• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

MAKALAH PEMBUKUAN HADIST MASA DINASTI ABBASIYAH DAN CORAK-CORAK PENULISANNYA (1)

BySri Hidayati

Sep 11, 2021

MAKALAH
PEMBUKUAN HADIST MASA DINASTI ABBASIYAH DAN CORAK-CORAK PENULISANNYA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Hadis
Dosen Pengampu: Achamad Kholik, LC., M.Pd.

Disusun oleh :
Sri Hidayati (33010190165)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2020

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan hidayah-Nya. Penulis dapat menyelesaikan makalah “Pembukuan Hadist Masa Dinasti Abbasiyah dan Corak-corak Penulisannya” tepat pada waktunya. Shalawat serta salam kita panjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah yang dibuat belumlah sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami butuhkan untuk memperbaiki makalah ini menjadi yang lebih baik lagi kedepannya. Penulis mengharapkan dengan diterbitkannya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Kebumen, 7 November 2020

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1
BAB II 2
PEMBAHASAN 2
A. Sejarah Penulisan dan Pembukuan Hadist 2
B. Masalah-masalah dalam Penulisan dan Pembukuan Hadist 10
BAB III 13
PENUTUP 13
A. KESIMPULAN 13
B. SARAN 13

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada masa Al-Qur’an masih diturunkan, Nabi Muhammad SAW melarang menulis hadits karena dikhawatirkan akan bercampur dengan penulisan Al-Qu’ran.
Pada masa itu, di samping menyuruh menulis Al-Qur’an, Nabi Muhammuad SAW juga menyuruh menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurut pendapat para ulama hadits, yang pertama-tama menghimpun hadits serta membukukannya adalah Ibnu Syihab az-Zuhri, kemudian diikuti oleh ulama-ulama diberbagai kota-kota besar lainnya.
Penulisan dan pembukuan hadits Nabi SAW ini dilanjutkan dan serta disempurnakan oleh para ulama-ulama hadits pada abad berikutnya, sehingga menghasilkan kitab-kitab yang besar seperti kitab al-Muwaththa’, Kutubus Sittah dan lain sebagainya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa sejarah penulisan dan pembukuan hadist?
2. Apa masalah-masalah dalam penulisan dan pembukuan hadits?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui sejarah penulisan dan pembukuan hadist.
2. Untuk mengetahui masalah-masalah dalam penulisan dan pembukuan hadist.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Penulisan dan Pembukuan Hadist
Dimulai pada pada abad pertama hijriyah yaitu pada masa pemerintahan islam yang dipimpin oleh Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (khalifah kedelapan dari kekhalifahan Bani Umayyah) dengan mengirim surat kepada seluruh pejabat dan ulama‟ di berbagai daerah agar memperhatikan dan mengumpulkan hadis dari parapenghafalnya dan segera dihimpun. Salah satu yang dikirimi surat adalah Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amar ibn Hazm (Gubernur Madinah), ia mengirim surat, yang berbunyi:“Perhatikan atau periksalah hadis-hadis Rasulullah SAW, kemudian tulislah! Aku khawatir akan lenyapnya ilmu dengan meninggalnya para ahli. (Menurut suatu riwayat disebutkan meninggalnya para ulama). Dan janganlah kamu terima, kecuali hadis Rasulullah SAW.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amer ibn Hazm (w. 117 H) agar mengumpulkan hadis-hadis yang ada pada Amrah binti Abdurrahman Al-Anshari (murid kepercayaan Siti „Aisyah ) dan Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi BakarAsh Shiddieq, seorang pemuka tabiin dan salah seorang fuqoha Madinah. Selain itu khalifah juga memberikan instruksi yang sama kepada Muhammad ibn Syihab Al-Zuhri (w. 124 H), seorang ulama besar di negeri Hijaz dan Syam, dengan menggalang agar para ulama hadist mengumpulkan hadist di masing-masing daerah tersebut. Abu Bakar ibn Hazm berhasil menghimpun hadis dalam jumlah, yang menurut para ulama kurang lengkap. Sedangkan ibn Syihab Al-Zuhri berhasil menghimpunnya, yang dinilai oleh para ulama lebih lengkap. Akan tetapi sayang sekali, kedua karya tabi‟in ini lenyap, tidak sampai pada generasi sekarang. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi adanya pengkodifikasian pada masa ini. Menurut Muhammad al-Zafzaf kodifikasi hadits pada masa ini dilakukan karena : Pertama, para ulama hadits telah tersebar ke berbagai negeri, dikhawatirkan hadits akan hilang bersama wafatnya para ulama hadits. Kedua, banyak berita yang diada-adakan oleh pelaku pembuat hadist yang berupa hadits-hadits palsu.
Proses pembukuan hadits pada masa ini adalah dengan cara menghimpun semua hadits yang memiliki masalah yang sama dalam satu kitab karangan, misalnya hadits- hadits yang mengenai shalat saja dan dalam pembukan hadits ini bercampur dengan fatwa sahabat dan tabi‟in.Proses pengkodifikasian hadits dilanjutkan pada abad kedua hijriyah. Usaha pembukuan hadist oleh Ibnu Hazm dan Ibnu Syihab Az-Zuhri pada abad pertama hijriyah diteruskan oleh beberapa ulama hadits yang telah berhasil mengumpulkan dan menyusun hadits. Pada masa ini kegiatan penghimpunan hadits bersamaan dengan kegiatan ulama dalam menghimpun ilmu-ilmu agama, antara lain Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam dan sebagainya. Oleh karna itu pada masa ini dikenal sebagai “Ashru al Tadwin“ (masa pembukuan). Diantara beberapa ulama yang melakukan pembukan hadits pada masa ini diantaranya :
1. Imam Malik bin Anas (w. 179 H) yang dapat menyusun kitab Muwaththa‟
2. Al-Auza‟i (w. 156 H) yang dapat menyusun kitab al-Mushannaf
3. Muhammad bin Ishak (w. 151 H) dapat menyusun kitab al-Maghazi wa al-Siyar
4. Syu‟bah bi al-hajjaj (w. 160 H) dapat menyusun kitab al-Mushannaf
5. Al-Laits bin sa‟ad (w. 175 H) dapat menyusun kitab al-Mushannaf
6. Sufyan bin Uyaynah (w. 198 H) dapat menyusun kitab al-Mushannaf
7. Muhammad bin Idris As-Syafi‟i (w. 204 H) dapat menyusun kitab

BACA JUGA :   TARIAN JARI YANG MENGUNTUNGKAN

Setelah masa dinasti Bani ‘Abbasiyah, terutama pada zaman Mansur al-’Abbasi, terjadi dinamika pembukuan hadis. Menurut al-Zahabi, pada tahun 143 H, ulama-ulama diseluruh kota melakukan pembukuan ilmu-ilmu mereka dalam berbagai bidang seperti hadis, fiqih dan tafsir. Hal ini menghasilkan kemunculan bermacam-macam karya dalam bidang keilmuan.
Pada abad ke-2 hingga abad ke-5, pembukuan hadis menemui bentuk khususnya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai metode pembukuan hadis sebagai berikut:
1. Pembukuan hadis secara tematik, khususnya berdasarkan bab-bab fiqih
2. Pembukuan hadis berdasarkan musnad-musnad, yaitu penulisan hadis tersusun lewat riwayat masing-masing sahabat
Di antara dua metode ini, metode pertamalah yang paling unggul.
Tahapan Pembukuan Hadis
Perjalanan pembukuan hadis dalam pandangan Ahlus Sunnah melalui beberapa tahapan penting. Berikut pembagiannya:
1. Periode Tashnif Pertama
Pada periode ini, para muhaddis mencatat hadis-hadis dan non-hadis (baik pendapat para sahabat maupun Tabi’in) dalam kitab-kitab mereka. Pada periode ini tidak terdapat sensitifitas serius terhadap status riwayat-riwayat, apakah ia sahih, saqim, mursal atau musnad. Banyak tokoh hadis terkenal pada abad kedua yang memiliki tashnif ini seperti Ibnu Juraij, Sa’id bin Abi ‘Urubah, Hammad bin Salamah, Auza’i, Sufyan al-Ṡauri, dan Malik bin Anas.44 Meskipun tidak ada karya yang tersisa selain milik Malik bin Anas, yaitu kitab Muwaththa’.
2. Periode Pembukuan Musnad
Musnad adalah kitab yang memuat hadis-hadis berdasarkan urutan nama-nama perawi (sahabat). Pembukuan musnad dimulai pada dekade terakhir abad ke-II dan berlanjut meluas pada abad ke-III hingga setelahnya.
Keistimewaan musnad ini adalah terpisahnya hadis Nabi saw. dengan perkataan-perkataan para sahabat dan Tabi’in, serta adanya penjelasan dari para fuqaha tentangnya.46 Karena tujuan penulis musnad adalah mengumpulkan riwayat-riwayat yang datang dari para sahabat, wajar bila segala jenis riwayat yang sahih, dha’ifdan bahan ja’li terkumpul menjadi satu. Oleh karena itu, jika dilihat dari segi validitas, musnad berada diperingkat ketiga setelah kitab hadis sahih dan sunan. Hanya Musnad Ahmad bin Hanbal saja yang dianggap sejajar dengan kitab sunan.
3. Pembukuan Shihah dan Sunan
Keterbatasan-keterbatasan musnad pada abad ketiga telah melahirkan metode lain dalam proses pembukuan hadis. Metode ini berusaha mengklasifikasi riwayat-riwayat yang sahih dari riwayat-riwayat yang lain ke dalam bab-bab yang tematis.
Kemudian pembukuan hadis dengan menggunakan metode sunan juga mulai diminati oleh para muhaddits. Sunan adalah kitab yang biasanya mencakup hadis-hadis ahkam (hukum-hukum fiqih) dan dibukukan berdasarkan bab-bab fiqih. Riwayat-riwayat di dalamnya berbentuk musnad yang non-mauquf. Karena mauquf hanya disandarkan kepada para sahabat, maka ia tidak disebut dengan sunan (sunnah) Nabi saw.
Di era mutaqaddimin Ahlus Sunnah, pembukuan sunan adalah merupakan hal yang sangat populer. Kitab Sahihain danSunan Arba’ah menjadi bagian penting dalam tradisi pembukuan hadis mereka. Kitab Ṣaḥihain dan Sunan Arba’ah ini disebut dengan Kutub al-Sittah. Kitab-kitab ini semuanya dibukukan pada abad ketiga. Oleh karena itu, abad ini juga disebut dengan abad keemasan pembukuan hadis oleh Ahlus Sunnah.
4. Pembukuan Pasca Kutub al-Sittah
Para muhaddits di abad ke-IV dan ke-V mulai membukukan hadis-hadis yang jarang diperhatikan oleh para muhaddtis sebelumnya dalam bentuk karangan baru. Para muhaddits ternama pada abad tersebut di antaranya adalah:
a. Ibn Hibban (w. 354 H), penulis al-Musnad al-Sahih atau al-Anwa’ wa al-Taqasim
b. Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Thabrani (w. 360 H), penulis tiga mu’jam
c. Al-Daruquthni, penulis Ilzamat (mustadrak sahihain)
d. Hakim al-Naisaburi (w. 405 H), penulis kitab al-‘Ilal, al-‘Amālī, Fawaid al-Syuyukh, ‘Amāli al-‘Asyiyyat, Ma‘rifāt‘Ulūm al-Hadiṡ, dan al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain
e. Baihaqi (w.458 H), penulis kitab al-Sunan al-Kubra dan al-Sunan al-Shugra.
Hakim al-Naisabury menulis al-Mustadrak ‘alā al-Sahīhain adalah sebagai pelengkap bagi Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslimyang berdasarkan standar-standar keduanya. Abad ke-V merupakan akhir periode pembukuan hadis era mutaqaddimin menurut Ahlus Sunnah.
5. Pembukuan Jawami’ Hadis Era Mutaakhkhir
Yang dimaksud dengan jawami’ di sini adalah kitab-kitab yang dibukukan dengan memanfaatkan kitab-kitab utama hadis, seperti Kutub al-Sittah, Muwaṭa’ Malik, dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Kitab-kitab Jawami’ ini dibagi kepada kepada beberapa kategori:
Kitab-kitab yang hanya mengumpulkan riwayat-riwayat sahihain saja. Orang-orang yang melakukan ini adalah:
a. Jauzqi Neisyaburi (w. 388 H)
b. Abu Mas’ud Ibrahim bin ‘Ubaid Dimisyqi (w. 401 H)
c. Ibn Furat Sarkhesyi Nisyaburi (w. 414)
d. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Barqani (w. 425 H)
e. Muhammad bin Nasr atau Abu Nasr Futuh Humaidi (w. 488)
f. Husain bin Mas’ud Bagawi (w. 516 H)
g. Muhammad bin ‘Abdul Haq Asbili (w. 581 H)
h. Ahmad bin Muhammad Qurtubi, dikenal juga dengan Ibnu
Abil Hujjah (w. 642 H) dan Sagani (w. 650 H)
Sedangkan mereka yang melakukannya di era kontemporer adalah di antaranya:
a. Muhammad Habibullah al-Syanqiti (w.1363 H) dalam kitab Zad al-Muslim Fi Ma Ittafaqa ‘Alaihi al-Bukhari wan Muslim
b. Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi’ (w. 1388 H) dalam kitab al-Lu’lu’ wa al-Marjan Fi Ma Ittafaqa ‘Alaihi al-Sahihain
Kitab-kitab yang Mengumpulkan Riwayat-riwayat Sihah, Sunan dan Musnad yang Penting
a. Bagawi, penulis Masabih al-Sunnah, yang mengumpulkan riwayat-riwayat Kutub al-Sittah dan Muwatta’ Malik bin Anas.
b. Ahmad bin Razin bin Muawiyah, penulis al-Tajrid al-S{ihah wa al-Sunan. Ia hanya mengumpulkan riwayat-riwayat yang sahih dari Kutub al-Sittah dengan perbedaan bahwa ia menggantikan Sunan Ibn Majah dengan Muwatta’milik Malik bin Anas.
c. Ibn Atsir Jazri (w. 606 H), penulis Jami’ al-Usul min Ahadis al-Rasul
d. Abul Faraj ‘Abdurrahman bin ‘Ali Jauzi, atau yang dikenal dengan Ibnu Jauzi (w. 597 H), penulis Jami’ al-Masanid wa al-Alqab. Ia mengumpulkan riwayat-riwayat sahihain, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Jami’ Tirmizi sesuai urutan musnad-musnadnya. Setelah itu, Muhibbuddin Tabari (w. 694 H) memberikan urutan baru dan tadwin (penulisan) baru.
e. Isma’il bin ‘Umar bin Kasir atau yang dikenal dengan Ibn Kasir Dimisyqi (w. 744 H), penulis Jami’ al-Masanid wa al-Sunan al-Hadi li Aqwam al-Sunan. Ia mengumpulkan riwayat-riwayat Kutub al-Sittah, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abu Bakar Bazzaz, Musnad Abu Ya’la dan al-Mu’jam al-Kabir Tabrabi. Kitab ini mengandung sekitar seratus ribu hadis dan mencakup riwayat-riwayat sahih, hasan, dan ḍa’if56
f. Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin al-Suyuti, penulis Jam’ al-Jawami’ atau Jami’ Kabirg. Muttaqi Hindi, penulis Kanz al-’Ummāl fī Sunān al’Aqwāl wa al-Af’ l, menggunakan metode Suyuti tersebut dengan perbedaan bahwa riwayat-riwayatnya disusun berdasarkan huruf alfabet (arab) dan bertemakan fiqih. Muttaqi Hindi menyusun hadis-hadis al-Jami’ al-Sagir dengan metode di atas dan menamakannya dengan Manhaj al-’Ummāl fi Sunan al-Aqwal.
h. Syeikh Mansur ‘Ali Nasif (kontemporer), penulis al-Taj al-Jami’ li al-Ushul fi Ahadis al-Rasul mengumpulkan riwayat riwayat Kutub al-Khamsah dengan meninggalkan Sunan Ibn Majh.
i. Basysyar ‘Awwad Iraqi dan kawan-kawannya mengumpulkan 17.802 hadis dari 1.237 sahabat.
Kitab-kitab yang Hanya Mengumpulkan Riwayat-riwayat Fiqh
a. Al-Sunān al-Kubrā dan al-Sunān al-Sugrā, karya Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H)b. Al-Ahkām al-Sughrā karangan Abu Muhammad
b. ‘Abd al-Haqq ‘Isybili (w. 582 H)
c. ‘Umdāh al-Ahkām karya al-Hafiz ‘Abd al-Gani bin ‘Abd al-Wahid Muqaddasi (w. 600 H)
d. Muntaqā al-Akhbār fī al-Ahkām karya ‘Abdu al-Salam bin ‘Abdullah Harrani, yang dikenal juga dengan Ibn Taimiyyah (w. 652 H)
e. Al-Targīb wā al-Tarhīīib karya ‘Abd al-’zim bin ‘Abd al-
Qawi (w. 656 H)
f. Al-Ilmām fī Ahadiṡ al-Ahkām karangan Ibn Daqiq al-’Aid (w. 702 H)
g. Taqrib al-Asānid wā Tartīb al-Masānid karya Zainuddin Abu al-Fadl ‘Abdurrahman bin Husain ‘Iraqi (w. 806 H)
h. Bulug al-Marām min Ahadiṡ al-Ahkām karya Ibn Hajr al-Asqallani.
Selain yang disebutkan di atas, pada periode mutaakkhir, kitab kitab hadis yang lainnya juga dibukukan dengan berbagai kekhususan yang berbeda dengan sebelumnya, seperti Kitab Zaw id, Mustakhraj t Ajza’, Atrāf Had ṡ, Takhrīj, Ma’ jim baik yang tematis maupun yang berkata, baik kritik maupun tashih terhadap sumber-sumber sebelumnya, baik telaah dari sisi kebenaran sanad maupun matannya, baik hadis maj’ul, maudu’, ataupun yang lainnya.
Tradisi penulisan hadis yang beragam ini terus berjalan hingga sekarang. Telaah-telaah hadis yang dilakukan dengan melihat berbagai isu dan topik yang menarik untuk dibahas terus berkembang, baik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kritis maupun memenuhi kebutuhan-kebutuhan ilmiah sesuai konteks zaman.
Yang melatarbelakangi kebijakan Umar ibn Abdul Aziz untuk membukukan hadis secara resmi, adalah:
a. Sebelumnya hadis tersebar dalam lembaran dan catatan masing-masing sahabat, misalnya sahifah yang di-miliki Abdullah ibn Umar, Jabir dan Hammam ibn Munabbih. Ahli hadis menyerahkan semua yang berurusan tentang penulisan hadis kepada hafal-an para sahabat yang lafadznya mere-ka terima dari Nabi, namun ada juga sahabat yang hanya tahu maknanya dan tidak pada lafadznya, hal itulah yang kemudian menjadikan adanya perselisihan riwayat penukilan sekali-gus rawinya. Dari situ ada kekhawat-iran dari Umar ibn Abdul Aziz kalau-kalau nati hadis Nabi disia-siakan oleh umatnya.
b. Penulisan dan penyebaran hadis yang terjadi dari masa Nabi sampai masa sahabat masih bersifat kolektif indi-vidual, dan juga ada perbedaan para sahabat dalam menerima hadis. Dengan kondisi yang seperti itu dikhawatirkan akan terjadi penambah-an dan pengurangan pada lafadz hadis yang diriwayatkan.
c. Semakin meluasnya kekuasaan Islam ke berbagai negara yang kemudian memiliki pengaruh besar pada tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan sebagian benua Eropa. Dengan demikian juga menjadikan para sahabat tersebar ke negara-negara tersebut. Dari sana muncul berbagai masalah yang ber-beda yang dihadapi para sahabat, yang berefek pada melemahnya hafalan mereka. Belum lagi banyak sahabat yang meninggal di medan perang demi membela panji-panji keislaman, untuk itulah Khalifah Umar ibn Abdul Aziz merasa cemas dan khawatir kalau hafalan para sahabat hilang begitu saja.
d. Banyak bermunculan hadis-hadis palsu, terutama setelah wafatnya kha-lifah Ali ibn Abi Thalib sampai pada masa dinasti Umayyah, yang membuat umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan yang membawa mereka un-tuk mendatangkan keterangan hadis yang diperlukan untuk mengabsahkan sebagai golongan yang paling benar.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *