• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kondisi Budaya Patriarki di Masyarakat

Sedikit sekali orang yang mencoba menampilkan dominasi laki-laki sebagai sebuah persoalan dan masyarakat kita sendiri nampaknya tidak terlalu mempersoalkan dominasi tersebut.

Hal ini barangkali lebih disebabkan karena dominasi laki-laki belum disadari oleh sebagian besar perempuan atau kalaupun sudah disadari, kecenderungan kaum perempuan untuk tetap mempertahankan kondisi ini juga perlu dipertimbangkan karena kondisi patriarki ini memberi keuntungan pula bagi kaum perempuan.

Suatu analogi contoh yang mampu menggambarkan keadaan tersebut adalah kerja sama diam-diam dari para budak dalam sistem perbudakan tanpa kerja sama seperti itu, perbudakan tidak akan berlangsung lama.

Demikian pula yang terjadi dengan kaum perempuan. Mereka adalah bagian dari sistem dan menghayati nilai-nilainya serta tidak bebas dari ideologi patriarki.

Secara historis-sosiologis, dominasi laki-laki atas perempuan telah ada sejak manusia mulai mengenal tatanan hidup sebagai manusia.

Ketika manusia mulai menyadari dirinya sebagai makhluk sosial yang melakukan interaksi dengan lingkungan di luar dirinya secara alamiah dan membawa manusia kepada struktur sosial yang saling mendominasi.

Jenis pembagian kerja secara Seksual pun berkembang. Kaum lelaki bercocok tanam dan berburu, sementara kaum perempuan mengurus anak dan rumah.

Ketika laki-laki telah berhasil menguasai teknik bercocok tanam dan sekaligus menjinakkan binatang, mereka mengembangkan kemampuan itu sehingga menimbulkan bias dominan.

Frederick Engels, seorang sosiolog Jerman, mengatakan dalam keadaan seperti itulah hak milik pribadi terbentuk.

Menurutnya, laki-laki berkehendak mendapatkan kekuasaan dan kekayaan dan mewarisinya Kepada anak-anak mereka sehingga untuk memastikan pewarisan ini, hak ibu di hapuskan.

Inilah yang dikatakan Engels sebagai kekalahan bersejarah jenis kelamin perempuan dunia.

Sistem patriarki adalah suatu struktur yang tumbuh akibat perkembangan pola kehidupan masyarakat dimana sistem ini berkembang secara alamiah dan memiliki permulaan dalam sejarah.

BACA JUGA :   Perempuan di Bandung Tak Bisa Tidur selama 7 Tahun, Psikiater Ungkap Fakta Ini

Dengan asumsi demikian, artinya patriarki sebagai suatu bentuk eksploitasi atas diri perempuan bisa pula diakhiri dengan proses sejarah.

Kamla Bhasin, seorang aktivis pendiri organisasi perempuan “Jagori”, mencoba menyoroti patriarki sebagai realitas dalam kehidupan kita dan sebagai konsep yang menjelaskan subordinasi perempuan.

Bhasin mengatakan bahwa keadaan laki-laki yang lebih tinggi dari pada perempuan dan bahkan perempuan harus di kontrol oleh laki-laki, telah menjadi ideologi yang melekat.

Setidaknya Bhasin menyebutkan lima bidang kehidupan Perempuan yang berada di bawah kontrol laki-laki : bidang daya produktif atau tenaga kerja perempuan, reproduksi perempuan, seksualitas perempuan dan gerak perempuan serta sumber daya ekonomi perempuan.

Dalam bidang daya produktif, kontrol atas Perempuan berwujud dalam apa yang disebut ” mode produksi patriarki” tenaga Perempuan dieksploitasi oleh suami dan orang orang lain yang hidup disekitarnya.

Disinilah laki-laki memperoleh keuntungan secara material dari sistem laki-laki juga mengontrol daya reproduksi perempuan.

Di dalam masyarakat, kaum perempuan sering tidak memiliki kebebasan untuk memutuskan berapa anak yang mereka inginkan dan kapan, apakah mereka bisa menggunakan kontrasepsi atau tidak hamil lagi dan sebagainya.

Selain kontrol individu, laki-laki mendominasi dalam sistem yang lebih luas lagi. Aturan-aturan mengenai kapasitas reproduksi yang mendapat legitimasi negara adalah contoh konkret nya.

Ideologi di balik kontrol seperti ini adalah ideologi peng-ibuan. Sistem patriarki tidak hanya memaksa perempuan menjadi ibu, tapi juga menentukan kondisi kondisi peng-ibuan mereka.

Kontrol atas seksualitas perempuan adalah bidang subordinasi perempuan berikutnya. Perempuan diwajibkan memberi pelayanan seksual kepada laki-laki sesuai dengan kebutuhan dan keinginan si lelaki.

Menurut Bhasin, setiap masyarakat memiliki norma-norma hukum dan susila yang membatasi ekspresi seksualitas perempuan di luar pernikahan, sedangkan prostitusi bagi laki-laki di biarkan saja.

BACA JUGA :   Nostalgia - Kisah Stadion Siliwangi yang Jadi Bagian Sejarah Persib Bandung

Selain itu, perkosaan dan ancaman perkosaan adalah cara lain dominasi terhadap perempuan melalui pemberlakuan gagasan tentang “malu” dan “kehormatan”.

Untuk mengontrol seksualitas perempuan, pakaian, tindakan, dan gerak mereka diawasi dengan seksama dengan aturan-aturan bertingkah laku keluarga, sosial budaya, dan agama.

Perempuan tidak memiliki kebebasan ruang gerak karena pembatasan yang diberlakukan oleh kaum laki-laki.

Harta milik dan sumber daya produktif pun tidak ketinggalan mendapat kontrol dari laki-laki, sering kali perempuan dikalahkan dalam hal pembagian warisan.

Sekalipun menurut hukum, perempuan mempunyai hak untuk mewarisi harta, namun seluruh praktik kebiasaan, rekanan Perasaan, sanksi sosial, dan kadang-kadang kekerasan yang gamblang, mencegah mereka bisa memiliki kontrol atasnya. Tentu budaya Patriarki sebagai persoalan yang kompleks di masyarakat.

Dominasi laki-laki terhadap perempuan telah menguasai berbagai bidang kehidupan. Mulai dari diri perempuan sebagai individu sampai pada suatu kondisi dimana perempuan menjadi bagian dari sistem sosial.

Dengan analisis yang ketat, Bhasin memperlihatkan bahwa lembaga-lembaga masyarakat cendrum bersifat patriarki. Keluarga, agama, media, hukum adalah pilar dari sistem patriarki.

Sistem yang terjalin dengan kokoh dan berakar membuat patriarki tidak begitu kelihatan, dan juga membuat nampak alamiah.

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *