• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Ketika matahariku pergi: chapter 2

Bypramayanti

Sep 4, 2021

Setidaknya masih ada yang menggenggam tangaku ketika aku berjalan, walaupun tidak di semua situasi.
Semakin bertambah umurku semakim banyak hal yang harus aku hadapi.
Banyak hal yang tidak sanggup aku hadapi tapi harus ku lalui.
Sampai akhirnya aku bisa lulus SMA dengan perjuangan yang tidak mudah.
Semenjak kakek meninggal aku mulai bekerja, bahkan masa remajaku hilang.
Di saat teman seusia ku menikmati usianya, pergi main kesana ke manari, tapi tidak dengan ku.
Sepulang sekolah aku membantu ibu tapi aku ikhlas melakukannya.
Hanya senyum dan kebahagiaan yang aku inginkan dari orang orang terdekatku.
Aku mempunyai kesempatan untuk bisa lanjut kuliah.
Aku berpikir mungkin dengan aku bisa kuliah, aku mendapatkan gelar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.
Pekerjaan yang bisa mengubah kondisi prekonomian keluarga kami.
Justru setelah aku memutuskan untuk lanjut kuliah masalah silih berganti berdatangan.
Bahkan sempat membuatku ingin menyerah, membuatku menyalahkan diriku terhadap apapun yang terjadi.
Bahkan sepupu laki lakiku yang selalu ada setelah kakek meninggal justru sekarang juga tidak ada.
Seiring waktu dia mulai sibuk dengan urusannya sampai sampai hanya untuk bertegur sapa atau menanyakan kabat dia tidak punya waktu.
Sekarang aku merasa sangat sendiri, sendiri menghadapi keras dan kejamnya dunia.
Berusaha untuk tetap melangkah walaupun tanpa ada yang menggenggam tangaku lagi.
Tidak ada yang akan membantuku untuk berdiri di saat aku jatuh.
Tidak ada yang akan meyakinkan mu lagi.
Aku benar benar harus melakukamnya sendiri, iyaa sendiri.
Berdiri dan terus berjalan di saat banyak rintangan bahkan berkali kali harus terjatuh.
Aku berhasil melewati rintangan itu, sampai aku di tahap terakhir.
Di tahap aku untuk mendapatkan sebuah gelar, bahkan tahap yang membuat sebagian orang putus asa, dan membutuhkan waktu yang lama.
Aku pikir aku akan bisa melewati tahap ini dengan tenang, ternyata aku salah.
Banyak hal yang terjadi, bahkan aku sempat ingin berhenti.
Tapi aku ingat kakek, ingat bagaimana beliau selalu mengutamakan pendidikan untuk ku.
Beliau tidak pernah menyerah, justru malah semangat.
Dan juga semua yang sudah aku lakukan selama ini akan sia sia.
Hari itu aku menangis sejadi jadinya di kamar kos ku.
Iya aku kos selama kuliah, karna tempat ku kuliah dan rumah lumayan jauh.
Aku sempat bertanya pada tuhan.
Kenapa aku???
semua aku selalu di uji?
Aku hanya meminta waktu agar aku bisa menyelesaikan ini!!!
Tapi kenapa selalu di beri rintangan silih berganti.
Kenapaaaaa????
Saat itu aku hanya bisa menangis, meluapkan semua yang aku rasakan.
Sampai aku tertidur ketika menangis.
Aku bermimpi aku sedang bersama kakek.
Beliau tersenyum padaku saat aku wisuda dan memakai toga.
Dia berjalan menuju ke arahku sambil memelukku dan berkata ” aku bangga padamu nak, lanjutkan, kamu bisa”.
Kata yang dia ucapkan ketika memelukku.
Aku memeluk beliau dengan erat bahkan sampai menangis di dalam pelukannya.
Semua itu terasa begitu nyata, sampai akhirnya hp ku berbunyi.
Dan membuatku terbangun, begitu nyata tapi ternyata mimpi.
Aku masih ingin melanjutkan mimpi itu, masih ingin berada dalam pelukannya.
Membuat semuanya terasa begitu tenang dan lega.
Tapi mimpi itu juga lah yang membuatku kembali bangkit dan semangat.
Aku yakin kalau beliau ingin melihatku bisa sukses, beliau ingin aku kuat, tegar dan berani.
Aku yakin sampai kapanpun walaupun aku tidak bisa melihat beliau secara langsung pasti beliau selalu ada untuk ku.
Pasti beliau selalu bersamaku, mana mungkin beliau akan meninggalkan ku sendirian.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   FUTSAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *