• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cinta, Cita dan Rasa Anas (Bagian 3 Selesai)

ByPaskalis

Agu 30, 2021 ,

Matahari pagi mulai menunjukan mentari dari balik gunung konya, Anas sudah berberes-beres di rumah dan setelah sarapan pagi, kaka beradik ini pun pergi ke sekolah.

Brian, Cika, Miya….Ayo cepat kita jalan ke sekolah. mama kita jalan dulu.

Sesampai di depan sekolah adik – adik Anas pun berpisah dengan kaka mereka.

Brian Cika, Miya jangan nakal ya di sekolah, ingat setelah pulang sekolah langsung pulang saja ke rumah, jangan main-main di jalan.

Iya kaka, saut adik-adik Anas.

Rupahnya dalam perjalanan ke sekolah Anas bertemu dengan Vera.

Vera…tunggu saya dulu.

Haii…pagi Anas. Baru ko sudah kerja PR Matematika kah??, Sudah toh Vera..

Baru ko sendiri sudah selesaikan PR, Vera!!! Belum tinggal 2 nomor terakhir ini.

Kalau begitu, ayo cepat kita ke kelas, baru ko tinggal salin saja dari saya dari pada nanti ko dapat hukuman sama Ibu guru lagi.

Iya sudah, ayo kita jalan cepat ke kelas.

Anak-anak selamat pagi.
Pagi ibu Guru.
Ada PR kah!.
Ada Bu Guru.
Bagaimana sudah di kerjakan atau belum.
sudah Bu.

Bagaimana ada yang belum kerjakan PR kah? Tidak apa, karena sebentar kita sudah mulai dengan pengayaan jadi yang belum kerja PR sebentar harus selesaikan dan kita bahas di pengayaan.

Setelah jam pengayaan berakhir, Ibu Guru menasehati para siswa-siswi.

Anak-anak ingat baik-baik, kalian adalah masa depan papua, untuk itu kalian semua harus bisa mengikuti pengayaan hingga bisa ikut ujian nasional.

Kalau ada pelajaran yang kurang mengerti di pengayaan ini kita akan saling mengisi. Terus kalau di antara kalian yang sudah mengerti suatu pelajaran tertentu silakan membagi ilmu kepada teman-teman yang belum mengerti. Ibu berharap kalian yang di dalam kelas ini harus bisa ikut ujian dan semuanya harus lulus. Makanya yang biasa bolos-bolos sekolah, jangan lagi membolos karena waktu aktif kalian tingga 2 minggu, kalau kalian semua lulus itu membuat ibu guru dan sekolah ini banggah.

Ingat tahun kemarin di sekolah kami ini yang tidak lulus ada 5 orang, angkatan ini harus bisa lulus 100 %. Amin-amin.

*****

Vera, menurut ko kaka Marthen itu orangnya bagaimana!

Bagaimana apanya? maksud saya Sikapnya.

Anas.. kaka Marthen itu dia ada cari perhatian sama ko. Kenapa kalian tidak jadian saja.

Vera tidak mungkinlah, saya takut nanti ketahuan bapak saya lagi! Kan bahaya!

Ya….Anas tidak mungkinlah kamu ketahuan kan ketemuan di luar rumah.

Anas, itu kaka Marthen di depan jalan kampus sana. Bagaimana saya panggil dia kah!!

Supaya kalian berkenalan.
jangan Vera…

Haii…. Anas!! Vera!! Dari kejauhan kaka Marthen memanggil mereka.

Kalian sudah pulang sekolah, Iya kaka”.
Kalian ingat besok saya undang kalian ke rumah saya.
Kenapa jadi?
Habis saya ulang tahun besok, bagaimana!! Datang yah jam 05. Sore.
Iya kaka, siip lah nanti kami datang, tata Vera.

Iya sudah ee…kaka masih ada kuliah jadi. Kalian pulang sudah. iya kaka dahdah…!!

BACA JUGA :   5 CARA MEMPERKUAT OTAK ANAK AGAR DAPAT MENGENDALIKAN EMOSINYA DENGAN BAIK

Vera kenapa ko kasih tahu nanti kita ke rumah kaka Marthen, pasti nanti saya punya orangtua tidak kasih ijin, apalagi mau pengayaan dan ujian, terus besok lagi hari minggu, kitakan dapat tugas untuk mengajar ade-ade sekolah minggu. Pokonya nanti ko sendiri yang jalan sudah, saya tidak bisa.

*****
Vera sendiri ke rumah kosnya Kaka Marthen. Vera..mana Anas, kok kamu sendiri!!

Dia tidak datang Kaka.
Ok sudah, tidak apa mari.
Kaka ini acara apa nee, musik terlalu besar sekali.

Ini Acara kewa (goyang)….
Adooo saya mau balik sudah.

Vera vera mari dulu masa tidak salaman sama yang ulang tahun kah!!
Heee Maaf kaka selamat Ulang Tahun kak, semoga panjang umur selalu.

Vera kaka bisa Jujur kah!! Jujur apakah!! Kaka sayang ko…

Vera pucuk hijau SMA pun di buat tidak bisa berkata-kata.

Kaka bukanya kaka ada hati sama Anas.
Tidak juga ko!!
Alunan musik country yang melow itu kian menghanyutkan.
Vera pun terbawah oleh arus musik dan buaiyan pelukan Marthen.

Malam kian larut, jarum jam menunjukan angkah kecil-kecil. Di bilik kontrakan Marthen, orang sudah pada pulang dan hanya kesunyian.
Kaka saya pulang dulu.
Vera besok pagi sudah baru ko pulang, tadi ko sudah kasih kabar sama Mama kalau ko ada bermalam bersama Anas, jadi traapa moo.
Vera akhirnya tidak bisa mengelak lagi.
Malam itu, milik mereka berdua.

******
Selamat Pagi Mama Vera.
Selamat hari minggu Anas. Setelah bersalaman satu sama lain, Anas menanyakan Vera yang belum juga nongol di gereja.
Mama Vera, Vera belum datang kah? Hari ini kami punya jadwal membina ade-ade di sekolah minggu.

Mama Vera bingung, ketikan di tanya Anas demikian.

Anas, bukannya tadi malam Vera tidur sama-sama dengan ko di rumah!!!

Anas pun bingun dan diam sejenak. Namun mengiyakan saja dan tanpa alasan yang jelas.

Iya iya….tapi pagi-pagi dia ada pulang ke rumah ambil pakaian gereja kah!!.

Anas tadi malam, waktu Vera jalan dia langsung bawah pakaian gereja satu kali, terus katanya karena langsung mau ke gereja sama-sama dengan ko. Dia juga ada kasih tahu alasan karena hari ini kalian punya tugas di sekolah minggu!! Masa dia mau balik ke rumah lagi untuk ambil pakaian gereja.
Oh… iya sudah Mama Vera, saya tunggu saja sudah…
Anas menutupi semuanya itu.

Vera tidak tidur di rumahnya, baru bikin alasan tidur dengan saya, berarti dia tipu Mamanya!! Terus cewe ini tidur dimana? Sudah mulai nakal ya! Tadi malam setelah ikut acara ulang tahun di rumah kaka Marthen, terus dari situ dia pada kemana lagi? Sudah mulai jam sekolah minggu begini, belum juga datang. Ahahah!! Bagaimana nee.. Vera, ada yang tidak beres sama dia!!!

*****
Kaka Marthen!!, Kaka kalau sayang sama saya, sekarang juga kita ke Gereja dan ketemu dengan orangtua saya, pak pendeta dan juga Anas. Kita terbuka, mengakui kesalahan, apa yang malam ini kita perbuat. Kaka harus berjanji di gereja bahwa kaka akan setia dengan saya saja, kita baku jaga sampai selesai sekolah dulu, barulah kita menikah.

BACA JUGA :   7 Tanaman Herbal untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Aduu Vera, kenapa ko bilang begitu. Inikan kita sama-sama suka dan sama-sama mau. Ko menikmati dan saya juga menikmati. Hanya sebatas itu saja. Kenapa, ko bawah-bawah semua ini ke keluarga dan gereja segalah, itu berdosa!!

Tidak kaka Marthen, justru kalau kita tidak terbuka sama mereka, ini yang buat kita jatuh dalam dosa. Saya tidak suka, tadi kaka bilang bahwa suka-sama suka jadi kita perbuat demikian. Saya mau kaka harus bertanggu jawab.

Dengar dan lihat saya Vera. Saya ini sudah menikah dan sudah punya anak. Mereka ada tinggal bersama orangtua saya di daerah sana. Terus ko saya mau taruh dimana!! atau saya harus kasih tinggal anak dan istri saya. Ko harus mengerti itu.

Vera dengan kecewa, mengayungkan tangan kecilnya, BLAKKK!!. Muka Mathen kesetika itu mendapatkan tamparan kaget. Dengan buruh-buruh Vera memakai konak dan pakaian yang masih tergeletak di lantai dasar kamar Marthen itu. Sembari, mengeluakan cercahan maki dahsyat.

BRUKK. Marthen mana kunci, ko buka pintu ini cepat BRUKK…pintu kamar Marthen di pukul dan di dobrak habis-habisan.

Vera…Vera ko stop.
Marthen badan besar itu, menghampiri dan memeluk Vera. Vera ko jangan cepat emosi dulu. Ko tenang dulu. Ko punya cara itu terlalu bodok. Kenapa ko bilang sekarang kita harus segera ke Gereja. Tadi itu ko bikin saya gugup sekali. Jadi saya langsung tipu ko bilang begitu.

Dengar. Saya dengan ko ada waktu kita akan bertemu dengan mereka semua. Tapi jangan sekarang.

Muka Vera sedikit cerah, tidak seperti dua jam yang lalu.

Ohhh… jadi kaka belum menikah!

Iya. Ko tadi bikin saya gugup sekali. Saya ini tidak pernah ibadah, terus tiba-tiba ko bilang kita ke Gereja dan bertemu dengan mereka semua. Saya punya muka ini mau taruh di mana. Semua itu ada waktu Vera, kita jalani saya dulu seperti biasa.

Vera dengan emosi yang masih labil itu, percaya dengan omongan Marthen sang play boy kakap ini. Padahal apa yang di utarakan Marthen benar adanya bahwa dia sudah berkeluarga. Namun Marthen pandai merayu dan mampu menenangkan darah tinggi si Vera.

“Kaka. Kalau begitu setelah pulang Gereja, kita ke rumah untuk ketemu dengan orangtua saya.”

“Adoo.. bagaimana yh!? Ok sudah, tapi saya hanya antar sampai di depan rumah saja.”

******
Langit terasa terbelah dan mengguncang hati Anas, sewaktu kaka Marthen dan Vera berjalan bergandengan tangan menuju depan rumah Vera.

Anas tidak habis berfikir, mereka melewati jalan yang sama dan berpapasan wajah di jalan kenari bersebelahan rumah Vera.

Anas yang menghormati setiap orang dan selalu ceria sedikit merasakan sakitnya di hati. Namun, dengan muka tegar Anas, menyalami Vera dengan wajah tak kuasa mengangkat mukanya.

BACA JUGA :   Dipertemukan oleh waktu:chapter 2

Tapi muka gagahnya itu menunjukan, hebatnya dia sebagai wanita. Hingga kata selamat pagi juga bisa dia sapa kepada kaka Marthen dan Vera.

Namun bagi Anas soal Pacaran. Mungkin kata ini berat untuk dipirkan. Bisa jadi karena didikan orangtuanya yang keras atau bisa jadi yang berikutnya, dia sibuk dalam aktivitas di rumah, di kolam kangkung, di gereja dan saat bersekolah. Sampai-sampai “pacaran” itu bukan harus dinanti-nantikan atau di dambah-dambahkan pun melewati mimpi seperti remaja lainnya, itulah Anas satu ini.

*****
Anas dan Vera tetap bersahabat seperti biasanya. Namun tidak akrab seperti dulu. Saling sapa menyapa hal yang biasa mereka lakukan. terkadang bertemu di Gereja danbersama berjualan di pasar.

Hari berganti hari, Vera dan Marthen menjalin hubungan lebih akrab lagi hingga orangtua Vera tidak habis fikir melihat kondisi Vera nampak pucat, sering mual-mual dan terkadang juga muntah.
****
MUAK MUAK…Vera kenapa kamu di kamar mandi.
Tanya Mama Vera.
Tidak Mama, saya punya badan tidak enak badan saja. Adu Vera kamu punya muka tampak pucak.

Kalau begitu kita ke Klinik dulu periksa kesehatan. Habis besok ko mulai ujian di sekolah lagi.

Sesampai di klinik.
Selamat yah Ibu, Anak ibu Hamil berjalan 4 bulan, kata dokter praktek.

Sembari ibu Vera tidak percaya akan hal itu.

Tuhan, Vera selama ini ko ada jalan dengan siapa, ayo kita pulang bicara dengan bapak di rumah, dengan laki-laki siapa sampai ko bisa hamil ini.

Desas-desus hamil Vera seakan-akan tersebar di mana-mana.

Vera di marahi oleh keluarga hingga sedikit tertekan batinnya dan dia mengatakan yang sebenarnya hubungannya dengan kaka Marthen itu.

Sedangkan Kaka Marthen, setelah mengetahui kondisi Vera sudah seminggu yang lalu sudah minggat dari Uncen Bawah.

Tidak tahu, apakah dia pulang ke daerah, atau dia memilih rumah kontrakan baru lagi yang jauh dari Uncen bawah.

Kini ujian sekolah sudah di depan mata. Anas dengan penuh keyakinan tinggi melaju melupakan masalah dengan Vera dan Marthen. Dia berkeinginan akan melanjutkan sekolah di luar negeri atas kesempatan bagi putra daerah yang nilai sekolah bagus, melalui Biro Sumber Daya Manusia (SDM), Provinsi Papua, yang beberapa hari lalu telah melakukan sosialisasi di sekolah.

Sedangkan Vera menderita batin, dengan bayi yang dikandungnya dan masih saja menunggu Marthen.

Anas setelah Ujian sekolah menjadi bintang sekolah, setelah memasukan aplikasi untuk mengikuti test di Biro SDM provinsi Papua dan akhirnya lulus untuk melanjutkan studi di paman sam, Amerika.

Sedangkan Vera, mulai menata kehidupannya lagi dari bawah. Dia berencana akan mengulang kelas setelah melahirkan janin yang di kandungnya. (**)
TAMAT

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *