan saat itu aku tidak mengerti apa yang menyebabkan aku menangis.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Harapanku Di Malam Tahun Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *