November 30, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

5 Gunung Terangker di Jawa Barat dengan Kisah Mistis dari Para Pendaki

5. Gunung Gede Pangrango Kisah aneh lainnya juga dialami oleh salah satu pendaki yang bernama Amadea Laras. Hal tersebut ia alami sekitar tahun 2013 bersama rekan-rekannya di klub pecinta alam di sekolahnya yaitu Ospala.Saat mendaki, ia dan teman-temannya mengalami hal mistis. Ia melihat sesosok makhluk menyerupai manusia saat berada di Puncak Gunung Gede Pangrango tepatnya di Lembah Mandalawangi.”Saya ingat sekali dia kayaknya pakai celana pendek, maksudnya bentuknya kayak orang aja, kayak manusia biasa. Makanya saya kira itu senior saya atau saya kira itu teman-teman saya, dia duduk nah pas saya buka mata. Dia cuma bilang gini “eh mau ngapain kamu di sini, jangan berisik ya, jangan ganggu,” cerita Amadea.Saya seperti diajak bericara sama sesuatu tapi bentuknya kayak orang. “Lantas sosok orang itu tiba-tiba enggak ada dan orang itu berada di samping saya cukup lama,”Senior saya padahal sudah bilang untuk tidak boleh berisik. Karena terlalu excited naik gunung, teman-temannya namanya juga anak baru dan baru naik gunung jadi begitu sampai puncak kami foto-foto mungkin teriak-teriak juga teman saya. Tak hanya itu, salah satu teman Amadea pun mengami hal yang kurang menyenangkan juga mengalami hal. Secara tiba-tiba temannya menangis dan melihat seekor anjing dengan mata yang menyala.“Teman saya melihat seekor anjing namun tapi matanya nyala,” ujarnya.Dan perjalanan ini justru lebih lama karena kami kehilangan arah. Karena ia merasa seperti diputar-putar saja.”Jadi total kami jalan itu sekitar 8 jam perjalanan, jadi dua kalinya durasi kami naik gunung. Pengalaman mistis ini membuat waktu yang dibutuhkan untuk turun gunung menjadi lama, malah 2 atau 3 kali lipat lebih lama karena papan penunjuk arah enggak ada dan enggak kelihatan sama sekali padahal senior saya mungkin sudah bolak-balik gunung itu udah puluhan kali karena dia juga salah satu ranger di gunung itu,” kenang Amadea.Setelah itu, di pagi harinya sekitar jam 05.30 WIB, Amadea dan yang lain memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Aeh tapi beruntung, mereka akhirnya menemukan papan penunjuk.”Padahal semalam plang tersebut enggak ada dan akhirnya kita memutuskan untuk turun, meskipun di perjalanan selalu diwarnai dengan penglihatan-penglihatan aneh atau suara-suara aneh yang bahkan bukan saya doang yang dengar,” tutupnya.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

BACA JUGA :   Pendakian Jalur Selatan Rinjani
Bagikan Yok!