• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerbung: Perempuan-Perempuan Metropolitan

ByMasSam

Sep 2, 2021

Kenalkan namaku Sri. Asli dari Jawa. Maaf ya kalau bahasaku masih medok. Maklum baru pertama kali datang ke kota metropolitan.
Tadi pagi sehabis subuh. Berangkat dari kampung dengan naik kereta kelas ekonomi. Di antar bapak sama simbok sampai stasiun.
Pas habis maghrib sampai. Ternyata benar kata orang-orang. Kota metropolitan itu gemerlap. Lampu berwarna-warni indah. Gedung-gedung menjulang tinggi. Bikin kagum semua orang. Pantas mereka ingin datang ke metropolitan.
Beda sekali dengan keadaan di kampung. Kalau malam gelap gulita. Sementara kalau siang gersang. Kering dan berdebu. Sebabkan orang-orang, terutama anak-anak muda, tidak betah tinggal di desa.
Nekad merantau ke kota. Modalnya hanya nekad. Tanpa keahlian atau ketrampilan yang cukup. Memang siapa yang tidak tergiur melihat keberhasilan orang-orang yang sudah lebih dulu datang ke metropolitan. Penampilannya membuat iri.
Aku amati sepintas sepertinya ada yang berbeda. Kontras. Di balik gedung-gedung megah dan cahaya lampu yang benderang. Terlihat gubuk-gubuk dan tempat-tempat yang gelap gulita. Di kampung saja tidak ada rumah seperti gubug itu. Kalau gelap memang sama.
Ngomongin rumah gubug. Aku jadi teringat. Belum tahu akan tinggal di mana. Di kota metropolitan ini aku tidak punya sanak saudara.
Desir angin malam lembut menyapaku. Kulitku merasakan sentuhannya. Pertanda aku harus segera mencari tempat tinggal. Merebahkan tubuh untuk mengembalikan kesegaran. Hilangkan lelah karena perjalanan seharian.
“Angin malam tidak baik untuk anak perempuan, Nduk.” Tetiba aku teringat pesan bapak.
“Bang, tahu tempat kos-kosan?” tanyaku kepada tukang ojek yang mangkal di dekat stasiun.
Alhamdulillah. Abang tukang ojek berbaik hati. Siap mengantarkan aku mencari tempat kos-kosan.
“Jangan yang mahal-mahal, Bang.” kataku.
“Beres, Neng.” katanya dengan sigap membawaku melewati gang sempit.
Di depan sebuah rumah tinggal kami berhenti. Setelah memencet bel. Keluar seorang perempuan. Dilihat dari penampilannya sepertinya pembantu rumah tangga.
Aku dipersilahkan duduk di teras. Menunggu yang punya rumah keluar. Seorang perempuan paruh baya. Penampilannya bersih. Bicaranya santun.
“Silahkan masuk ke kamarnya, mbak Sri” kata perempuan yang tadi membukakan pintu gerbang.
Ya. Setelah mendapatkan penjelasan dan kesepakatan pembayaran uang kos. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah kos-kosan ibu Marissa. Kamarnya sederhana tapi bersih.
Malam ini aku istirahat dulu. Besok kita cerita-cerita tentang ‘Perempuan-perempuan Metropolitan’. Mau kan kamu membaca kisahku menjelajahi kota merropolitan ini?
Mas Sam
(Cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan saja).

MasSam (38)

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Dalam Waktu Dekat Akan Diadakan Pertemuan Antar Organisasi Kesukuan Yang Ada di Aceh Tanggara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *