• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen : Cinta, Cita dan Rasa Anas

ByPaskalis

Agu 29, 2021 ,

Masa muda sunggu sangat menyenangkan, berbagai hal pokoknya ikut-ikutan saja dan tidak pikir soal dampaknya kelak, sampai-sampai lupa arah jalan dan tujuan. Di nasihatin dan di nasihatin masih saja bandel. Haaa!! Itulah masa muda, pasti setiap orang merasakan masa-masa itu.

Anas adalah remaja putri nan lugu, rajin dan punya paras wajah yang cantik aduhai. Perkembangan bodi mulai menonjol, apalagi dia sering melakukan pekerjaan berat sehingga postur tubuhnya terbentuk secara alami. Lebih dari itu, dia hidup dengan didikan orangtua yang keras dan disiplin.

Suasana sore kian menyapa, kegiatan jual beli di pasar kaget mulai ramai. Seperti kebanyakan pasar lokal lainnya para penjual dan pembeli saling tawar-menawar.

Terlintas tubuh tinggi berpenampilan sederhana dengan gulungan sayur kangkung berada di atas kepala sedang melangkahkan kaki ke pasar kaget untuk berjualan.

Di sudut pasar kaget terdapat pemandangan yang tidak biasanya. Para mahasiswa sedang duduk melingkar dan kondisi mata sayup karena di pengaruih minuman alkohol dan Ganja. Terlintas seorang gadis, dan mereka melirik bodi seorang gadis berkulit putih bercampuran ras mongoloid Manado tulen.

Rupanya, watak mereka kesakitan dengan barang haram yang membuat tak berdaya. Pandangan mereka samar-samar sehingga mereka tidak tahu secara pasti bahwa gadis manis yang dilirik itu adalah anak Pak Berthus yang dikenal galak pun juga sebagai ondoafi (tetua adat) yang di jabatnya.

Para mahasiswa lebih memilih mencari kos-kosan di Uncen Bawah karena lebih dekat dengan kampus. Sialnya dari kondisi sosial begini, habis bulan para orangtua mengirim uang. Tapi uang itu sering salah digunakan. Mabuk-mabukan juga engganja. Uncen Bawah memang suasananya ramai. Makanya, apalagi bila jam pulang kampus dan sekolah tiba, jalan di depan kampus pada ramai oleh mereka, menyebabkan badan jalan trotoal sesak. Sampai-sampai masyarakat umum pun di kira mahasiswa, apabila berada disana.

BACA JUGA :   Sejarah Kota Brebes

Anas sebagai anak pertama di dalam keluarga, Anas juga seorang wanita pengertian dan memegang tanggung jawab besar sehingga dia harus membantu Mama di rumah sekaligus seringkali membantu Bapak dalam mengelolah belasan lahan kolam kangkung milik keluarga. Tidak lupa, dia juga mengurus adek-adek untuk aktif di gereja serta sekolah. Dan dia tercatat sebagai pelajar di Sekolah Menengah Atas Negeri di Abepura.

“Kaka beli sayur kah!!”.

“Adoo.. adik sekali-kali sayur kangkung kasih gratis kah? Upps!!! jangan marah dulu dik, cuman bercanda saja, kaka beli satu ikat”.

“Ini kangkungnya kak, terima kasih kaka”, Jawab Anas.

“Dik kemarin kenapa tidak jualan ??”, tanya Marthen.

“Oh iya Kaka, saya ada kegiatan di Gereja jadi tidak jualan!!”

“Adik Gereja dimana jadi??

“Di Gereja tooh!!!”

“Iya di Gereja saya tahu, tapi di Gereja mana!!”

“Kaka mungkin jarang masuk Gereja jadi tidak tahu saya Gereja dimana!!”

“Baru ko punya teman si..Anas Gereja dimana?”

Sambil tertawa kecil. ” Kaka kenapa tanya sama saya? , Tanyakan saja sama orangnya langsung too”.

Vera tersenyum sambil melihat ke arah Anas dan menyampaikan. “Anas saya kasih tahu kah!!”

Nampak Anas malu-malu suka.

“Kami gereja di GKI Pengharapan, Saya perna lihat Kaka Gereja di Pengharapan,” jawab Vera. Lanjut Vera, “Haaa…Kaka mungkin jarang masuk gereja, jadi makannya kami jarang ketemu kaka di Gereja, Itu baru tanya-tanya lagi !!”

“Iyakan Vera!!! mungkin sekarang setelah tahu kalian juga gereja di Pengharapan, saya akan rajin lagi ke Gereja!!”

“Anas kalau lulus SMA nanti mau kuliah dimana?”
“Di Universitas terdekat saja Kaka.”
“Dimana too!!”
“Yang terdekatlah…”
“Uncen kah!! Atau USTJ!! ”
“Iyo Kaka, antara dua Kampus itu, habis dekat dengan rumah jadi.”
“Masuk di Uncen saja, nanti bagus !!”

BACA JUGA :   Perjalanan Akhir Pekan di Tana Tabi

Anas sedikit tertawa sembriang penuh rasa. “Hehehe…Kaka paksa sampeee !!!

“Iya sudah. Anas dan Vera, Kaka jalan dulu, mau mandi terus masak, habis siang ini Kaka belum makan jadi lapar sekali.”

Rupahnya teman Anas, si Vera itu mengamati tingkah laku Vera dan kaka mahasiswa yang bernama Marthen itu.

Dan dalam hati Vera mengatakan, Kenapa kaka Marthen selalu beli sayur kangkung milik Anas!! Coba sekali-kali kaka beli sayur kangkung yang saya jual lagi kah!!

Apakah kaka ini terkesima dengan Anas!!

“Anas, kaka Marthen itu setiap sore beli ko punya sayur eeh!!,
Apa ada maunya kah!!!”

Gurauan Vera sambil berbisik di depan telinga Anas yang berantingkan emas.

Anas berlaga bodok di samping Vera. Namun dia harus mengakuinya setelah bisikan lembut suara hati membenarkannya.

Dalam lubuk hati, menyampaikan,Benar juga ya, setiap sore kaka Marthen membeli sayur yang saya jual. Padahal yang berjualan kangkung di pasar kaget, selain saya ada juga, Vera, Mama Kiki, Mama Jhos dan lainnya. Haha!!! Sudahlah pusing amat.

“Vera….Vera….Tadi ko bilang apa”?

“Anas ko tidak dengar kah!!! atau pura-pura tidak dengar.”

“Trada yaa Vera!! Itu kaka Marthen setiap sore beli ko punya sayur kangkung yh?”

“Iyo kah?, Vera tidak juga kok!! Kebetulan saja, habis saya yang duluan buang suara sama kaka jadi dia langsung beli saya punya sayur duluan.”

Pikiran Anas pun mulai menggebuh-gebu.
“Vera kakak itu dia asal dari daerah mana ee!! Ko tahu kah”, tanya Anas.
“Saya tidak tahu Anas, tapi dia punya muka seperti orang Serui kah!!”

“Ahhh tidak dia berasal kabupaten Biak Numfor moo…. dia punya logat bahasa saja seperti orang Biak.”

BACA JUGA :   Berselimut Rindu

“Anas pasti kamu dua sering cerita-cerita jadi Kaka dia sudah kasih tahu asal dirinya sama ko kah apa!!!”

“Stop sudah Vera. Benar saya tidak tahu.”

Anas dan Vera pun tersenyum sambil tertawa bersama-sama
Hahahaha…

BERSAMBUNG…

Paskalis (38)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *