• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kehadiran dia: chapter 5

Bypramayanti

Agu 31, 2021

“Iya,, tapi kalau udah selesai kuliah langsung gabung ya” katanya
“Siap bang azzam” kataku.
Selama di perjalanan kita selalu mengobrol, dan sampai lah di parkiran fakultas. Kebetulan arah kelasku dan juga sekre satu arah.
Sehingga kita jalan bersama. Sesampainya di depan gedung tempat ku kuliah.
“Bang azzam makasih ya kita udah di ajak bareng, kita ke kelas dulu ya bang” kataku sambil menghentikan langkah ku.
“Iya sama sama si” jawab bang azzam sembari menghentikan langkahnya juga.
“Kita duluan ya bang” kataku sambil melangkah pergi
“Iyaa” katanya, sambil kembali melanjutkan langkahnya.
“Si mimpi apa sih aku tadi malam bisa ke kampus bareng bang azzam” kata yola sambil berjalan menuju kelas.
“Ada ada aja kamu yol,” kataku sambil terus berjalan.
Setelah selesai kuliah aku langsung menuju tempat kumpul anggota baru, di samping sekre.
Semuanya sudah kumpul dan hanya aku yang terlambat,
“Assalamualaikum kak izin gabung kak” kataku.
“Kenapa kamu terlambat?” Tanya salah satu panitia
“Tadi ada kuliah dulu kak,” jawabku.
“Kenapa gak minta izin dulu, kan udah di bilang kalau gak boleh ada yang datang terlambat” katanya.
“Aku udah minta izin langsung ke bang azzam tadi kak” jawabku.

Tiba tiba bang azzam membisikkan sesuatu ke kakak panitia itu, dan aku pun di perbolehkan untuk gabung dengan teman teman yang lain.
“Kamu udah kenal sama bang azzam ya?” Tanya salah satu teman angkatanku
“Aku tau dia udah lama, kan banyak di kampus ini yang mengidolakan dia, tapi baru waktu aku gabung disini aku pernah ngobrol sama dia” jelasku.
“Aku pengen banget bisa ngobrol sama dia, aku gabung ke sini cuma karna ingin bisa kenal sama bang azzam” katanya.
Aku hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi perkataan teman ku itu.
Sampai acaranya pun berakhir, dan kami dinyatakan resmi menjadi anggota di organisasi itu.
Bahkan di angkatan kami harus ada pemilihan ketua, sekretaris dan juga bendahara.
Sedangkan ketua umumnya adalah bang azzam itu sendiri.
Ketika pemilihan itu, aku dipilih langsung oleh bang azzam sebagai ketua untuk angkatanku.
Aku tidak bisa menolaknya dan aku menerimanya. Dan sekretarisnya laki laki.
Setelah acara itu selesai yang lain sudah pada pulang kecuali kami yang sebagai ketua, dan sekretaris di suruh kumpul dulu.
Disitu lah di jelaskan kepada kami siapa aja ketua di setiap angkatan dan menjelaskan tugas ketua.
Apapun yang terjadi dalam angkatanitu ketua harus mengetahuinya, jika ketua tidak bisa menyelesaikannya baru di katakan ke ketua umum.
Dan nanti ketua umum yang akan menindaklanjutinya.
Setelah bang azzam selesai menjelaskan baru semuanya pulang.
Bahkan ada salah satu kakak senior itu yang minta pulang bareng sama bang azzam tapi dia menolaknya.
Dengan mengatakan kalau dia mau ke toko buku, tapi kakak itu tetap kekeh dengan mengatakan.
Dia mau nemenin, tapi lagi lagi bang azzam menolaknya, justru dia bilang dia udah minta temenin aku ke toko buku.
Karna aku yang tau toko buku itu. Aku yang mendengarnya hanya bingung karna sama sekali bang azzam gak bilang apapun.
“Yuk si nanti toko bukunya tutup lagi” katanya sambil menggandeng tanganku.
Aku hanya mengikuti dia tanpa bicara apapun.
Sampai di depan gerbang fakultas aku meminta dia untuk melepaskan tangaku.
Dan barulah dia lepaskan. “Yok pulang bareng” katanta
“Tapi bang…” perkataanku terpotong dan dia langsung menimpali perkataanku.
“Mau di gandeng lagi” katanya
“Enggak” jawabku

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Puisi Untuk Kaki ku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *