• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

MAKALAH PEMBUKUAN HADIST MASA DINASTI ABBASIYAH DAN CORAK-CORAK PENULISANNYA (2)

BySri Hidayati

Sep 11, 2021

B. Masalah-masalah dalam Penulisan dan Pembukuan Hadist
1. Pemalsuan Hadis dan Distori
Sebagaimana halnya Ahli Sunnah, Syi’ah juga tidak luput dari adanya pemalsuan hadis dan distorsi. Hal ini dikarenakan beberapa faktor internal mereka seperti adanya perawi-perawi każab, fasīdu al-mażab, dan majhū al-hāl dan juga faktor eksternal seperti kondisi sosial politik yang dihadapi di masanya atau terputusnya hubungan dengan Imam mereka.
Faktor yang paling utama yang menyebabkan munculnya pemalsuan hadis di kalangan mereka adalah karena adanya pemikiran “gulah” (berlebihan) di kalangan mereka dalammengkultuskan para Imam. Pemikiran ini muncul sejak masa Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan berlanjut hingga akhir masa para Imam. Pada masa setiap Imam tersebut muncul kelompok yang dikenal dengan “gali” (pengkultus). Namun mereka ini pun dilaknat oleh para Imam mereka. Imam-imam Syi’ah sering menampakkan kebohongan mereka. Seperti halnya yang berkenaan dengan Mughirah bin Sa’id , Imam Sadiq a.s. menyinggung pemalsuan hadis dan penambahan yang dilakukan oleh Mughirah dalam kitab-kitab para sahabat ayah beliau, Imam Baqir a.s. Imam Rida juga menyebut Bayan, Mugirah bin Sa’id , Abu al-Khattab dan lainnya sebagai pendusta. Imam Hasan Askari juga disamping mendustakan akidah ‘Ali bin Hasakah dan Qasim Yaqtini, ia juga melaknat mereka.
Pasca periode para Imam, usaha-usaha yang dilakukan tokoh-tokoh Syi’ah adalah mengidentifikasi golongan yang “gulah” dan menolak klaim mereka sebagai Syi’ah. Meski berbagai upaya telah dilakukan, namun sebagian riwayat palsu dan yang meragukan telah masuk ke dalam koleksi hadis-hadis Syi’ah. Oleh karena itu pula muncul perbedaan dan kontradiksi di dalam internal hadis-hadis Syi’ah sendiri.
Menurut kalangan Syi’ah, setelah Imam ke-12 ghaib dari dunia dan hubungan para pengikutnya terputus dengan Imam mereka, perbedaan dan kontradiksi hadis-hadis mereka menjadi jelas dan kebenaran hadis mereka menjadi samar bahkan bagi orang yang berilmu. Sehingga dalam kondisi seperti ini, para ahli hadis mereka pun merasa butuh untuk memurnikan hadis-hadis mereka dan membukukan kembali hadis-hadis yang dapat dipercaya. Pembukuan Kutub Arba’ah oleh Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih dan Muhammad bin Hasan Tusi (yang populer dengan tiga nama Muhammad di awal) dan pembukuan karya-karya hadis lainnya, khususnya lagi kitab-kitab karangan Ibnu Babawaih dan Syeikh Tusi pada abad ke-4 dan ke-5 adalah merupakan langkah penting dalam upaya mengatasi permasalahan dan pertentangan yang ada di sekitar hadis tersebut.
Dengan disusunnya Kutub Arba’ah dan kitab-kitab hadis lainnya di abad ke-4 dan ke-5, terutama kitab-kitab haids Syeikh Saduq, Seyikh Tusi, Sayed Murtada dan Syeikh Mufid, maka berakhirlah pembukuan hadis Syi’ah di masa mutaqaddimin. Para fuqaha dan mutakallimin di kalangan Syi’ah pun menulis karya-karya fiqih dan teologi dengan merujuk kepada kitab-kitab tersebut.
Di sisi lain, pasang surut kondisi sosial politik Syi’ah telah menghambat proses pembukuan karya-karya mereka yang baru. Para ‘ulama Syi’ah lebih memperhatikan penyalinan kitab-kitab yang ada sebelumnya melalui cara ijazah, kitabah, dan wijadah. Meskipun demikian, kajian ilmu hadis dan pembahasan rijal dan dirayah (yang merupakan ilmu dasar dan penting dalam kajian hadis) juga banyak bermunculan. Tokoh-tokoh seperti Najasyi, Kasyi, Ibnu Gadairi, Ahmad bin Tawus, ‘Allamah Hilli dan Ibnu Daud Hilli telah mengambil langkah yang efektif dalam hal ini.
Di antara karya penting studi hadis yang dibukukan oleh kalangan Syi’ah dalam rangka studi kritis terhadap Kutub Arba’ah, terutama dalam hal sanad, kejelian perawi, dan dhabit, adalah kitab Muntaqā al-Jumān fī al-Ah diṡ al-Sihāh wā al-Hisān. Kitab ini ditulis oleh Hasan bin Zainuddin ‘Amili, seorang yang faqih dan ahli ushul ternama, yang juga dikenal dengan penulis Ma’alim. Namun sangat disayangkan bahwa karya tersebut tidak sampai selesai.
2. Muncul Kelompok yang Menolak Hadist
Di antara mereka ada yang menolak Hadis secara keseluruhan, baik hadis Ahad maupun juga Hadis Mutawatir, dan yang menolak Hdis Ahad saja. Imam Al Syafi’I bangkit dan melakukan serangan balik terhadap kelompok yang menolak Hdis ini, yaitu dengan cara mengemukakan bantahan terhadap satu persatu argument yang dikemukakan oleh para penolak Hadis di atas dengan mengemukakan dalil-dalil yang lebih kuat. Oleh karenanya, Imam Al Syafi’I di beri gelar “Nashir Al Hadits” (penolong hadis) atau Multazim al Sunnah.

BACA JUGA :   PUASA-MU MENJADI PUISI-KU

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dimulai pada pada abad pertama hijriyah yaitu pada masa pemerintahan islam yang dipimpin oleh Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (khalifah kedelapan dari kekhalifahan Bani Umayyah) dengan mengirim surat kepada seluruh pejabat dan ulama‟ di berbagai daerah agar memperhatikan dan mengumpulkan hadis dari parapenghafalnya dan segera dihimpun.
Perjalanan pembukuan hadis dalam pandangan Ahlus Sunnah melalui beberapa tahapan penting. Berikut pembagiannya:
1. Periode Tashnif Pertama
2. Periode Pembukuan Musnad
3. Pembukuan Shihah dan Sunan
4. Pembukuan Pasca Kutub al-Sittah
Masalah-masalah dalam penulisan dan pembukuan Hadist:
1. Pemalsuan Hadis dan Distori
2. Muncul Kelompok yang Menolak Hadist

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka penulis sangat mengharapkan kritikan yang dapat mendukung lebih baiknya dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Paishal A. 2018. Historiografi Pembukuan Hdis Menurut Sunni dan Syi’ah. Al-Zikra Jurnal Studi Ilmu Al Qur’an dan Al Hadits. Vol. 12. No. 1.

DR. Nawir. Yuslem. 2001. Ulumul Hadis. (Batavia Advertising: PT. Mutiara Sumber Widya).

Leni Andariati. 2020. Hadis dan Sejarah Perkembangannya. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta,Vol. 4. No. 2.

Mohammad Rizqillah M. 2019. Pengaruh Pembukuan Hadits Terhadap Fiqih. PascasarjanaUniversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Vol. 4. No. 1.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *