• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Menata Mural, Menghidupkan Seni Jalanan

ByMasSam

Agu 31, 2021

Belakangan ini ramai diperbincangkan tentang mural. Lukisan pada dinding. Begitu arti sesungguhnya dari kata mural.
Sejatinya lukisan pada dinding (baca: gua-gua) sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Mural pada masa prasejarah diketemukan di Mesir dan Perancis. Jangan kaget. Di Sulawesi juga diketemukan mural di dinding gua-gua batuan karts.
Orang jaman dahulu melukis di dinding untuk ‘mendokumentasikan’ budaya masyarakatnya. Misalnya menggambarkan cara pemujaan kepada leluhur atau tehnik berburu binatang.
Di jaman modern mural berkembang secara lebih luas. Bukan hanya dalam tehnik melukisnya. Tetapi juga media dan tujuannya.
Tehnik melukis dinding sudah menggunakan peralatan modern dan canggih. Demikian pula dengan cat yang digunakan. Semakin tahan lama dan beraneka warna.
Media lukisnya pun bukan sekedar tembok dinding. Tapi sudah menyatu dengan seni arsitekstur. Ruangan rumah, cafe, restoran dan stadion sudah akrab dengan mural.
Saat ini mural tidak berdiri sendiri. Seni jalanan ini mengusung beragam tujuan. Dari sekedar untuk menambah keindahan, persuasi sampai yang berbau politis. Mural “404: Not Found” atau “Kami Lapor Tuhan” yang sekarang ramai diperbincangkan adalah contohnya.

Menata Mural
Tulisan ini tidak hendak bicara soal politik. Akan tetapi lebih ke gagasan dari sudut seninya saja.
Kalau kita baca-baca buku sejarah. Pada masa perjuangan nyatanya seni melukis di dinding ikut berperan. Biasanya bersandingan dengan grafiti (seni tulis).
Semboyan merdeka atau mati. Bersanding dengan lukisan pejuang sedang mengacungkan bambu runcing. Membakar semangat para pemuda pejuang. Bisa kita temukan di dinding-dinding rumah penduduk, tembok pagar dan gerbong kereta.
Pertanda mural efektif untuk tujuan positif. Sekarang lukisan berupa himbauan untuk menerapkan pola hidup sehat dan selalu menerapkan protokol kesehatan. Banyak kita jumpai di sudut-sudut kota.
Dari sini penulis menggagas untuk menata mural. Sembari menghidupkan seni melukis di dinding itu sendiri.
Pertama, menyediakan tempat sebagai wahana penyaluran ekspresi para seniman mural. Tidak ada salahnya fasilitas umum dijadikan sebagai medianya.
Kedua, memberikan bimbingan. Tidak bisa dipungkiri mural sebagai media pengungkapan jiwa muda. Dengan bimbingan yang tepat. Tanpa mengebiri ekspresi seninya. Mural dapat memberikan sarana meluapkan emosi tanpa merusak menjadi kondisi yang menyenangkan.
Gedung-gedung pemerintah atau fasilitas umum lainnya. Akan menjadi lebih sedap dipandang mata. Ketimbang hanya bercat polos.
Untuk menata mural swbagai seni jalanan. Kata kuntjinya adalah sediakan media dan bimbingan. Tanpa mengekang jiwa seninya.
Semoga!

BACA JUGA :   Resep Keripik Tempe Renyah

Mas Sam

MasSam (46)

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *