• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kehilangan :chapter 1

Bypramayanti

Agu 31, 2021

5 bulan setelah hubungan kita berakhir, walaupun menyakitkan tapi aku susah move on dari dia.
Yang selalu ada dalam ingatanku adalah momen saat bersama dia, kenangan bahagia bahkan sedih saat bersama sama.
Dia adalah orang yang berhasil membuatku membuka hatiku lagi, setelah sekian lama tidak ada orang yang berhasil membuka pintu hatiku.
Tapi dia berhasil. Dia berhasil menjadi pelengkap dalam hidupku, bersama dia aku selalu bahagia.
Bersama dia apapun dan seberat apapun masalah pasti akan bisa teratasi, tapi sekarang justru dialah yang memberikan luka yang sangat dalam.
Orang yang selama ini berhasil membuatku nyaman dengan diriku sendiri, nyaman dengan karakterku, orang yang selalu membuatku optimis.
Sekeras apapun aku berusaha untuk melupakan dia justru yang terjadi malah yang sebaliknya.
Aku semakin mengingat dia, mengingat semua momen dengannya. Sampai akhirnya aku bertemu dia seorang cowok di tempat magang.
Tinggi, kulit putih, ramah, baik, dan tau cara menghargai dan melindungi perempuan. Siapa sih yang gak akan tertarik dengan dia.
Awalnya aku hanya kagum, karna jarang ada cowok yang begitu ramah, baik, bahkan hambel sama semua orang.
Hanya sebatas kagum karna saat itu aku masih belum move on dari mantanku itu.
Dan ternyata di hari ke 2 ku magang, aku di tempatkan di tempat dia. Awalnya aku canggung dan agak males karna biasanya cowok baiknya cuma modus.
Tapi kali ini aku salah, dan benar benar salah. Ternyata dia memang baik dan ramah sama semua orang.
Dia mengajarkanku banyak hal, dia juga yang selalu mengajakku ngobrol, bahkan yang selalu membuatku tertawa.
Setiap pagi pasti dia yang selalu menyapaku. Dia sempat memberikan nomor telponnya padaku.
jika ada yang mau di tanyakan pada pekerjaan yang aku kerjakan agar bisa di telpon katanya.
Karna dia ingin pergi kekantin dan sebelumnya sudah dia jelaskan terlebih dahulu padaku.
Tapi kembalinya dia dari kantin aku tidak menelpon dia karna aku paham dengan apa yang sudah di jelaskannya tadi.
Nomor telpon yang dia tulis di kertas tadi masih tersimpan di atas meja, dia mengambilnya dan membuang ke tempat sampah.
Aku yang awalnya canggung ke dia, tapi perlahan lahan sudah mulai biasa aja, bahkan dia tidak membiarkanku diam.
Jika dia melihatku diam dan sangat fokus terhadap pekerjaan pasti ada ada aja pertanyaan dari dia yang membuat kita ngobrol.
Setelah 1 minggu aku magang di sana, barulah dia meminta nomorku.
Aku memberikannya dan bahkan dia juga sering komentar di setiap postingan WA ku.
Palingan hanya karna baru kenal makannya dia baik kata ku dalam hati sambil membalas pesannya.
Aku yang masih belum bisa move on dan takut patah hati lagi lebih menjaga jarak dengan laki laki.
Karna aku gak mau dan gak siap untuk di kecewain dan patah hati.
3 minggu berlalu, sikap baik, ramah dan humbel nya tidak berubah. Bahkan tanpa aku sadari kedekatan kita membuatku perlahan bisa melupakan mantanku.
Banya hal yang menjadi topik pembicaraan kita ketika bertemu, walaupun umur kita berjarak 4 tahun dia lebih tua dariku.
Tapi dia selalu bisa menempatkan posisinya, bahkan kita bisa becanda seperti orang seumuran.
Aku yang paling bete liat dia kalau udah main game, karna apapun yang aku tanyakan bahkan soal pekerjaan sekalipun.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Tips Menulis untuk Penulis Pemula

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *