• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Cantikmu Karena Kesalehahan Hatimu

Apa yang salah dariku, kenapa beberapa orang selalu mengolokku?? Apa salahnya orang berhijab?? Apa salah jika aku menutup aurat?? Dan apa salah jika keindahanku akan ku perlihatkan untuk pendampingku kelak??
Siang yang terik, matahari bersinar terang. Teriknya sinar matahari membuatku terbayang betapa panasnya jika nanti di Padang Mahsyar. Ya Allah kuatkan lah hambamu
ini. Aku mempunyai sahabat yang mungkin terpengaruh oleh pergaulan bebas. Ia bernama Calisa. Dia sering kali mengajakku clabing, shoping dan lain-lain. Aku sungguh iba kepadanya untung saja aku terlahir dari orang tua yang mau mengajarkanku tentang beriman kepada Sang Pencipta. Berbeda dengan Calisa yang sejak kecil tak pernah diperhatikan bahkan untuk mengajarkan tentang agama saja orang tuanya enggan. Jadi agama islam hanya sebatas status di KTP nya saja. Alhamdulillah aku tak henti bersyukur atas nikmat-Mu yang Engkau berikan padaku Ya Allah. Sejak itu aku bertekad ingin membantu Calisa agar berubah menjadi lebih baik.
Waktu berjalan terlalu cepat. Tak terasa Hari Raya Kurban telah di depan mata. Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba aku dikejutkan dengan pertanyaan Calisa.
“pulang sekolah nanti, apa kamu ada acara??”
“ada tapi mungkin hanya sebentar”
“apa aku boleh ikut bersamamu?? Aku lelah hidup seperti ini. Tiada yang menarik”
“tentu saja dengan senang hati. Tapi kita nanti naik motor. Apa kamu tak keberatan?”
“tentu saja tidak”
Pulang sekolah ku ajak Calisa ke warung langgananku untuk membeli beberapa nasi bungkus. Ku beli dua belas bungkus nasi dengan lauk yang sederhana. Hingga membuat hati Calisa bertanya-tanya.
“kenapa kamu membeli begitu banyak nasi bungkus??”
“kamu akan tahu nanti”
Ku rasa jawabanku kali ini membuat Calisa semakin kebingungan hingga ia mengankat kedua bahunya. Ku ajak ia menemui anak-anak jalanan yang terlihat sangat kumuh dan kotor. Ku bagikan nasi bungkus untuk mereka satu persatu.
“untuk apa kau berikan nasi itu pada mereka??” tanya Calisa
“aku hanya ingin berbagi”
“bukankah itu hanya menghambur-hamburkan uang??”
“bukankah shoping, clabing dan lain-lain itu juga menghamburkan uang??”
“ya memang tapi jika kita shoping, clabing dan lain-lain kita akan senang. Tapi jika
kita memberi mereka makanan seperti ini bukankah itu hanya sia-sia??”
“kamu salah. Di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Clabing dan shoping memang
menyenangkan tapi apa manfaatnya?? apa yang kita butuhkan hanya
bersenang-senang??”
“tapi apa manfaatnya kita memberikan makanan untuk mereka bukankah itu hanya
membuang-buang uang saja??”
“islam mengajarkan kita untuk berbagi. Berbagi itu indah jika kita sudah terbiasa. contohnya jika kita tidak berbagi pada mereka, ketika kita dalam kesulitan seperti ban bocor, kecopetan dan lain-lain, apa ada yang mau membantu kita selain mereka. Bahkan jaman sekarang sulit sekali mencari orang yang menolong kita dengan ikhlas”
Aku menyuruh anak-anak jalanan itu untuk membersihkan diri ke masjid dan sholat ashar berjamaah. Tiba-tiba Calisa bertanya padaku.
“Ravita, untuk apa kita sholat??bukankah itu hanya akan menyita waktu saja??”
“bukankah clubing dan shoping juga menyita waktu kita??”
“ya, tapi kita senang. Kalau sholat apa manfaatnya?? aku saja sering meminta tapi tak pernah dikabulakan”
“kau salah. Apa kamu meminta dengan bersungguh-sungguh?? Atau kamu hanya
bermain-main?? Aku yakin kamu saja tak mau dipermainkan apalagi yang
Sang Pencipta. Lagi pula banyak keuntungan yang kita dapat setelah sholat seperti
Hati kita terasa lebih, dan hidup di dunia pun terasa lebih nyaman.”
Calisa hanya terdiam. Aku mengajaknya sholat berjamaah dan mengaji bersama anak-anak jalanan. Setelah itu aku mengantar Calisa pulang ke rumah. Di depan rumahnya dia kembali bertanya kepadaku.
“kenapa kamu tadi mengajarkan mereka mengaji, bukankah lebih baik jika kau saja yang bisa mengaji??”
“ketika kita masih SD pasti kita diajarkan untuk tidak serakah. Jika aku tidak
mengajarkan ilmuku ini, bukankah aku tergolong orang yang serakah??”
“kamu tadi berkata padaku katanya kita hanya sebentar tapi buktinya sudah tiga jam kita menghabiskan waktu bersama mereka”
“jika kita gunakan waktu itu untuk hal yang kita cintai, menolong sesama muslim dan berbakti bukankah itu terasa lebih singkat???”
Calisa hanya terdiam.
“masuklah orang tuamu pasti sudah menunggumu”
Hari ini memang hari yang sangat bermakna dalam hidupku. Seorang Calisa anak yang terkenal cantik parasnya, kaya, suka clabing dan menghamburkan uang mau ikut aku makan bahkan sholah dan mengaji bersama anak-anak jalanan. Semoga ini awal yang lebih baik.
Waktu memang cepat berlalu,baru sebentar saja ku terlelap dalam mimpiku tiba-tiba aku dibangunkan oleh suara kumandang adzan subuh yang sangat merdu dan kokokan ayam yang nyaring. Ku beranjak meninggalkan tempat tidurku untuk mengambil air wudlu. Ku siapkan baju dan barang-barang yang akan ku bawa mudik. Tiba-tiba ada seseorang yang menggedor pintuku. Segera ku buka pintu. Ternyata Calisa yang menggedor pintuku.
“Calisa, mau apa kau ke sini pagi-pagi buta??”
“ku dengar dari teman-teman kamu mau mudik??”
“ya aku memang mau mudik. Lantas ada apa kamu ke sini??”
“aku hanya ingin ikut bersamamu. Apa kamu keberatan??”
“tentu saja tidak. Bersiap-siaplah nanti jam tujuh kita berangkat!”
Kini sang mentari mulai menampakkan wujudnya. Sang mentari kali ini bersinar sangat redup. Walau sedikit mendung, semoga saja ini tak menyurutkan semangat Calisa untuk ikut mudik bersamaku.
Sesampai di kampungku Calisa sangat terheran-heran melihat warga yang mayoritas berkerudung. Ia bertanya padaku.
“apa gunanya Tuhan memberikan rambut yang indah jika kita wajib menutupnya??”
“itu karena keindahan rambut kita akan kita persembahkan pada pendamping hidup
kita kelak”
“aku sering melihat orang yang memakai kerudung tetapi ditengah jalan mereka
melepasnya. Apa semua orang yang berkerudung seperti itu??”
“kamu salah jika menilainya sama saja. Bukankah setiap orang memiliki keteguhan dan prinsip yang tak sama. Jika mereka melepas kerudungnya di tengah jalan berarti mereka orang yang tidak konsisiten dan tak bisa dipercaya”
“kamu benar, setiap pertanyaan yang ku lontarkan kamu selalu bisa menjawabnya”
“yang perlu kamu ingat, cantikmu bukan karena parasmu, bukan sebatas jilbab lebarmu atau karena anggun gamis dan cadarmu tapi cantikmu karena kesalehahan hatiku, kebeningan jiwamu dan indahnya karena ketaatan dan akhlakmu”
“semua yang kamu katakan benar. Aku berjanji akan mengenal agama islam lebih
dalam. Apakah kamu mau membantuku??”
“tanpa kamu meminta pun aku akan membantumu. Aku bukankah sesama manusia kita harus saling tolong menolong?? apalagi jika aku membantu sahabatku yang cantik”
“kamu bisa saja membuatku mati kutu di depan sahabatku sendiri”
Senang sekali rasanya bisa membimbing dan membantu sahabatku untuk lebih mengenal dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta Segalanya.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Pertanyaan Yang Selaku Menghantui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *