• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perempuan-Perempuan Metropolitan: Bunda Marissa

ByMasSam

Sep 3, 2021

Senangnya. Bangun pagi-pagi. Bisa hirup udara bersih. Segar.
Ternyata di kota metropolitan. Kita masih bisa dapatkan udara sejuk. Apabila mau bangun pagi subuh. Jika kesiangan sedikit saja. Udara sudah berubah menjadi pengab. Polusi.
Ini hari pertamaku di kota metropolitan. Hari keduaku meninggalkan kampung halaman. Oh ya, aku belum sempat cerita semalam. Aku adalah seorang koresponden. Semacam wartawan yang ditempatkan di luar kota. Setiap hari aku harus mengirim berita ke kamtor.
Jangan heran. Sekarang internet sudah sampai ke desa-desa. Informasi dengan cepat dapat diakses penduduk kampung. Makanya berita apapun di belahan dunia diketahui oleh masyarakat. Termasuk berita tentang perempuan-perempuan metropolitan.
Aku belum tahu. Akan memburu sosok siapa. Kata pak redaktur cerita tentang perempuan-perempuan metropolitan menarik para pembaca. Makanya aku ditugaskan untuk meliput sosok-sosok perempuan metropolitan.
“Kau carilah berita tentang perempuan-perempuan metropolitan. Pembanca pasti suka” begitu perintah pak redaktur.
“Perempuan metropolitan yang seperti apa, Bos?” tanyaku.
“Pinter-pinter kau nulislah” jawabnya enteng.
Aku pusing. Tidak kenal satu orang perempuan pun di kota metropolitan ini. Harus bagaimana?
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kenapa bukan ibu kos saja yang menjadi nara sumber pertamaku, batinku. Dasar nasib baik. Baru membatin beliaunya sudah di depan mata. Baru menyirami tanaman hias koleksinya.
“Selamat pagi, Bunda” sapaku.
Aku ikut saja memanggilnya begitu. Semalam aku dengar pembantunya memanggil dengan sebutan bunda.
“Eh sudah bangun, Sri. Masih pagi” katanya.
Aku baru sadar juga. Ternyata penghuni kos lain belum ada yang bangun. Kebiasaanku memang bangun pagi. Setelah bangun bantu ibu di dapur. Siapkan sarapan pagi buat anggota keluarga.
Sambil terus menyirami bunga. Kami mengobrol. Merasa cocok. Ibu kos bercerita panjang lebar. Bahkan yang menyangkut masalah pribadi. Sungguh aku tak menyangka mendapatkan sumber berita di hari pertamaku bertugas di kota metropolitan.
Bunda Marissa, begitu anak-anak kos memanggilnya. Seorang janda yang ditinggal pergi suaminya. Laki-laki yang sudah hidup bersama lebih dari dua puluh tahun itu. Meninggalkannya demi seorang perempuan. Sekretaris di kantornya.
“Untungnya saya bisa kelola uang. Jadi saya bisa hidup dari buka rumah kos-kosan” jelasnya. “Makanya kamu harus pinter-pinter nyimpen duit. Buat jaga-jaga. Rumah harus atas nama istri. Seperti saya, Sri” lanjutnya.
Aku hanya mengangguk. Kulihat matanya mendung. Ada butiran bening di sudut matanya. Mau jatuh. Pasti ada cerita perih dibalik sorot matanya yang redup itu, pikirku.
“Aku harus bisa mengorek masa lalu kehidupan bunda Marissa” kataku dalam hati mantab.

BACA JUGA :   Puisi: Ayah, Sang Pejuang Tak Kenal Lelah

Mas Sam
(Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan saja)

MasSam (46)

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *