• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Harapanku Di Malam Tahun Baru

Sang mentari tak lagi menampakkan wujudnya. Bahkan ia pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Dunia pun menjadi amat gelap. Tetapi tak perlu khawatir karena bulan selalu menemani malam-malam yang indah. Bahkan bintang datang beramai-ramai untuk menemani malamku kali ini. Tahun 2014 telah di depan mata meninggalkan tahun 2013 yang kelabu. Terima kasih Ya Rab, karena Kau masih memberiku kesempatan untuk melihat indahnya dunia. Memberiku kesempatan untuk melihat senyum ibu setiap hari, dan memberiku sahabat yang selalu mengerti aku.
Hari-hari terakhir ini memang melelahkan. Aku harus membantu ibu membersihkan rumah agar pada saat tahun baru rumah terlihat bersih, indah dan nyaman. Biasanya saat hari mendekati tahun baru seperti ini banyak saudara dari Surabaya datang ke rumahku. Tak tanggung-tanggung ada sekitar sembilan orang yang datang ke rumahku, rumah yang kecil dan sederhana tetapi penuh akan kenangan masa lalu. Mungkin awalnya itu sangat menyenangkan bisa berkumpul bersama keluarga. Tetapi setelah mereka kembali ke Surabaya aku jadi tak tega melihat ibu. Bagaimana tidak, hampir setiap jam ibu harus melayani mereka. Entah memasak, membelikan kebutuhan mereka bahkan mencuci gelas dan piring yang mereka pakai. Apalagi uang yang ibu punya sangatlah terbatas mungkin hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolahku. Kalau untuk kebutuhan mereka ibu biasanya mengambil uang tabungannya sisa dari uang belanja yang ayah berikan. Bahkan ibu pernah terpaksa mengutang ke tetangga hanya karena ingin memberikan yang terbaik pada saudaranya. Sempat aku mengeluh pada ibu.
“Bu, kenapa sih mereka selalu datang tiap tahun baru? Apa mereka tidak sadar tanpa sengaja mereka telah menyusahkan Ibu. Bahkan hanya karena mereka Ibu harus hutang pada tetangga” kataku.
“Sudahlah, Ibu tidak merasa disusahkan. Niat mereka itu baik mereka hanya ingin bersilaturrahmi. Masak ibu harus mengusir atau tak menerima kehadirnnya dengan baik. Bukankah kita harus memberikan yang terbaik untuk semua orang walaupun mereka pernah menyakiti kita??”
“Ibu benar maafkan aku, Bu. Aku terlalu gegabah.”
“iya ibu maafkan lain kali jangan seperti itu”
Aku masih tak menyangka ternyata ibu sangat bijaksana. Tutur katanya sungguh bermakna. Ya Allah terima kasih kau telah memberikan anugerah terindah padaku. Memiliki seorang ibu yang sempurna bagiku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Tangisan Dalam Sujudku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *