• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen: Perempuan Merah

Pakaiannya serba merah. Celana merah, kemeja tangan pendek merah, topi merah. Hanya manset dan kaos tangannya saja yang tidak merah. Mansetnya hitam sedang kaos tangannya berwarna ungu cerah dengan bagian ujungnya yang bolong, terlihat ujung jarinya yang tak begitu putih. Itu memudahkannya menghitung uang lembaran yang musti dikembalikan ke pelanggan, atau menghitung pendapatan harian tempatnya bekerja. Serba merahnya bukan merah segar seperti apel Washington atau merah darah. Merahnya merah yang tak segar lagi. Merah yang habis dilahap terik matahari atau pudar tergerus detergen. Merah yang lusuh. Merah yang lelah.

Seragamnya yang serba merah itu sama persis dengan warna yang dominan pada tempatnya bekerja, merah. Seragamnya tak seperti seragam polisi atau tentara yang nama pemakainya tercetak besar-besar dengan huruf kapital. Tak pula ia mengenakan nametag layaknya pegawai negeri. Yang tercetak dengan bordiran pada seragamnya hanya kode angka. Barangkali itu kode angka tempatnya bekerja. Angka awalnya 34. Itu saja yang bisa kuingat dari semua angka yang berderet delapan digit.

Wajahnya tak begitu cantik, biasa-biasa saja. Jelas ia masih kalah cantik dengan Rika Rostika Johara, perempuan yang sempat kutaruh hati padanya. Apalagi dibanding Agnes Monica, jelas kalah telak. Hidungnya pesek, sama sekali jauh dari kategori mancung atau agak mancung sekalipun. Biar aku belum pernah mengukurnya dengan pasti, tapi aku yakin tinggi badannya pun pasti sekitar 160 cm atau kurang dari itu. Warna kulitnya sawo matang, layaknya perempuan di daerah tempatku tinggal. Rambutnya diikat seperti buntut kuda, tidak terlalu panjang. Ujung rambutnya kemerahan, entah diwarnai atau memang merah karena kurang vitamin. Payudaranya biasa saja, bahkan sekilas tampak rata, seperti dada lelaki.

Senyumnya jauh dari kata manis sebab memang ia jarang sekali senyum. Seingatku, belum pernah aku melihatnya tersenyum, setidaknya padaku. Wangi tubuhnya sama sekali aku buta. Entah apa parfum yang ia pakai, aku tak pernah mencium wangi apa pun atas tubuhnya yang selalu dibungkus seragam serba merah itu. Menilik dari kulit wajahnya, barangkali ia cuma sempat cuci muka sehabis pulang kerja. Tak ada sempat ia dandan mempercantik diri selayaknya perempuan seumurnya. Bahkan beberapa kali kudapati ia sungguh kucel, rambutnya berantakan, penampilannya sangat kacau, jauh dari frasa “memanjakan mata pria”.

Tak banyak tentangnya yang aku tahu selain atas apa yang kulihat tiap kali bersua. Dan tiap kali itu, ia selalu sama : serba merah, tak ada senyuman, tak ada wangi parfum dan tak ada kata selain “Berapa?”. Cuma itu kata yang pernah kudengar keluar dari bibirnya yang sama sekali tidak seksi. Aku tak melihat keistimewaan apa pun padanya. Ia biasa-biasa saja dan aku pun tak menaruh perhatian istimewa apa-apa.

Ia bekerja tak jauh dari tempat kutinggal. Berjarak sekitar 300 meter antara tempat tinggalku dengan tempatnya bekerja. Aku tak tahu dimana ia tinggal. Yang aku tahu, selain atas apa yang kulihat, bahwa ia merupakan salah satu senjata marketing tempatnya bekerja. Ia dijadikan senjata penarik pelanggan. Entah sesuai atau tidak dengan upah yang ia terima, aku tak pernah tahu.

BACA JUGA :   Asal usul desa amis

Tiap pagi, sekitar jam 6, seorang lelaki yang nampak lebih tua darinya selalu mengantarnya ke tempat kerja dengan motor matic berwarna biru. Dan selepas adzan isya, lelaki yang sama selalu datang menjemput dengan motor yang sama pula. Pasti ia pacarnya, pikirku. Siapa pula yang rela antar jemput perempuan ke tempat kerja sepagi itu tiap hari selain kekasihnya sendiri, karena menolak antar jemput sama dengan memilih menyudahi hubungan. Agaknya itu yang beredar luas di benak generasi muda seusia perempuan itu.

Selasa sekitar jam sembilan malam, perutku ramai tanda lapar. Nasi goreng? Mie ayam? Baso? Nasi timbel? Atau kopi saja? Pilihan menu tak hentinya berputar dikepala dan aku tak bisa memutuskan dengan cepat makanan apa yang akan kupilih dan dimana aku akan makan. Aku memang sering begini. Dipusingkan hanya oleh hal pilihan makanan saja. Jenis makanannya dan tempatnya. Aku bukan seorang perfectionist, tapi kadang saja untuk waktu tertentu aku rewelnya bukan kepalang. Perkara makan saja, aku harus mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan pilihan. Dan malam itu pilihanku jatuh pada nasi goreng Yayat yang sudah jadi langganan sejak lama. Tempatnya agak jauh. Tanpa pikir panjang lagi karena memang sudah terlalu panjang berpikir, kunyalakan motor dan kulaju ke tempat nasgor itu mangkal. Tapi ada yang aneh malam itu, mendadak saja dan tanpa alasan yang jelas aku memilih jalur yang tak biasanya jika hendak pergi ke nasgor Yayat. Entah dorongan apa, aku mengambil jalur melewati sebuah rumah sakit swasta, jalur memutar yang justru menambah jauh jarak tempuh. Malam memang tak habisnya menyimpan misteri dan rahasia. Ada dorongan yang tak kunjung juga menemukan kata-kata. Hanya saja barangkali ini semacam dorongan untuk bisa menikmati perjalanan malam lebih panjang.

Jalur yang kuambil sudah pasti lewat depan tempat kerja si perempuan seragam merah itu karena tempatnya bekerja berada disamping rumah sakit swasata itu. Keduanya terpisah oleh sungai yang tak begitu besar. Lewat depan tempat kerjanya, kulihat agak sepi. Para pegawai tak ada yang terjaga ditempatnya. Kulihat seorang lelaki saja tiduran sambil menikmati musik dari gawainya. Aku tak berusaha mencari perempuan itu sebab jam segini ia jelas pasti sudah di rumah.

Kupacu motor tak lebih dari 40 km/jam. Pelan-pelan saja, biar ternikmati malamnya lebih lama, pikirku. Lampu-lampu jalan, pepohonan, gelak tawa muda-mudi yang masih setia nongkrong dengan gitar kopong mereka, wangi sate dan segala tentang malam tak pernah usai membuatku kagum. Apalagi langit. Langit malam selalu membuatku malu. Dengan taburan bintang dengan cahaya bekerlipan, dengan bulan yang selalu membawa rasa magis dan romantik dan dengan anginnya, malam yang hitam itu sering membuatku malu.

BACA JUGA :   Toxic, People Yang Harus Diketahui serta Ciri -Cirinya yang harus diwaspadai

Motor ku melambat ketika di kanan jalan ku lihat seorang perempuan, berdiri sendirian tak jauh dari tempat kerja perempuan serba merah itu. Wajahnya tak begitu jelas sebab memang tak ada cahaya yang cukup menerangi. Yang tampak jelas hanya pakaiannya yang serba merah. Ia bercelana merah, berkemeja tangan pendek merah dengan manset hitam dan bertopi merah. Rambutnya diikat seperti buntut kuda. Lampu mobil yang melaju dari arah berlawanan menimpa tubuh dan wajahnya. Jelaslah ternyata ia perempuan serba merah itu, yang kerja di tempat yang baru saja ku lalui. Perempuan dengan seragam serba merah, yang tak pernah tersenyum juga tak berbau, yang tak pernah berkata apa pun kecuali “Berapa?”. Cahaya dari lampu motor yang barusan saja lewat makin meyakinkan ku bahwa benar perempaun itu adalah dia.

Jelas, pertanyaan pun bermunculan dikepala : Sedang apa ia disini? Mengapa jam segini ia belum pulang? Apa pacarnya tidak menjemput? Kenapa pacarnya tidak menjemput seperti biasa? Apa mereka sedang tak akur? Atau barangkali mereka telah putus? Atau ia sengaja minta tidak dijemput karena punya janji dengan lelaki lain selingkuhannya? Atau bisa saja pacarnya telat menjemput karena ia mengantarkan selingkuhannya pulang? Atau? Atau? Atau?
Dan banyak lagi pertanyaan serta spekulasi yang menjamur pada pikiran. Dan itu semua jelas tidak penting dan tak ada kaitannya sama sekali dengan ku, lalu kenapa pula aku musti pusing memikirkan itu? Yang jelas ia tampak dalam ketidakjelasan.

Selayaknya orang yang sedikit banyak memahami arti tolong menolong dan kehidupan sosial, tergerak hati ku untuk menghampiri dan bertanya “Mau kemana? Mba yang kerja di tempat itu kan? Tumben belum dijemput” . Tapi niat ku urung jika saat terselip ingatan : apa aku tak dianggap lelaki dengan niat jahat? Kalau ia mengira aku akan memperkosanya, bagaimana? Kemudian ia berteriak dan orang-orang menghajar ku, bagaimana? Atau kalau pacarnya memergoki aku sedang bicara dengannya dan berpikir aku adalah lelaki nakal penggoda wanita, kemudian ia menghajar ku? Kemudian kami berkelahi, saling meninju, saling menendang, hidung dan mulut kami berdarah. Dan perempuan itu berteriak histeris, datang orang berkerumun? Wah, bisa panjang urusanya.
Sambil masih ku laju motor ku perlahan, bergelut pikir ku antara menghampirinya atau tidak. Setelah beberapa meter dibelakangnya, pikiran ketakutan ku kalah dan ku putuskan untuk memutar balik motor dan menghampirinya.
“Mba yang kerja disana kan?”seraya telunjuk ku mengarah ke tempat kerjanya yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
“Iya.Kok tahu?”
“Saya kan sering kesana. Tuh, tempat tinggal saya.” tunjuk ku ke perempatan di ujung jalan.“Pulang kemana?”
Ia menjawab dengan menyebut nama daerah yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kerjanya.
“Nunggu jemputan? Biasanya kan jam 7an udah pada pulang?”
“Kakak saya ngga bisa jemput. Ada urusan diluar kota”
Musnah sebagian prasangka ku tentangnya, juga tentang kekasihnya. Ternyata yang selama ini mengantar jemputnya itu kakaknya, bukan pacarnya.
“Oh.” Jawab ku sambil menahan malu sendiri sebab telah melancarkan sekian prasangka yang nyata-nyata salah.
“Nunggu ojeg?”
Ia tak langsung menjawab. Seperti sedang memikirkan jawabannya yang tepat, padahal pertanyaaan ku bukanlah pertanyaan sulit. Sambil agak malu ia menjawab “Belum gajian. Ngga bawa uang banyak, habis tadi dipakai makan siang.Mendadak kakak saya ngga bisa jemput.”
Akal sehat ku mendadak tumpul dihajar rasa iba. Tanpa pikir panjang “Oh. Sekalian aja, saya juga mau ke arah sana.” Dan tanpa pikir panjang pula ia menerima ajakan ku untuk mengantarnya pulang. Sepulang mengantar, baru ku tepikan motor ku di nasgor Yayat yang sudah semula ku rencanakan. Di jalan ia tak banyak bercerita. Ia hanya bercerita yang biasa saja : tentang alamat rumah dan awal ia bekerja disana. Aku pun membalasnya dengan menceritakan pekerjaan ku.
Rabu malam sekitar jam 9 aku baru pulang dari rumah seorang kawan. Jalur pulang yang ku lalui tepat lewat depan tempat kerja perempuan serba merah yang tak ku tahu namanya karena tak sempat ku tanya itu.
Aneh, pemandangan malam itu ditempat yang kemarin aku bicara dengannya untuk kali pertama, sama seperti malam lalu. Ia berdiri ditempat yang sama dengan kemarin, sendirian. Ku hampiri ia, dan untuk kali pertama pula, ia tersenyum pada ku. Lumayan manis.
“Lho, kok belum pulang?”
“Kakak saya sejak kemarin belum pulang. Habis dari mana?”
“Dari rumah teman. Mau ku antar?”
“Duh. Malah merepotkan” jawabnya agak malu-malu.
“Ngga apa-apa. Kebetulan lagi santai.”
Kupacu motor ku ke arah rumahnya. 10 menit kami dijalan, berboncengan. Diperjumpaan kami yang kedua ini, ia mulai tampak ramah dan bercerita agak banyak tentang diri dan keluarganya. Sama dengannya, aku pun bercerita lebih banyak tentang diri, keluarga dan pekerjaan.
Ani namanya.Ia bekerja di SPBU dekat tempat ku tinggal. Kami berkenalan pada Selasa malam dengan ketidaksengajaan. Setelah lima bulan kami berpacaran, baru ku tahu ternyata yang dulu sering mengantar jemputnya bukanlah kakaknya seperti yang ia bilang. Anton namanya, ia pacarnya entah yang keberapa. Informasi ini ku dapat dari teman kerjanya. Dan sehari setelah ku tahu hal itu, kami putus.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *