• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mabuk, Anak Pelajar Merusak Mako Pos Polisi Angkasa

ByPaskalis

Sep 7, 2021 ,

JAYAPURA- Kasus tindak pidana Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di jajaran Polresta Jayapura kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh dua orang tersangka, dimana salah satu pelaku adalah seorang pelajar SMK di kota Jayapura.

Kasus tindak pidana pengrusakan Mako Pos Polisi Angkasa Pura, Polisi Sektor Jayapura Utara, dengan anak pelaku berinisial “SH” dikenakan pasal 170 Ayat (1) KUHP tentang tindakan pengrusakan dengan ancaman tuntutan 8 bulan penjara, dan di potong masa tahanan orang dewasa.

Di dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Pradilan Pidana Anak (SPPA) mengamanatkan para penegak hukum harus menjalankan musyawarah diversi dengan kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Pertemuan Diversi ini harus dilaksanakan di tingkat kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan. Namun tidak semua anak sebagai pelaku bisa di adakan diversi.

Karena menurut Pasal 7 UU SPPA, tidak semua tindak pidana dapat diselesaikan diversi. Tindak pidana yang dapat diselesaikan dengan cara diversi adalah apabila ;

a. Pelaku tindak pidana adalah anak.
b. Tindak pidana yang dilakukan oleh anak tersebut diancam dengan hukuman pidana penjara kurang dari 7 tahun.
c. Tindak pidana yang dilakukan oleh anak tersebut bukan pengulangan tindak pidana.

Penyelesaian perkara anak dengan cara diversi dilakukan melalui musyawarah.

Musyawarah tersebut melibatkan anak dan orangtua atau wali, korban, dan apabila korbannya adalah anak-anak maka didampingi Orangtua atau walinya, pembimbing kemasyarakatan (PK BAPAS), dan pekerja Sosial.

Apabila diperlukan, dalam musyawarah ini juga dapat melibatkan tokoh agama, atau tokoh masyarakat sesuai dengan kebutuhan.

Penyelesaian dengan cara musyawarah dan ini bertujuan untuk memulihkan keadaan korban, pelaku, dan Masyarakat serta hubungan antara pelaku dan korban serta masyarakat, yang menjadi retak atau tidak harmonis karena terjadi tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku.(pasal 8 UU SPPA).

Proses Musyawara Diversi di Tingkat Kepolisian. Kasus ABH anak sebagai pelaku berinisial “SH” pertama kali dilakukan diversi di Polsek Jayapura Utara, pada Rabu (18/8), pukul 11.00 WIT, hingga selesai.

Musyawarah diversi dihadiri pihak korban, keluarga anak pelaku, PK Bapas dan Peksos. Dinamika diversi berlangsung baik di mediasi oleh penyidik Polsek Jayapura Utara dan hasil dari diversi itu gagal.

“Orang tua mengaku bersalah dan menerima keputusan yang telah di ambil semua pihak. Setelah di tanya kepada anak “SH”, dia mengakui melakukan tindakan tersebut dan menyesal atas perbuatannya itu.”

Proses diversi di tingkat kejaksaan berlangsung pada hari Senin (23/8). Bertempat di Kejaksaan Negeri Jayapura dan dihadiri oleh PK Bapas, Pekerja Sosial, korban, dan keluarga anak pelaku.Diversi dinyatakan gagal karena korban anggota Mako pos polisi angkasa tidak mau menyelesaikan kasus ini secara diversi.

Salah satu korban anggota polisi menyampaikan, pelaku sering mabuk-mabukan dan melakukan tindakan tidak terpuji.

Lanjutnya, kejadian pada tanggal (24/8) sangat kelewatan dan berlebihan, saat itu anggota polisi sedang melakukan patroli di daerah dok V dan tidak ada anggota lainnya yang berada di pos polisi.

Saat itu pelaku anak “SH” dan pelaku dewasa berinisial DL berada di depan Mako pos polisi, hingga melakukan pengrusakan dengan melempar buah kelapa dan besi aluminium menyebabkan kaca lover Mako Pos Polisi picah. Mereka juga menghancurkan meteran listrik, menghancurkan Pot Bungah serta mematahkan tiang bendera.

Diversi di tingkat pengadilan Negeri Jayapura. Proses diversi berlangsung di ruang sidang anak, dalam diversi itu lagi- lagi pihak korban tidak mau menerima penyelesaian secara damai dengan mengganti rugi fasilitas yang rusak. Pertemuan itu di fasilitasi oleh hakim anak dan dihadiri semua pihak, pada hari Jumat (27/8).

Menurut informasi yang di dapat, Kejadian tindakan pengrusakan terjadi pada jam 01. 58 Wit, pelaku melakukan tindakan pelemparan kantor Mako pos polisi Angkasa Pura. Kejadian tersebut terjadi pada hari Selasa (22 Juni 2021) lalu. Dengan kerusakan kaca lover jendela, meteran listrik, dan tiang bendera serta beberapa Vas bungan yang di hancurkan.

Sebelumnya, anak “SH” dan pelaku dewasa lainnya menunggak minuman keras jenis Jenefer sebanyak 3 botok.

Anak “SH” mengaku diajak oleh tersangka dewasa, dan yang membelikan minuman keras adalah mereka.

Di lain sisi, orangtua menyesali perbuatan anak mereka itu, dimana mereka kasih sekolah kepada setiap anak untuk menjadi manusia sukses. Orang tua berharap anaknya bisa sekolah dan berprestasi. Namun dalam pergaulan sering bersama orang dewasa sehingga akhirnya turut melakukan tindakan ini.

Menurut Orang tua, anak “SH” bila ikut kerja fisik sering membeli beras untuk kebutuhan di rumah, tapi kemarin dia ada kerja bantu orang, kemungkinan dapat uang dan bersama kakak lainnya beli minum keras.

Orangtua menyesal atas perbuatan dan mengakui bersalah tidak bisa mengawasi pergaulan anaknya itu. Walaupun demikian, bapak yang berprofesi Pekerja buruh bangunan dan ibu penjual buah pinang ini dapat menyekolahkan setiap anak-anak mereka.

Tercatat dua anak telah menyelesaikan sarjana.Sedangkan anak “SH” masih duduk di bangku studi SMK kelas III di kota Jayapura.

selain itu, ibu dari anak “SH” menambahkan sebagai orang tua datang untuk mendengarkan saja, mulai di panggil polisi sampai sidang nantinya. Memang anak kami sudah salah.

Sebelumnya Penuntut umum menuntu anak “SH” dengan tuntutan 8 bulan kurungan perjara. Namun kuasa hukum, dan PK Bapas serta Peksos memohon kepada hakim untuk meringankan hukuman karena anak masih sekolah dan kini sedang magang (praktek) di salah satu perusahaan di daerah distrik Muara Tami, Jayapura.

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *