• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Hari Nan Fitri Yang Penuh Luka

Sesal selalu menghantuiku
Pikirku melayang jauh tak menentu
Hari nan Fitri telah menunggu
Tetapi kesedihan terus merajalela dalam pikirku
Air mataku tak kunjung berhenti menangisi kepergianmu
Ini semua salahku..
Andaiku tak lalai menjagamu
Pasti kita kini masih bisa bertemu
Ku rindu senyumanmu…
Ku rindu belaianmu…
Dan ku rindu canda kasihmu…
Bunda…
Kau pergi karena kesalahanku. Andai aku selalu mendengarkan perkataanmu mungkin ini takkan pernah terjadi. Andai waktu bisa terulang ku rela menggantikan posisimu saat itu. Biar aku yang merasakan sakit yang kau rasakan biar aku yang pergi karena aku tak sanggup hidup tanpa kasihmu.
Ini bermula ketika aku mulai mengirim cerpen karyaku di salah satu majalah. Sungguh mengejutkan. Pagiku yang cerah disambut dengan cerpen karyaku yang diterbitkan di majalah. Aku sangat senang, apalagi ayah dan bundaku mendukung apapun yang aku kerjakan. Mulai saat itu aku selalu menyibukkan diriku dengan menulis dan mengirim cerpen. Apalagi dengan begitu aku bisa membantu ayah untuk meringankan bebannya menghidupi aku dan bunda. Akhir-akhir ini bunda memang sering sakit-sakitan. Bunda juga sering mengingatkanku agar tidak terlalu capek. Tetapi aku tidak mendengarkan perkataan bunda.Aku tak menyangka bahwa ini awal perpisahanku. Andai ku tahu itu, pasti aku akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bersama bunda.
Besok Hari nan Fitri akan menghampiri. Hari ini keadaan bunda semakin menjadi-jadi. Batuknya tak kunjung berhenti hingga dia muntah darah. Entah apa penyakit yang diderita bunda. Setiap ayah mengajak bunda periksa kedokter bunda selalu menolak. Kata bunda jika dia mengetahui penyakitnya itu hanya membuatnya lebih tak berdaya dan tak memiliki semangat untuk hidup. Pagi yang cerah, sang mentari bersinar sangat bersahabat. Embun pagi pun belum tergantikan oleh asap kendaraan bermotor. Pagi itu ayah berangkat untuk membeli obat. Ayah juga menyuruhku menjaga bunda di rumah. Padahalkan ayah tahu kalau hari ini aku harus mengirim cerpenku ke kantor pos. Kami pun sempat berdebat.
“Cha, kamu jaga bundamu. Ayah mau beli obat untuk bundamu.” Kata ayah.
“ kenapa harus aku, Yah. Ayah kan tahu aku mau mengirim cerpenku.”
“ apa kamu tidak bisa meluangkan waktumu untuk bundamu!”
“tapi Yah..” Ayah memotong pembicaraanku.
“ apa kamu tidak mau menjaga orang yang telah mempertaruhkan nyawanya
untukmu”
Akhirnya dengan terpaksa aku mengikuti apa perkataan dari ayah. Ternyata diam-diam bunda mendengarkan pembicaraanku dengan ayah.
“pergilah,Nak! Jangan pikirkan bunda. Bunda tidak apa-apa”
“ tapi Bunda..”
“ pergilah! Percaya pada bunda, Nak”
Ini sungguh keberuntungan bagiku ayah melarang tetapi diam-diam bunda mengizinkan. Mungkin ini akan jadi inspirasi cerpenku selanjutnya.
Ketika sampai di kantor pos, hp-ku berdering. Sungguh takku duga dan tak ku sangka. Ayah memberitahu aku bahwa bunda telah tiada. Aku segera berlari dengan air mata yang terus membasahi pipiku. Aku juga membuang cerpan yang tadinya mau ku kirim. Aku masih tak percaya ternyata pertemuan itu pertemuan terakhirku dengan bunda. Sesampai di rumah, segera ku peluk dan ku cium kening bunda. Diantara isak tangisku, aku kembali mengingat masa-masa indahku bersama bunda. Saat aku membantu bunda memasak, saat aku bersenda gurau dengannya, saat aku dimarahi ayah bunda juga selalu membelaku. Kini yang bisa ku lihat hanya kain kafan yang telah menyelimuti tubuhmu.
Pagi yang cerah, sang mentari masih terbit dari ufuk timur. Suara takbir masih berkumandang indah seindah kicauan burung di pagi buta. Air mata terus mengalir dari mataku.

BACA JUGA :   Cerpen Kanvas Dan Pensil Ajaib

Hari Fitri kali ini hanya kesedihan yang ku rasa.
Ku tak bisa lagi melihat senyum indah
Dari bibir manismu
Tubuhmu kaku seperti bonkahan es
Wajahmu pucat pasi seperti kain yang sedang membungkus tubuhmu
Setelah kepergian bunda hidupku semakin hancur. Bahkan aku selalu dihantui dengan rasa bersalahku pada bunda. Hal itu juga yang membuat aku berhenti untuk menulis cerpen. Menurutku penyebab kematian bunda karena aku terus menerus menulis cerpen. Untuk itu aku berhenti menulis cerpen dan membantu ayah narik angkot. Berangkat pagi dan pulang malam. Upahnya pun tak begitu banyak. Bahkan hampir setiap hari kami makan dengan sayur kangkung yang hanya direbus dan sambal terasi.
Siang hari yang terik, matahari bersinar tidak bersahabat. Teriknya sinar matahari tak membuatku patah semangat untuk bekerja. Jusru itu membuat semangatku terus membara. Tiba-tiba ayah mendekatiku.
“ sudahlah jangan kamu paksakan. Lebih baik teruskan saja menulis cerpenmu itu!!”
“ aku tidak mau, Yah. Menulis cerpen membuat ibu kini tiada dan aku tak bisa lagi
bersamanya” jawabku sambil menangis.
“ menulis cerpen bukan penyebab ibumu tiada. Itu semua sudah takdir yang Maha
Kuasa”
Kupeluk ayahku sambil menangis. Itu semua memang benar. Semua sudah takdir dari Allah. Mungkin selama ini hanya aku yang terlalu bodoh membiarkan hidup ayah dan aku terlunta-lunta setelah kepergian bunda. Bunda maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Aku telah menyia-nyiakan hidupku dan ayah selama ini. Aku berjanji aku akan menulis cerpen lagi dan membuat bunda bangga padaku.
Malam kali ini sangat indah. Banyak bintang yang bertaburan di langit. Bunda, aku sangat merindukanmu ku berharap kau mendengarkanku. Tiba-tiba ada bintang jatuh ku berdoa semoga kita bisa bertemu di mimpku nanti. Ku pejamkan mataku. Tiba-tiba ada cahaya yang sangat terang. Ku ikuti cahaya tadi.
“nak..”
“bunda..”
Ku peluk bunda sekuat tenagaku.
“maafkan aku bunda, aku telah menyia-nyiakan waktu terakhir bersama bunda”
“kamu tidak bersalah,nak. Bunda tahu menulis adalah hobimu. Teruslah asah hobimu
Siapa tahu hobimu bisa menjadi masa depanmu”
“ iya bunda aku berjanji kepadamu”
Tiba-tiba bunda menghilang bagai tertelan bumi.
Setelah aku sadar bahwa itu hanya mimpi. Segera ku panggil ayah dan ku ceritakan pertemuan singkatku bersama bunda. Ayah langsung memelukku. Kini aku mengerti bahwa semua takdir Allah pasti indah pada waktunya. Sekarang setiap aku rindu kepada bunda aku selalu memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *