• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Kanvas Dan Pensil Ajaib

Di siang hari matahari bersinar sangat terik, terlihat seorang pemulung sedang mencari sampah plastik di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Setelah ia mencari-cari sampah plastik, ia hanya menemukan sedikit. Pemulung itu bernama Dewi dengan rambut yang panjang dan kusam serta tubuh yang kurus.
“bagaimana ini apa yang harus aku makan hari ini??”
Tanpa ia sadari ia telah menginjak sesuatu. Akhirnya ia melihat ke bawah dan menemukan sebuah kanvas dan pensil. Dewi pun membawa kanvas dan pensil itu pulang. Sesampainya di rumah, Dewi merasa perutnya sangat lapar. Tapi apa boleh buat uangnya hanya cukup untuk membeli makanan untuk adiknya yang bernama Dila. Ia tak tega jika melihat adiknya kelaparan. Untuk melupakan rasa lapar ia menggambar ayam goreng yang hanya dapat dimakannya sebulan sekali. Itu saja kalau uangnya cukup. Setelah selesai menggambar ayam goreng di atas kanvas tiba-tiba di sebelah kanvas itu ada ayam goreng yang terlihat sangat lezat. Ia pun mulai bingung darimana datangnya ayam goreng ini.
“dari mana datangnya ayam goreng ini?? Apa dari kanvas ini?? Tapi tak mungkin seperti di dongeng saja”
Akhirnya Dewi mencoba menggambar lagi, ia menggambar tas sekolah untuk adiknya. Selang beberapa detik di samping kanvas ada tas mirip yang ia gambar. Percaya tak percaya ia harus tetap percaya dengan apa yang ia lihat. Ia pun memanggil adiknya.
“Dila, ini ada tas untuk sekolah besok??” kata Dewi dengan senang.
“terimakasih Kak, apa hanya tas saja. Sepatuku sudah tak layak pakai apa Kakak mau membelikan sepatu untukku??” tanya adiknya.
Tanpa berpikir panjang ia langsung menyanggupi apa yang adiknya inginkan.
“Kakak pasti akan membelikan semua yang kamu inginkan. Tunggu saja besok saat kamu bangun semua yang kamu inginkan pasti ada di sampingmu”
Setelah itu, Dila berkata apapun yang ia inginkan bahkan rumah yang besar dan megah seperti istana pun ia sebutkan.
Suara ayam berkokok telah membangunkan Dila dari tidur pulasnya. Dila terkejut melihat semua barang yang ia inginkan berada di sampingnya. Bahkan sekarang ia berada di sebuah kamar yang sangat besar dan indah serta dipenuhi boneka. Dila semakin bingung dimana ia sekarang. Ia pun berlari keluar kamar dan mencari kakaknya yang sedari tadi tak terlihat. Dila semakin bingung rumah ini terlalu besar baginya hingga membuatnya bingung.
“Kak… Kak Dewi.. Kak Dewi dimana??”
Terlihat seseorang yang sedang memasak di dapur.
“kau sudah bangun?? Segera mandi dan makan!!” kata wanita itu.
“kau siapa??” tanya Dila
“ini Dewi kakakmu. Apa kau sudah lupa??”
Sekarang Dewi terlihat cantik, rambutnya lurus dan bersih. Bahkan adiknya pun bingung melihat kakaknya yang tampak cantik.
Setelah beberapa hari, sifat Dila semakin berubah. Ia sangat sombong dan semaunya sendiri. Bahkan kakaknya pun tidak mengenali sifatnya lagi. Ia terlalu manja apapun yang ia inginkan harus terpenuhi.
Malam semakin larut, Dewi yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang indah. Ia sedang memandangi foto-foto saat ia bersama adiknya. Saat sifat adiknya tak berubah, saat semuanya masih sederhana. Hal yang ia pikir baik justru menjerumuskan adiknya menjadi sombong dan semaunya sendiri. Andai saja waktu bisa terulang Dewi tak ingin kemewahan ini, ia hanya ingin adiknya kembali seperti dahulu. Tanpa Dewi sadari matanya terasa berat dan akhirnya ia tertidur dalam kebimbangan yang menghantuinya. Dalam tidur lelapnya ia bermimpi, ada seorang peri yang mendatanginya.
“siapa kau??” tanya Dewi kepada peri itu.
“aku peri yang membantumu lewat kanvas dan pensil ajaib yang kau temukan di TPA”
“lalu mengapa kau ke sini??”
“aku hanya ingin meminta pertanggungjawabanmu. Kau sudah menggunakan kanvas dan pensil ajaib untuk keburukan”
“apa salahku??”
“apa kau tak menyadari?? dengan kau memanjakan adikmu menuruti semua yang ia inginkan membuat adikmu berubah. Ia sekarang sangat sombong, semaunya sendiri dan semena-mena pada rakyat kecil”
“aku mengerti itu semua memang salahku. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mengembalikan kanvas dan pensil ajaibmu dan aku ingin hidup normal seperti dulu.”
Dewi pun memberikan kanvas dan pensil ajaib kepada peri itu. Yang ia inginkan hanya hidup normal seperti dahulu.
Tiba-tiba Dewi terbangun dari tidurnya ia dikejutkan dengan suara teriakan adiknya yang memanggil namanya dan menghampirinya.
“Kak Dewi..” teriak Dila
“ada apa, Dila??” tanya Dewi
“aku tadi bermimpi sangat indah, Kak”
“mimpi apa??”
“aku bermimpi gubuk kita ini berubah jadi rumah yang sangat besar dan megah layaknya istana. Aku juga bermimpi Kakak terlihat sangat cantik serta memiliki kanvas dan pensil ajaib. Tapi sayangnya dimimpiku aku berubah jadi jahat, Kak. Aku sombong, semaunya sendiri, dan semena-mena bahkan banyak sekali yang membenciku karena sikapku.”
“maka dari itu jika kita sudah berada di atas, kita tidak boleh sombong kita harus ingat bahwa kita dulu juga sempat merasakan pahitnya hidup.”
Semenjak saat itu, Dewi dan Dila hidup normal serta bahagia tanpa kanvas dan pensil ajaib.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Selalu Terpendam Dalam Angan Semu Part 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *