• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Ketika matahariku pergi:chapter 1

Bypramayanti

Sep 4, 2021

Ketika itu aku belum begitu mengerti arti dari sebuah kehilanga, wajar karna aku masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.
Hari hari ku yang selalu ada kakek, aku tidak pernah takut akan apapun ketika itu.
Kalau di tanya semua orang pasti tidak akan pernah mau kehilangan orang yang disayangnya.
Begitu juga dengan aku, kakek bagiku adalah pahlawan, idolaku.
Kakek mengajariku banyak hal, beliau serba bisa apapun itu.
Kakek selalu mengutamakan pendidikan bagaimana pun keadaannya.
Beliau rela bekerja keras di usianya yang susah semakin tua demi pendidikan cucunya.
Di masa beliau sekolah dulu, kelas 3 SD mungkin setara dengan perguruan tinggi sekarang.
Beliau memang orang yang rajin belajar, membaca terutama tentang agama.
Hariku selalu ada beliau, beliau yang memberikan aku kebebasan untuk melakukan apapun.
Dan beliau juga yang mengajariku untuk bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan.
Semua keluarga kami hidup rukun, ada satu sama lain bahkan kami para cucunya selalu kumpul setiap minggu di rumah beliau.
Pernah suatu ketika terlintas di benakku jika beliau tidak ada lagi di dunia ini, apakah semuanya masih akan seperti ini????
Apakah akan berubah, bagaimana selanjutnya??? Tiba tiba pertanyaan itu muncul di benakku.
Aku tidak mau membayangkannya, dan aku tidak mau kehilangan beliau.
Kehilangan raja di hidup kami, yang selalu mengarahkan, membimbing dan melindungi kami semua.
Tapi allah berkata lain, kurang lebih 3 bulan setelah itu beliau jatuh sakit.
Kami semua ada untuk beliau menemani hari harinya.
20 hari beliau sakit dan sempat di bawa ke rumah sakit, setelah beberapa hari di rumah sakit kondisi beliau semakin membaik sehingga beliau maksa untuk pulang.
Ketika beliau pulang aku tidak berada di rumah itu, karna aku yang juga sedang sakit.
Keesokan paginya masih subuh, cuaca masih gelap tiba tiba ibuku di kabarkan kalau kakek sudah tidak ada lagi.
Ibu begitu histeris mendengar kabar itu, aku yang mendengar kabar itu hanya terdiam.
Bahkan mulutku sendiri tidak mampu untuk bicara, setelah mendapatkan kabar itu semuanya langsung ke kurmah kakek.
Aku langsung masuk kerumah kulihat kakek sudah di tutupi oleh kain dengan badan yang terbujur kaku.
Tidak ada satu kata yang bisa aku katakan, hanya air mata yang menetes melihatnya.
Aku mencoba menenangkan diri, aku mengatakan kalau kakek cuma tidur, hanya tidur.
Orang orang yang melayat mulai berdatangan, bahkan semua sanak saudara berdatangan.
Sampai ketika beliau akan di kuburkan, aku dilarang ikut karna sedang sakit ditambah lokasinya yang lumayan berjarak dari rumah.
Beliau di kuburkan di tempat yang sudah beliau amanatkan.
Hari demi hari semuanya berubah begitu cepat, bahkan kehangatan dan kebahagiaan hilang dari hidupku.
Yang dulunya selalu ada satu sama lain, saling melindungi sekarang semuanya berbanding terbalik.
Semua yang tidak mau aku bayangkan, pertanyaan pertanyaan yang pernah melintas di benakku waktu itu sekarang mendapatkan jawabannya.
Semua yang menjadi ketakutanku menjadi kenyataan.
Sekarang tidak ada lagi beliau, beliau yang akan melindungi kami, pahlawanku sudah tidak ada lagi bersama kami.
Aku tidak mau terlalu meratapi akan kepergian beliau, aku juga tidak mau kalau beliau nantinya tidak tenang.
Walaupun dengan penuh keraguan kami harus tetap bertahan dan melangkah satu persatu.
Walaupun aku tau tidak akan ada lagi pegangan dan tangan yang akan menolong di kondisi yang berbahaya.
Aku berjanji pada diriku untuk melindungi semuanya, aku ingin kakek bangga padaku.
Dan aku masih ada sepupu laki lakiku yang selalu ada di belakang ku terutama soal pendidikan.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Hari Nan Fitri Yang Penuh Luka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *