• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perjalanan Akhir Pekan di Tana Tabi

Jayapura- Ini hari adalah hari Sabtu. Tidak ada pekerjaan yang harus saya kerjakan di rumah atau pekerjaan tugas lainnya sebagai pekerja sosial.

Jadi seperti biasanya saya mengatur rute perjalanan mengunjungi tempat yang indah, perjalanan yang sunyi, jalan yang menantang dan menikmati panorama alam yang indah dan eksotis.

Motor dengan mesin bandel yang sudah satu tahun saya pakai menjadi solusi di setiap langkah perjalanan. Kali ini dari kota Jayapura dengan motor bebek merk karisma harus melaju menuju kabupaten Jayapura, dan masuk ke wilayah adat grime dan Nawa.

Sebelumnya saya melewati gugusan tanjung pinggiran danau Sentani yang eksotis, kampung-kampung yang berada di pinggiran danau Sentani dan perbukitan dengan hembusan angin sepoi-sepoi membuat rerumputannya yang khas kian bergoyang satu arah.

Tidak terasa sampai di pertigaan lembah grime nawa dan saya memilih masuk ke arah distrik kemtuk. Dari situ papan arah jalan menunjukkan distrik kemtuk, kampung Puay, hingga tembus ke kabupaten Keerom.

Saya mengikuti rambu arah jalan itu, dari distrik kemtuk, saya harus melewati belakang danau Sentani dan menemukan beberapa kampung yang jarang di lewati Kalayak masyarakat pada umumnya.

Beberapa jembatan rusak dan terbengkalai begitu saja. Rumah warga yang sederhana tersusun rapi mengikuti jalan.

Nampak ada warga sedang pulang dari kebun. Ada seorang nenek tua berambut putih, berkeribut di pipih, membawa kayu bakar. Ada juga beberapa keluarga sedang mencangkul tanah untuk menanam.

Di sepanjang jalan saya menemukan warga menanam padi, berhektar-hektar. Menanam Vanili serta tumbuhan jangka pendek lainnya seperti jagung, kacang singkong dan lainnya.

Nampak anak kecil bermain di kebun milik Orangtua. Lihat, mereka ceria mengisi hari dengan alam. Menunggu waktu hingga petang datang. Meluap rasa bahagia dengan senyum simpu. Oh, indah sekali hari ini, yang di laluinya tanpa beban hidup, ceria yang tulus menjadikan hati kian tenang.

BACA JUGA :   Asal Usul Nenek Moyang Indonesia

Disana, di negeri kenambai umbai, ku merekam dan menulis apa yang aku lihat soal hari-hari mereka yang nampak bahagia.

Dari distrik kemtuk, ku melewati dua puluh mata air yang mengalir ke danau Sentani hingga tiba di kampung Yokiwa. Itu tandanya perjalanan saya lewati barat kemtuk hingga tiba di timur kampung Yokiwa, tempat dimana pembuangan air danau Sentani. Jaraknya tempu yang dilalui sekitar 60 kilo meter.

Tidak lupa saya mengunjungi danau love. Salah satu objek wisata di kampung Yokiwa. Danau love berada di belakang danau Sentani, bentuknya menyerupai hati. Daerah di belakang danau Sentani terhampar luas Savana dan lembah serta mata air kecil lainnya yang mengalir ke danau love. Jalan menuju danau love bisa melewati kota Jayapura, melalui kampung Yoka. Jalan kesana sudah diaspal dan bisa di lewati kendaraan motor dan mobil.

Keindahan dan panorama alam menyejukkan hati dan perasaan. Warga kota Jayapura dan kabupaten Jayapura dan Keerom, sering mengunjungi danau love ini bersama keluarga. Tidak lupa mereka menikmati indahnya matahari terbenam dari arah barat dan mengabadikan moment indah itu.

Perjalanan kali ini, tidak berakhir sampai di kampung Yokiwa, Kabupaten Jayapura. Tetapi saya harus melanjutkan perjalanan ke arah timur tepatnya ke kabupaten Keerom. Kabupaten Keerom adalah salah satu daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini (PNG).

Jarak tempuh dari kampung Yokiwa menuju kabupaten Keerom sekitar 5 kilo meter. Perjalan ke Keerom tidak begitu menantang seperti perjalanan dari distrik Kemtuk ke kampung Yokiwa.

Warga Keerom setelah beraktivitas di kota Jayapura sering memilih jalan melewati kampung Yokiwa karena jalan ini lebih dekat sampai ke keerom di bandingkan dengan jalan lewat distrik Muara Tami kota Jayapura yang harus memutar jauh lewat, Holtekam, koya dan masuk ke arah keerom.

BACA JUGA :   Penampilan

Saya tiba di Kabupaten Keerom sudah sore hari dan bertemu dengan pade penjual kelinci. Di Keerom banyak orang pendatang. Mereka adalah warga transmigrasi dari pulau Jawa, Bali, Sulawesi dan dan NTT. Jadi jangan heran di kabupaten Keerom banyak hasil pertanian, pertenakan.

Pade penjual kelinci tinggal di Arso 10 jalan cempedak. Saya ingin bertemu dan bertanya mendalami ilmu soal budidaya kelinci. Pade kelinci suka memasarkan kelinci di persimpangan jalan ring road, Hamadi kota Jayapura. Saya sudah pernah membeli kelinci darinya. Untuk itu saya ingin bertandang ke rumah pade sambil melihat dan belajar soal budidaya kelinci ini.

Di Arso 10, semua warga tahu siapa itu pade penjual kelinci. Saya awalnya cuma tahu pade tinggalnya di Arso 10, jadi setelah sampai saya menanyakan warga setempat di mana rumah pade penjual kelinci dan ada beberapa anak kecil yang mengantar saya ke rumah pade tersebut dan bertemu dengannya.

Di rumah sederhana itu pade dengan keluarga besarnya hidup. Dia menunjukan kelinci peliarahannya yang terletak di belakang rumah. Dan banyak pelajaran yang saya dapatkan soal budidaya kelinci. Sebagai tamu, istrinya tidak lupa menyiapkan kopi dan hidangan alakadarnya.

Kami banyak bercerita dan tidak terasa sudah malam sehingga saya harus pamitan kepada keluarga ini karena harus pulang ke kota Jayapura dengan menempuh jarak 11 kilo meter dari kabupaten Keerom.

Inilah rangkaian perjalan saya yang cukup menantang dan menguras tenaga karena melewati jalan yang kurang baik, berbatuan, becek, dan melewati sungai yang airnya batas lutut orang dewasa hingga melewati jalan curam. Namun semua itu saya lewati dari Kota Jayapura, melewati barat kabupaten Jayapura hingga timur kabupaten Keerom, Papua dan kembali ke kota Jayapura.

BACA JUGA :   Tetap bertahan: chapter 2

Dan ingat, tunggu lagi cerita jalan2 saya di episode yang akan datang.

Paskalis (34)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *