• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Gadis Desa

ByBudi Prathama

Sep 4, 2021 ,

Wajah berseri sepanjang hari.
Gadis desa nampak elok dan anggun.
Ia begitu polos dan selalu menurut pada orangtuanya.
Ia pun bersikap bagai bidadari yang siap sedia untuk dipinang.

Bahkan ia seakan dibentuk dan didesain oleh budaya lokal.
Budaya kuno namun masih mencokol dalam kehidupan masyarakat.
Gadis desa selalu tampil menawang dan terus menghias diri.
Ia hanya dituntut untuk dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Menjadi gadis desa yang siap dipinang para lelaki dengan kasta tinggi.
Seakan ia dengan sewena dapat dihargai hanya sebatas uang.
Sungguh amarah tak bisa melawan keadaan.
Naluri yang memberontak pun terkunci rapat.

Gadis desa yang tak jua mengenyam pendidikan.
Hingga pikirannya pun tak ada kata melawan walau dalam ketertindasan.
Gadis desa sungguh kasihan.
Ia tak punya pilihan lain selain pasrah dan menerima keadaan.

Kemerdekaannya telah dirampas oleh budaya dan orang-orang bejat.
Kebebasan hanyalah mimpi bolong di siang hari yang ia miliki.
Mungkin ada yang berpikir hidup di rumah untuk menghias diri suatu pekerjaan mudah.
Mungkin ada yang berpikir membuat diri menjadi mutiara tanda bentuk kasih sayang.

Ohh tidak, perempuan juga ingin bebas menuruti keinginan dan cita-citanya.
Perempuan mesti dapat seperti seekor burung.
Burung yang berhak terbang ke angkasa dengan sebebas-bebasnya.
Begitu jua dengan sosok perempuan.
Ia jua punya hak untuk dihormati dan disanjung.
Mereka dapat berkarier walau hanya seorang gadis desa.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   HPI: Sudahkah memberikan keadilan ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *