• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Konflik Perkawinan Menurut Periode

BETULKAH dinamika perkawinan bisa di teropong melalui periodisasi?

Banyak yang bilang, lima tahun pertama perkawinan merupakan fase terberat. Kalau suami-istri berhasil melewati krisis pada masa-masa mendatang dapat diatasi dengan lebih enteng.

Tidak juga, ternyata sebuah studi yang di muat dalam buku The Psychology of women, susunan Margaret W. Marlin, menunjukkan kalau masa-masa awal perkawinan justru jadi saat yang paling membahagiakan bagi wanita.

Pengantin baru memang selalu berbahagia, bukan? Krisis justru terjadi pada masa-masa sesudahnya. Wanita mulai di benturkan pada kenyataan dan tanggung jawab yang tidak enak. Tetek-bengek pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak yang meletihkan, keuangan yang tidak memadai, dan seterusnya.

Memasuki masa dua puluh tahun pertama, perkawinan akan Kehilangan pesonanya. Sejalan dengan bertambahnya usia, suami-istri mulai mengalami kehilangan keintiman, afeksi fisik, dan aktifitas bersama. Waktu lebih banyak tersita untuk mengurus anak-anak yang mulai besar menimbulkan masalah dan membuat kepala pening.

Lalu ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah untuk berkeluarga mereka, kini orang tua kembali menemukan gairah hidup. Kerepotan yang di timbulkan anak-anak menjadi surut, kini pasangan wanita bisa santai menikmati waktu untuk istirahat.

Dengan demikian ada waktu untuk kembali berdekatan dengan pasangan secara intens. Begitu pun, tetap saja ada kesulitan. Suami-istri terus mengakumulasi perbedaan dan telah membentuk pola kepribadian yang tetap. Pola ini sudah sulit untuk di negosiasikan di usia tua.

Majalah Psychology Today membenarkan pendapat diatas. Menurut Psychology, pada tahun pertama perkawinan di tandai dengan kedekatan emosional dan tingginya gairah seksual antara suami-istri. Dan Antara tahun kelima dan ketujuh, terjadi kemerosotan mendadak. Keintiman menyurut, antara lain karena direpotkan dengan anak-anak dan masalah keuangan.

BACA JUGA :   Nekat Curi Motor, Residivis di Amankan Polisi

Lantas dikala perkawinan memasuki usia lanjut, rumah tangga justru terasa adem dan penuh afeksi. Suami-istri sudah biasa menghadapi stres harian dan dapat mengontrol emosi dengan baik.

Cuma sayangnya, meski masih tetap bersama, suami-istri jadi bersikap hambar. Mereka lupa hal-hal kecil yang dapat menghangatkan hubungan.

Ucapan ” terima kasih” dan ” tolong” makin jarang diucapkan.

Paskalis (34)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *