• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kala Aku Di Ruang Sempit

ByBudi Prathama

Sep 7, 2021 ,

Siang hari aku bersemai pada diri sendiri dan bersama kawan.
Duduk di suatu ruangan yang pengap dan gelap.
Ukuran yang terbatas membuat perasaanku selalu dalam bayang-bayang kehimpitan.
Tubuh pun tak bebas bergerak dan selalu menyesuaikan pada kondisi yang ada.

Di ruang kecil kami bersama kawan nampak asyik bermedia sosial.
Memandangi tiap kotak-kotak yang ada di genggam kami.
Mulai menyusuri tiap informasi yang kencang dan sadis hari ini.
Higga hal lelucon pun jua menyusuri pada penglihatan kami.

Di kala aku duduk di ruang sempit.
Aku merasakan dalam pikiranku ada hal aneh.
Hati yang dulunya luluh, namun kini seakan memberontak.
Pikiran pun tak jua pernah tenang.
Hingga akhirnya di ruang sempit ini aku merasakan bahwa memang dunia sangatlah sempit.

Ya, dunia memang sempit bagi orang-orang yang tak berpunya.
Mereka akan terus terhantui dengan ladang kemiskinan dan kehinaan.
Siang dan malam mereka bertaruh hidup mencari makan.
Berteduh di atas panasnya matahari dan dinginnya hujan menjadi teman sepanjang masa.
Namun imbalan tak seimbang yang mereka lakukan.

Itulah nasib bagi mereka yang tak berpunya.
Mereka sangat sempit untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Mereka tak punya leluasa dalam bertindak dan bergerak.
Walau bumi ini sangat luas dalam membentangkan dirinya.

Di sisi lain jua ada sistem yang telah mengaturnya.
Para penguasa dengan topeng kekuasaan selalu bermain di belakang layar.
Kebijakan dan aturan yang makin rumit selalu mempersulit masyarakat lemah.
Hukum dan aturan yang kadang bisa dihargai hanya dengan sebatas uang.

Itulah negeri kami, negeri yang lucu dan onani yang kian banyak.
Rakyat lemah makin sempit di negeri sendiri.
Bahkan hak-haknya sebagai manusia pun kadang dirampas oleh orang-orang bejat yang tak bertanggungjawab.
Di ruangan sempit ini aku pun mampu memaknai kondisi di negeri ini, perlakuan yang selalu mempersempit pada mereka yang tak punya harta benda.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Bermuka Dua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *