• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kalian Lupa Bahwa Kebahagiaan itu Masalah

Banyak orang yang bilang kalau mempunyai banyak uang adalah sumber kebahagiaan.

Namun, ada pula orang yang bilang, bahwa untuk menjadi bahagia kamu hanya perlu mensyukuri apa yang ada.

Ya, setiap orang memiliki definisi kebahagiaan dirinya masing-masing. Kebahagiaan masih kerap dianggap sebagai hal yang membahagiakan.

Ya, jelas, karena di ambil dari kata “Bahagia”
Baiklah, pembahasan tulisan ini masih tentang buku master yaitu Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, karya Blogger terkenal yaitu Mark Manson.

Dalam buku tersebut, terdapat bab yang judulnya Kebahagiaan itu masalah. Bab yang cukup menguras pikiran kita, sekaligus meluruskan mindset kita tentang arti kebahagiaan itu sendiri.

Dalam bab ini, Mark Manson bercerita suatu kisah seorang raja dan putra mahkota yaitu pangeran. Seorang putra mahkota yang selalu diperlakukan sangat baik oleh ayahnya. Sejak kecil ia tidak diizinkan untuk melihat dunia luar, yang tampak menyedihkan, dan penuh dengan penderitaan.

Lalu, tumbuhlah anak raja tersebut dengan sikap yang sangat jutek dengan orang lainnya. Sehingga, membuat pangeran menjadi tidak cukup puas dengan apa yang sudah disediakan oleh ayahnya, dan segala kemewahan yang telah diberikan.

Hingga suatu ketika, pangeran memberanikan diri untuk mencoba melihat dunia luar. Apa yang dilihatnya sungguh mengejutkannya, ia melihat orang kelaparan, kesakitan, orang lanjut usia, dan segala penderitaan lainnya,
Ia menjadi galau, dengan apa yang dilihatnya.

Ia sungguh tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya, dan ia menjadi sungguh penasaran dengan dunia luar.

Sampai akhirnya, pangeran mencoba merasakan selama satu malam untuk menjadi orang yang menderita. Ia benar-benar merasa kelaparan, kesakitan, dan satu hari hanya makan satu kacang.

Lalu, besoknya ia kembali ke istana, dan ia ingin merasakan penderitaan lagi.
Hingga akhir cerita pangeran pergi dari istana untuk selama lamanya, dan tidak pernah kembali lagi.

BACA JUGA :   Memahami Arah Hijrah Agar Tak Salah Arah

Dari rasa penasarannya ini pangeran menemukan jenis pemahaman yang selalu ada dalam benak sebagian orang bahwa penderitaan sangat menyebalkan. Dan, tidak ada maknanya jugaa. Sama halnya dengan kekayaan, penderitaan tidak akan bernilai jika dilakukan tanpa ada tujuan.

Hal penting yang disadari oleh pangeran adalah bahwa hidup itu sendiri adalah suatu bentuk penderitaan. Orang miskin menderita karena kemiskinannya, begitupun juga dengan orang kaya yang menderita karena kekayaannya.

Orang yang mengejak kenikmatan duniawinya, menderita karena mengejar kenikmatan duniawinya. Dalam semua hal yang terjadi, semua orang memiliki penderitaan yang berbeda.

Walaupun ada yang lebih menderita, tapi satu hal yang pasti kita semua menderita.
Ada sebuah premis yang sungguh menarik. Premis itu adalah bahwa kebahagiaan itu bersifat algoritmik, bisa diubah dan dicapai. Seperti ketika kamu mencoba untuk meniru seseorang yang kamu kagumi, sebut saja idolamu. Kamu merasa bahagia setelahnya, membeli barang favorit kamu merasa bahagia, dan lain sebagainya.

Inilah point pentingnya, bahwa kebahagiaan itu bukanlah persamaan yang dapat dipecahkan.
Ada point penting lainnya dari bab ini yaitu, tentang kebenaran.

Pasti kita semua pernah mendengar ucapan dari teman-teman, keluarga, atau pasangan kita yang terdengar menyakitkan.

Seperti, “Apa yang kamu anggap sebagai ‘pertemanan’ sesungguhnya adalah upaya kamu secara konstan untuk membuat orang lain terkesan.”
Atau
“Tentu menghasilkan banyak uang akan membuat kamu bahagia, namun itu tidak otomatis membuat kamu menjadi kaya, lalu dicintai banyak orang.”

Orang-orang yang menyampaikan hal-hal tersebut, seperti pahlawan bagi hidup kita, penyelamat untuk mental kita.
Mereka akan membuat hidup kamu menjadi lebih baik, dengan kejujuran, walaupun itu terdengar menyakitkan.

Sekarang, jika kamu disuruh memilih antara dua orang yang nanti saya akan sebutkan, kamu pilih yang mana.

BACA JUGA :   Dulu Berbagi Kamar dengan 9 Orang, Mukesh Ambani Kini Punya Rumah Termahal di Dunia dan Paling Tajir se-Asia

1. Orang-orang yang hadir dalam hidupmu, namun sedikitpun ia tidak pernah melontarkan kalimat-kalimat yang menyakiti hatimu, seperti saat kamu melakukan kesalahan, ia tidak mengevaluasimu.
2. orang-orang yang hadir dalam hidupmu, ketika kamu melakukan kesalahan, respon yang diberikan oleh orang tersebut, menegur dan mengevaluasimu dengam kalimat-kalimat yang mungkin sedikit dalam di hati.
Dari dua orang tersebut, mana yang kamu pilih?

Jika pertanyaan ini kamu lontarkan ke penulis, maka penulis akan menjawab orang yang kedua.

Orang yang kedua lebih jujur dengan dirinya, dan memedulikan kita. Saat kita melakukan kesalahan, ia peduli dan menginginkan kita belajar dari kesalahan, hingga selanjutnya menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Jika, orang yang pertama. Orang yang seperti itu, tidak begitu peduli dengan kamu. kamu melakukan kesalahan atau tidak, bagi mereka tidak akan berdampak bagi dirinya. Jadi, orang yang seperti ini, lebih cari aman dan egois.

Ya. Orang yang kedua akan membuatmu lebih kuat, dengan membuat kita menangis, mencerahkan masa depan kita dengan menujukkan kepada kita apa itu kegelapan.

Orang yang kedua, akan frontal menunjukkan penderitaan pada kamu. dan secara biologis, penderitaan itu bermanfaat. Penderitaan seperti agen alami, yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi.

Kebenaran yang paling agung dalam kehidupan biasanya kebenaran yang paling tidak enak didengar.
Rasa sakit yang diajarkan, yang mungkin kita sendiri membenciny, ternyata berguna bagi kedewasaan hidup kita. Rasa sakit memberi pelajaran kepada kita akan apa yang harus kita perhatikan ketika kita masih muda dan teledor.

Ini berguna bagi kita, untuk menunjukkan pelajaran hidup, akan hal yang baik dan buruk. Yang kerap kita sepelekan, bahkan lupakan.

BACA JUGA :   Sebelum Desain Pamflet, Ada Baiknya Diperhatikan Hal Berikut

Padahal, jika kita ingin belajar, untuk lebih peka terhadap nilai penderitaan dalam hidup. Penderitaan mengajarkan kita agar menjadi insan yang lebih tangguh dan menaati batasan kita.

Itulah mengapa menghindari rasa sakit dan mengejar kenikmatan tidaklah selalu berguna. Karena, rasa sakit dapat sewaktu-waktu, menentukan hidup dan mati kita.

Sayang sekali, jika kita menghindari rasa sakit karena artinya kita melewatkan pelajaran yang sungguh berharga dalam hidup. Selalu mengelak dari ketidaknyamanan hidup yang jelas-jelas semua orang pasti akan merasakannya, lalu menganggap bahwa dunia ini tidak adil bagi kita, inilah artinya kita kehilangan manfaat dari mengalami rasa sakit yang menyehatkan. Sangat rugi jika kita melewatkan guru terbaik dari kehidupan yaitu penderitaan.

Pada intinya, hidup hanyalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya. Jangan mengharapkan suatu kehidupan yang bebas dari masalah, karena tidak ada yang seperti itu. Sebaliknya, berharaplah akan hidup yang penuh dengan masalah-masalah yang baik.

Itulah point-point penting dari bab Kebahagiaan itu masalah. Nilai manfaat kehidupan yang ada dalam buku ini, memang mengajarkan kita akan perspektif kehidupan yang waras.

Tidak semua tentang kebahagiaan, tapi juga tentang penderitaan.
Penderitaan yang mau tidak mau, pasti menghampiri. Dan itulah saatnya kita belajar menghadapi masalah-masalah kehidupan yang seperti tamu istimewa dalam kehidupan.

Manusia tangguh, di uji dari seberapa cakap ia dalam menghadapi masalah. Manusia cerdas, belajar dari masalah.
Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Apabila ada kritik, saran, atau komentar saya persilahkan.

Baca juga : https://imbicom.club/2021/08/27/terjebak-di-lingkaran-setan/

Aidaannisa28 (26)

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram)
Happy Reading!

Bagikan Yok!

Aidaannisa28

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram) Happy Reading!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *