• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Berawal dari COD

Bysri muningsih

Agu 30, 2021

Semuanya karena dia, iya karena dia aku menjadi yang sekarang ini. Semua kisah manis dan menyedihkan itu terbentuk karena adanya dia. Dia yang selalu menjadi garda terdepan untuk ku yang selalu menangis. Dan aku sangat senang ketika mengetahui bahwa ia adalah jodohku. Inilah kisahku..

Aku akan menceritakan segalanya, tentang bagaimana aku mengenalnya, kagum padanya hingga jatuh cinta padanya, dan berakhir duduk berdampingan di pelaminan.
Aku mengenal suamiku dari sebuah situs jual beli, sebenernya sih teman aku yang menghubungi suamiku untuk membeli smartphone. Dan disini kami belum saling kenal, aku juga baru tahu setelah temanku memintaku untuk menemaninya bertemu dengan penjual smartphone tersebut. Ya berawal dari sinilah semua kisah cinta kami.

Pada waktu itu, aku dan teman aku baru pulang kerja sekitar pukul 19.00 wib dari lokasi kami kerja, saat itu aku bekerja di sebuah perusahan marketing dengan kedudukan sabagai trainer. Jadi pukul 19.00 wib itu kami baru pulang dari lokasi, ketika sampai di kantor jam sudah menunjukan pukul 19.30 wib. Temanku yang sudah terlanjur janji ketemuan pukul 20.00 wib dengan si penjual smartphone itu, membuat kami tergesa gesa pulang ke rumah.
Sampai di rumah aku langsung buru buru mandi dan segera berpakaian langsung pergi tanpa makan malam. Karena takut si penjual kecewakan, dalam sekejap aku sudah sampai di rumah temanku. Dan temanku sudah duduk di depan rumahnya menungguku. Karena si penjual sudah menghubungi kami berkali kali, kami segera pergi saja meninggalkan rumah.
Di sini nih sebuah momen yang menjadi kenangan terbaik untukku dan suamiku. Bagaimana tidak, di saat perjalanan menuju tempat yang sudah di janjikan, mereka malah salah memberi arah. Di daerah tempatku tinggal ada dua taman yang letaknya dekat dengan rel kereta api, dan kedua taman tersebut juga menjadi tempat untuk wisata malam yang dimana terdapat banyak mainan odong odong. Hanya saja taman yang satu adalah taman yang memang khusus untuk upacara kemerdekaan atau tempat acara acara besar lainnya.
Entah mereka yang salah memberi arah atau kami yang salah mengerti maksud mereka. Karena ketika kami sampai di taman yang banyak odong odong nya mereka sama sekali tidak ada. Itu cukup membuatku kesal, karena intruksi mereka yang salah. Aku yang capek karena baru pulang kantor harus cepat untuk menemui mereka sampai aku tidak sempat untuk makan. Eh malah mereka mempermainkan kami. Dengan nada yang agak kesal, aku memaki mereka “dasar pe’ak, ngomong dong dari tadi kalau kalian ada di taman yang satunya lagi”. Dengan nada yang agak membentak, di sebrang telvon mereka menjawab “jangan marah marah kak”, suara cowok itu menyahutku.

Dengan emosi yang sedikit membuncah, aku menghidupkan sepeda motor dan langsung menuju ke tempat yang mereka katakan. Setelah sampai di sana, aku mengatakan pada temanku untuk cepat agar bisa segera pergi dari meninggalkan tempat itu. Namun, temanku mengatakan padaku untuk tetap sabar menunggunya memeriksa smartphone yang akan ia beli.

Mendengar itu, aku pun langsung diam dan duduk di samping temanku. Dan di saat yang sama aku baru menyadari kalau orang yang ingin menjual smartphonenya itu ada dua orang laki laki. Ya menurutku pada awalnya mereka biasa biasa saja. Aku mulai menggerutu pada temanku untuk cepat sedikit, akan tetapi laki laki yang duduk berhadapan denganku mengatakan untuk sabar.
“Sabar lah kak, kan kawan nya masih periksa handphone nya”, katanya. “lama kali pulanya”,jawab ku singkat. “janganlah marah marah, duduk dulu kakak”, ucapnya yang menyuruhku untuk tetap duduk. “pesanlah minum kak”, pintanya. “Bayarin lah”,sahutku lagi.“Iy Aman itu saya yang bayar nanti,Cuma bonuslah nomor handphone kakak”, celetuknya. Dengan singkat aku mengiyakan permintaannya. Yang membuatku merasa lucu adalah nomor ponselku seharga dengan jus pada waktu itu.
Setelah itu, kami berbincang banyak hal. Ya pertanyaan klise sekitar pekerjaan dan lain lain. Sampai di suatu waktu handphoneku berdering, ketika aku lihat itu ternyata mantan pacarku yang mengajakku untuk bertemu. Awalnya aku menolak ajakkan itu, tetapi karena melihat ada cowok nganggur di depan, ya manfaatin saja selagi ada kesempatan. Aku mengatakan pada mantanku itu kalau aku sedang duduk di sebuah taman dengan pacar baruku.
Mantan ku tidak percaya dan dia coba mendatangi ku, hanya lewat saja dan aku juga melihatnya. Dengan nada yang kecewa dia memacu sepeda motornya menjauh. Ya siapa suruh gangguin terus, ya kecewa deh jadinya. Lama kami duduk di taman itu, pada akhirnya temanku selesai memeriksa handphonenya. Kemudian kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah lumayan malam.

Setelah pertemuan itu, lama kami tidak berhubungan walau nomor ponselnya ada padaku. Sampai di satu titik, aku mulai iseng dengan nomornya dan menghubunginya terlebih dahulu, dengan alasan menanyakan nama aslinya. Eh tapi ini bukan sekedar alasan ya, aku memang beneran lupa namanya. Iya sih agak keterlaluan, masa iya baru kenalan dan ada nomor ponsel lupa namanya. Tapi ini beneran, karena saat kami kenalan dan bertukar nomor ponsel itu, aku tidak begitu jelas dengan namanya. Ya waktu menyimpan namanya di ponsel ya aku buat saja “Abg T.balai”. Dari iseng itulah aku baru mengetahui namanya Aris.

BACA JUGA :   Destinasi Wisata Pantai di Indramayu

Berawal dari iseng chating dia via wa, terjalin sebuah kedekatan yang termasuk kategori TTM sih. Oh iya saat aku dekat dengan dia, aku sudah punya pacar tetapi pacar aku pada saat itu lagi di luar provinsi untuk kerjaan. Ya hubungan ku dengan pacarku sebenarnya sudah tidak sehat, kami sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Karena itu juga aku memutuskannya, dan kebetulan di saat patah hati, ada dia yang dekat denganku.

Aku dengan Aris semakin dekat, dan terjadilah pertemuan kedua setelah jual beli yang lalu. Kali ini kami memutuskan untuk bertemu di luar. Aku ingat sekali bahwasannya saat itu, aku selalu memegang tangannya. Mungkin di saat yang sama ia juga berpikir kalau aku ini genit. Tapi aku suka megangin tangannya, kayak nyaman gitu megangin tangannya. Jadi aku tidak peduli dengan anggapannya, yang penting aku suka megangin tangannya.

Pertemuan kedua sudah, berlanjut lah ke pertemuan ketiga. Untuk pertama kalinya dia datang kerumah. Ya kan karena di pertemuan pertama dan kedua diluar rumah. Jadi ini kali pertama ia datang ke rumah. Pertemuan ketiga adalah pertemuan yang sangat unik. Kenapa? Karena pertemuan ketiga ini seperti pertemuan yang tidak di sengaja. Padahal saat itu, kami memang sudah janjian, tetapi tidak menetapkan harus pukul berapa kami bertemu. Kalau menurut cerita suami aku, saat itu dia sudah pasrah, karena dia nyasar ya maklum pertam kali dia mau datang ke rumah. Dan untungnya dia melihatku yang waktu itu sedang mengendarai sepeda motor dengan temanku selepas pulang kerja. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti kami dari belakang.

Setelah aku mangantar temanku yang pertama, aku mengantar temanku yang lainnya. Dengan melewati jalan yang sama, aku melihat seorang pria yang duduk di atas sepeda motor seperti menunggu seseorang. Aku kaget dong karena yang aku lihat adalah dia (Aris). Temanku yang bersama denganku ketakutan, dia(temanku) takut sebab mengira Aris pada masa itu seorang penjahat. Padahal sih laki laki itu orang yang aku kenal.

Sampai di rumah temanku, aku langsung pergi dengan mengajaknya pulang ke rumah. Ketika sudah di rumah, aku meninggalkannya untuk berganti pakaian. Lumayan lama aku berganti pakaian, sibuk memilih pakaian, namun pada akhirnya pakaian tidur yang aku kenakan, lalu pergi menemuinya di luar. Dia santai dong liat aku pakai baju tidur, seharusnya kan dia bete gitu, ternyata ekspresi yang aku harapkan tidak sesuai.
Berbincang lama kami di luar, hingga selepas magrib kami keluar untuk mencari makanan. Saat itu kami membeli sate madura. Dan lagi aku Cuma memakai pakaian tidur, dia tidak marah atau menunjukkan wajah kesel. Dalam hati ku “eh kok gak marah, emang gak malu apa dia boncengin aku pakek baju tidur gini”, ya Cuma dalan dalam hati saja aku berucap.
Setelah kami membeli makanan, kami langsung pulang ke rumah. Aku masuk ke dalam dia menunggu di luar. Beberapa saat kemudian aku keluar sambil membawa piring. Aku dan dia makan bareng di luar yang memang di depan rumah aku ada pondokkan untuk duduk. Sementara orang tua dan adikku makan di rumah, ya iya lah makan di rumah tidak mungkin juga mereka ikut kita makan di luar.

Sekitar pukul 21.30 wib, ia memutuskan untuk pulang. Wajar saja sih soalnya runahnya jauh banget. Dan itu perlu menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam belum lagi jalan menuju ke rumahnya itu gelap dan ada beberapa tempat yang mungkin akan ada orang jahat yang sudah menunggu mangsa lewat. Sebelum ia pulang, ia memberi uang. Kaget dong aku tiba tiba dia ngasih uang, ya tetep aku terima tapi ya aku simpan, gak aku pakek sama sekali. Karena aku takut kalo misalnya nanti kami tiba tiba sudah tidak bersama uang itu bisa saja jadi bahan ungkitan, tentu aku tidak menginginkan itu.

Setelah pertemuan itu, lama kami tidak bertemu. Ya karena pada masa itu, selain jarak yang cukup jauh, kami juga di sibukkan dengan kerjaan masing masing. Jadi hanya sedikit waktu yang tersisa dan itu hanya kami gunakan untuk chatingan. Hingga di suatu waktu aku libur kerja, tepat di tanggal 18 agustus 2018 kami bertemu. Akan tetapi pertemuan itu, bukanlah pertemuan yang menyenangkan seperti pertemuan sebelumnya. Ya kami bertengkar, tetapi jauh sebelum kami bertemu, kami memanglah sudah bertengkar, hanya saja di tanggal itulah puncak pertengkaran kami.

Mungkin dia sadar dengan perasaan kesal dan marahku, ia memutuskan untuk datang ke rumah. Namun, aku yang sudah mulai kesal, aku tidak memperdulikannya. Ya dia menghubungi ku, aku mengangkat telvonnya dengan keadaan marah. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk datang ke rumahku. Walaupun sudah aku caki maki yang menurutku kata kataku itu sudah membuatnya sakit hati. Tapi tidak, itu tidak terjadi dengannya.
Kalian tahu, amarahku bertambah karena apa? Karena dia lupa jalan yang menuju ke rumahku. Bagaimana aku tidak bertambah marah. Dengan santai nya dia mengatakan “dek rumah adek beloknya ke mana?”, mendengar pertanyaan itu aku langsung emosi “kamu lupa arah ke rumahku? Bodoh kali sih, sudah berkali kali ke rumah bisa nyawa?”, bentakku yang sudah marah ini. Tapi entah mengapa, ia langsung menemukan jalan menuju ke rumahku. Di saat bersamaan aku merasa kalau takdir mempertemukan kami.

BACA JUGA :   Resep Steak Ayam Ala Restaurant Mahal

Meskipun begitu, tidak meresahkan amarahku itu. Dan yang membuatku terkejut adalah, dia datang dengan kedua orang temannya. Teman temannya inilah yang membantunya berbicara dan meminta maaf padaku. Sampai aku menjuluki mereka juru bicara Aris saat itu. Bukan berarti dia tidak ikut berbicara, hanya saja aku selalu memotong pembicaraannya. Entah mengapa lama kelamaan aku luluh dengan semua permohonannya dan berakhir dengan tangisan di bahunya.

Singkat cerita, ya di singkat saja lah ya soalnya kalau di ceritakan semua kepanjangan. Jadi singkatnya, aku mau di jodohkan sama kakekku. Aku yang memang tidak suka kalau hubungan pernikahanku di awali dengan perjodohan, dan lagi di saat yang sama aku mulai menyukai suamiku membuatku semakin berat untuk mengiyakan permintaan kakekku itu. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengutarakan maksudku ini pada kakekku.
Aku berbicara dengan kakekku, melawan keras keinginan mereka. Sebenernya saat kami bertengakar di bulan Augustus itu ya penyebab utamanya adalah aku yang dilema dengan keputusanku. Tapi mama aku bilang “kalau memang sudah ada yang di hati, bicarakanlah dengan kakek dan ayahmu, dan kamu bicara juga dengan orang yang sudah mengambil hati anak mama, lagian kalau laki laki yang kamu suka adalah lelaki yang kemaren datang dengan teman temannya untuk membujukmu mama tidak keberatan, kak laki laki yang seperti itu hanya ada 1 dari banyaknya laki laki”,itulah ucapan mama. Aku juga mengatakan pada mama “tapi ma dia tidak pernah memperkenalkan aku pada keluarganya, bagaimana jika nanti keluarganya tidak menyukaiku”, ucapku.

Mamaku yang mendengar ucapan itu, langsung menyangkal ketakutan ku dengan mengatakan “kalau dia sayang sama kakak, dia akan mengenalkan kakak pada keluarganya, soal keluarganya suka atau tidak itu urusan nanti, yang terpenting kamu harus lihat ke sungguhannya baru memikirkan bagaimana cara mengambil hati keluarganya, mengerti”, dengan perbekalan nasihat dari mama, aku mengutarakan keinginanku pada kakekku. Awalnya kakekku membantah keinginanku, ia mengatakan bahwasanya lelaki yang ia pilih kan untukku adalah lelaki yang baik dan kehidupan yang cukup mapan. Meski mendengar semua itu, aku tetap pada pendirianku. Ya ng berakhir dengan perkataan kakekku untuk membawa lelaki pilihan ku itu bertemu dengannya dan berbincang, ia ingin melihat keseriusan lelaki yang dipilih cucunya perempuannya itu.

Aku yang mendengar itu, seketika aku sangat senang. Hanya saja aku berpikir apakah dia mau bertemu dengan kakekku yang tiba tiba menanyakan keseriusan hubungan kami, yang sebenarnya adalah kami sama sekali tidak memiliki hubungan seperti pacaran. Waktu itu aku berpikir, “ya sudahlah, kita coba saja semoga saja allah setuju dengan apa yang aku pikirkan”, . Dan akhirnya aku menelponnya dan mengatakan kalau aku akan di jodohkan dengan lelaki lain, dan kakek ingin dia datang ke rumah untuk menemuinya. Tanpa aku sangkah dia menyetujui keinginan kakekku itu.
Pada malam kamis sekitar pukul 20.00 wib ia datang bertamu dengan seorang teman yang sama saat kami melakukan jual beli handphone kemarin. Aku yang sangat senang dalam hati, lalu mempersilahkan mereka berdua masuk rumah dan bertemu dengan kakek ku. Entah apa yang mereka bincangkan, aku tidak ikut serta dalam pembicaraan itu. Namun, setelah berbincang mereka berdua keluar dan duduk di pondokan sebentar, tidak lama kemudian mereka memutuskan untuk pulang.

Selang sehari setelah pertemuan dengan kakekku, tepat di hari jum’at malam ia menghubungi ku lewat telepon. Aku yang memang tidak mengetahui apapun tentang yang mereka bicarakan kemaren malam, dan juga kami sudah biasa melakukan telepon di penghujung waktu isa ya menganggap semua seperti biasa. Tapi ketika, aku mengangkat telepon dan mendengar ucapannya di seberang telepon seluler, sedikit terkejut dan setengah bingung dengan pernyataannya itu. Bagaimana tidak, di seberang telepon ia mengatakan bahwasannya ia akan datang bersama dengan orang tuanya. Antara senang dan tidak menyangkah kalau ia akan serius menanggapi permintaan kakekku.

Dengan perasaan yang masih bingung dan tak percaya, aku memberikan teleponku pada ayah dengan ekspresi yang sama terkejutnya denganku, ayah menyuruhku untuk memberikan telepon pada kakek. Aku juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan, hanya tahu inti pembicaraan mereka tentang pertunangan kami berdua. Setelah telepon itu di akhiri, aku ayah dan mama di panggil oleh kakek. Beliau menceritakan apa yang baru saja ia bicarakan pada Aris. Mamaku sontak terkejut sebab ia tak percaya bahwasannya aku akan di lamar seorang lelaki yang memang dia suka dengan kepribadiannya, ya meski pada saat itu mamaku tidak terlalu dekat, hanya saja menurut mamaku ia lelaki yang baik terlihat dari bagaimana ia langsung merespon positif keinginan kakekku.

BACA JUGA :   Secarik Cerita di Masa PKL

Pada malam itu, aku dan juga ayah serta mama langsung menghubungi bibi, paman dan keluarga lainnya, untuk mengabarkan kalau besok akan di adakan pertemuan keluarga untuk membahas pertunganku. Keesokan harinya rumahku ramai dengan hadirnya paman dan bibiku. Tidak perlu waktu lama, kakek sebagai orang yang paling tua memulai percakapan diskusi. Ekspresi terkejut dan tak percaya juga tergambar di wajah paman paman dan bibi bibi ku. Mereka tidak menyakah, sebab yang mereka tahu aku adalah gadis si penggila kerja. Tiba tiba dapat lamaran dari seorang lelaki yang menurut kakekku orang baik.

Syukur alhamdulillah nya adalah, mereka menyetujui pertunanganku. Setelah membicarakan pertunangan, mereka menanyakan kapan dan dimana acara baik itu dilaksanakan. Kakek menjawab hari minggu, bertambah kagetlah mereka.menurut mereka rencana kami melaksanakannya terlalu dadakan. Sampai ada yang bertanya padaku, kalau aku sudah hamil di luar nikah, itulah mengapa aku buru buru menikah. Padahal apa yang mereka pikirkan, tidak terjadi sama sekali padaku. Yang sebenarnya adalah kakek yang memaksaku untuk menikah dengan orang pilihanku, sebelum ia benar benar menjodohkanku.

Sehari sebelum pertunangan, Aris datang ke rumah untuk mengajakku bertemu dengan kedua orang tuanya juga saudarinya. Aku di sambut hangat oleh keluarganya, hanya saat itu aku tidak bertemu dengan ayahnya. Hanya kakaknya, mamanya dan 3 orang adiknya. Aku di jamu dengan sangat baik, di suruh makan dan banyak hal lainnya. Sampai hari menjelang sore baru ia mengantarkan ku pulang ke rumah.
Di hari minggu tepatnya tanggal 02 september 2018 kami sudah menjadi sepasang tunangan. Keluarga banyak juga yang datang sebagai perwakilan. Tetapi ia tidak turut ikut, Cuma temannya yang menjadi penunjuk jalan. Dengan segala kesederhanaan acara itu, pada akhirnya kami pun menjadi pasangan yang sudah terikat oleh cincin.

Ketika kami sudah bertunangan, semuanya berubah. Ya berubah dari segala hal, mulai dari dia yang sudah pergi kerja keluar kota hingga aku yang sudah mendapatkan posisi terbaik di perusahan tempat aku bekerja. Semuanya menjadi lebih sulit. Aku dengan pekerjaan dan tanggung jawabku, dia dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kami sudah mulai sibuk dengan dunia kerja kami sendiri. Terlebih aku, yang di tuntut untuk selalu baik dalam melakukan pekerjaan di kantor.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai bosan dengan semua rutinitas ku, yang dimana aku merasa lelah dan harus tetap menjaga komunikasi yang baik dengan tunanganku, belum lagi dengan segala drama di rumah. Beberapa hal itu cukup membuatku hampir depresi. Hingga di suatu waktu, aku bertemu dengan seorang pria, ya menurutku itu hal yang wajar. Akan tetapi aku yang sudah mulai letih, mulai uji coba untuk mendua. Jujur di situ aku memang merasa tidak tahu diri sekali. Tetapi perasaan itu terkalahkan dengan keinginan yang cukup jahat.

Aku mulai berbohong kalau aku rapat akan sampai larut malam, ya meskipun rapat itu memang benar adanya hanya saja terkadang tidak lebih dari 2 jam. Dengan semua kebohonganku, tunangan ku masih baik bahkan ia lebih sabar menghadapi ku. Meski pun begitu aku masih tetap melakukannya. Aku tetap bertemu dengan pria itu, bersenda gurau di luar sana. Tidak terpikir sama sekali betapa beratnya tunangan ku berjuang untuk meminangku. Jahat kan aku tuh.

Hingga di saat aku sedang libur, aku terkejut dengan sececar pertanyaan dari tunangan ku. Walau sudah ketahuan pun aku masih bisa bersilat lidah, sungguh tidak tahu dirinya aku saat itu. Tapi berbalik dengan tunangan ku, mungkin ia merasa sakit mengetahui kelakuan ku. Ia menelpon ku dan memberikan ku semua pertanyaan dengan amat sangat sabar. Di saat itulah aku baru sadar, kalau dia sangat tulus ddenganku.

Aku berjanji tidak mengulangi semuanya, dia menerima janjiku dengan sebuah janji aku harus keluar dari perusahannku. Meski berat, aku tetap menyetujuinya. Suruh siapa aku menyakitinya itu pikirku. Lalu keesokkannya aku pergi kekantor, untuk mengajukan surat pengunduran diri, tetapi lama sekali aku mendapatkan persetujuan itu. Hingga di minggu berikutnya barulah aku mendapatkan surat itu. Aku pun mengatakan padanya. Setelah kejadian itu dan mendapatkan surat persetujuan keluar, sudah tidak ada lagi konflik diantara kami. Sampai di bulan Desember tepatnya di tanggal 21 di tahun 2018 aku dan dia sah menjadi suami istri. Di. Tanggal 23 desember 2018 kami melakukan resepsi pernikahan.

Inilah kisah ku..

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *