November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kisah Penyapu Koin di Jembatan Sewo Indramayu, Antara Tradisi dan Mitos yang Dipercaya Warga

Seiring berjalannya waktu, kakek misterius kemudian datang untuk menagih janji, Saeni lalu berubah menjadi buaya putih dan terjun ke kali Sewo. Melihat Saeni berubah wujud, Saidah lalu mengabari orang tuanya di rumah. Tanpa menunggu waktu, Sarkawi dan istrinyanya langsung menuju kali Sewo. Sarkawi kemudian terjun ke sungai dan berubah wujud menjadi bale kambang atau balai (sejenis ranjang terbuat dari kayu) yang mengambang di kali Sewo. Maimunah yang juga ikut terjun lantas berubah menjadi pring ori (bambu). Tinggalah Saidah sendirian yang karena merasa lemas dan putus asa ini lantas tertidur dan berubah wujud menjadi bunga cempaka putih. Secara umum, riwayat Saidah dan Saeni versi tersebut adalah yang paling dikenal oleh masyarakat di pesisir utara Jawa Barat dari Cirebon hingga sebagian wilayah Karawang. Karena kisah inilah kemudian ada ritual ‘buang uang’ atau disebut juga tambangan dalam istilah setempat. Meski demikian, ada juga yang menyebut bahwa ritual tebar koin atau buang ini adalah untuk memberi saweran pada Saidah dan Saeni. Dimasa lalu, diyakini Saidah dan Saeni ini selalu mementaskan seni Ronggeng dengan Saidah sebagai penabuh kendang. Mereka selalu menampilkan kesenian tradisional ini di pinggir jalan di sekitar jembatan kali Sewo. Ritual buang koin ini juga makin diyakini oleh masyarakat sekitar saat ada sebuah bus mengalami kecelakaan di jembatan kali Sewo. Bus yang membawa rombongan transmigrasi pertama asal Boyolali, Jawa Tengah ini kemudian terbakar dan menewaskan 67 orang penumpangnya pada 11 Maret 1974. Hanya tiga yang selamat dan kesemuanya adalah anak-anak.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

BACA JUGA :   Jenis Kopi Robusta di Indonesia yang Wajib Kamu Tau!
Bagikan Yok!