• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Bysri muningsih

Sep 10, 2021

Huhuhuhuhu,hiks..hiks”, tangis ku dalam keheningan malam. “Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa?”, tanyaku pada diri sendiri. “Tidak cukupkah semua penantian ku selama ini? Tidak cukupkah perjuanganku selama ini? Tidak cukupkah??”, teriakku dalam hati. “Ya allah, jalan apa yang sedang kau tunjukkan padaku?”, rintihku dalam doa.
“Aaaaaaa aaaaaaa aaaaaaa waaaah hhhh”, teriakku keras dalam kebisuan. “adakah yang mau mendengar ceritaku?”, tanyaku di tengah gelapnya malam. “Adakah yang ingin menemaniku dalam kesedihanku? Adakah?”, tanyaku lagi pada sepinya jalanan. “Kenapa?? Kenapa tidak ada yang menjawab ku??”, “kenapa tidak ada yang mengeluarkan suara kalian?”, “Sungguh Engkau Tuhan semesta alam! Dengarkah kau dengan rintihanku? Tidakkah kau dengar? Ucapkku. “Bukankah kau akan selalu ada untuk hambamu yang sedang dilema? Yang sedang patah arah??? Lalu dimana kau saat ini??!! Dimana?”, tanyaku pada alam.

“Hah…hah..hahahahahhahahahahahahahahaha, lucu sekali aku”, batinku. “ Ketika tak ada lagi yang mau mendengarkanmu, barulah kau ingat pada tuhan? Kemana saja kau selama ini gadis baik??”,ucapku terus menerus dalam hati. “Aahahahah haha, benar kau itu lucu, lucuu sekali”, bisikku dalam hati. “hahahahah… Hah..hm..he..huhuhuhu,hiks hiks..”.
Inilah yang aku rasakan saat ini. Kadang aku menangis, kadang tertawa atau kadang aku hanya diam. Mungkin untuk mereka yang tidak tahu, mereka akan mengira aku gila. Ya, kemungkinan aku sudah gila. Sebab Aku mulai depresi, aku tertekan. Dengan apa yang sudah menimpahku, “apa aku salah cemburu?? Apa aku salah ketakutan??”, tanyaku pada orang yang ada didalam figura. “tolong jawab aku? Aku hanya takut kehilanganmu?? Apa aku salah??”, tanyaku bertubi pada figura itu. Meskipun aku tahu bahwa dia tidak akan menjawab ku.
Walaupun begitu, aku tetap bertanya pada benda mati itu, seolah aku memang sudah gila. Karena aku tidak tahu harus kepada siapa aku bercerita, saat tuhan saja menolak ceritaku. Ingin aku berbicara, berbagi dengan mereka yang sesama wanita, tetapi bukan solusi yang kudapat malah sebaliknya. Seakan kecemburuanku itu salah, aku adalah wanita yang berlebihan. Lalu mengapa memangnya kalau aku berlebihan?? Apa yang aku lebihkan? Aku cemburu itu hal yang wajar, toh yang aku cemburukan adalah suamiku.

BACA JUGA :   Anak Terlantar di kota Jayapura

Siapa sih yang tidak akan cemburu, ketika ada seorang wanita yang tidak di kenal tiba tiba menghubungi suami sendiri??. Akan terlihat aneh bukan?? Kalau dalam sebuah hubungan tidak ada perasaan cemburu???. Tapi tidak!, untuk beberapa orang memiliki rasa cemburu pada pasangan adalah sebuah hal yang keterlaluan atau perasaan yang di lebih lebihkan. Menurut mereka ketika kita cemburu pada pasangan itu berlebihan. Jujur saja, saat aku mendengar perkataan itu dari mulut mereka malahan aku merasa aneh. Ya iyalah aneh, masa sih mereka tidak cemburu sama sekali kalau ada seorang wanita menelpon berkali kali, dan menanyakan suamimu dengan nada manja??. Seolah si wanita itu seperti seorang istri atau pacar yang sedang merindukan pasangannya.

Aku sangat tertekan akan hal ini, dimana saat mereka memintaku untuk bercerita, namun bukan sebuah solusi yang aku dapat. Melainkan hal yang sebaliknya, seperti akulah yang bersalah. Bukannya menjadi ringan pikiran di kepalaku, tapi kebalikkannya. Menjadi semakin sulit untuk di cerna. Pada akhirnya membuatku diam, tidak berani buka suara sebab takut di salahkan.
Hingga saat kejadian ini terulang kembali, ya wanita itu menelpon lagi dengan nada suara yang sama seperti sebelumnya.
Awalnya aku ingin bercerita pada orang di rumah, tapi kejadian kemaren membuatku jera untuk mengatakannya. Dan akhirnya aku hanya diam memendam segalanya. Namun pada kenyataannya aku tidak bisa memendamnya. Aku coba bertanya pada suamiku, dia mengatakan kalau dia tidak mengenal wanita mana pun, apalagi memberikan nomor teleponnya. Aku berusaha percaya, akan tetapi hati ini tidak mudah untuk menyembunyikan segalanya. Kami berdebat cukup lama yang berakhir dengan tangisan perih di uluh hati.

BACA JUGA :   Perjalanan Akhir Pekan di Tana Tabi

Sempat aku berpikir untuk menyudahi kehidupanku, karena aku lelah untuk terus bersembunyi dari rasa sakit. Suamiku juga mengakhiri pembicaraan kami di telepon. Aku berpikir bahwa dia mungkin sudah menyerah dengan hubungan kami. Aku yang sudah menyerah dengan sesuatu yang mungkin tak ada lagi harapan.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *