• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tiga Tips Mengatasi Kebuntuan Saat Menulis

ByMasSam

Agu 27, 2021

Jangankan penulis pemula. Penulis sehebat Andrea Hirata, Tere Liye atau Dee Lestari pernah mengalami kebuntuan saat menulis.
Padahal para penulis top itu. Sebelum menulis mereka telah mengumpulkan bahan dan melakukan riset. Mereka pun sudah menyediakan ruangan dan waktu khusus. Kadang sampai mengasingkan diri dari lingkungan selama menulis buku. Akan tetapi tetap saja mengalami kebuntuan saat menulis.
Kebuntuan saat menulis dalam dunia kepenulisan sering dikenal dengan istilah writter’s block. Writter’s block adalah kondisi ketika seorang penulis hilang fokus. Jari-jemari tetiba mandeg tidak mau beegerak menyentuh papan tuts. Otak seakan buntu.
Penyebabnya bermacam-macam. Bisa karena faktor kejenuhan atau tiba-tiba saja hilang mood. Dapat juga karena situasi lingkungan yang mendadak tidak mendukung. Misalkan teman atau kerabat datang mendadak.
Bagaimana cara mengatasinya?

Tiga Tips Sederhana
Tiga tips yang penulis sampaikan ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi bisa saja keadaannya berbeda. Kalau sama berarti hanya kebetulan saja.
Pertama, tinggalkan draft tulisan. Ya. Tinggalkan saja. Sebab jika dipaksakan hasilnya tidak akan maksimal. Percuma.
Langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah cari suasana yang dapat mengembalikan mood. Putar musik, menonton film atau main game misalnya.
Kedua, cari referensi. Mandegnya ide dapat disebabkan oleh minimnya data pendukung. Sehingga referensi kita terbatas. Maka cara terbaik mengatasi kebuntuan menulis dalam hal ini adalah baca buku referensi atau lakukan riset tambahan.
Nambah waktu, dong? Ya jelas. Itulah kenapa sebelum menulis disarankan sebaiknya kita menyiapkan bahan- bahannya terlebih dahulu. Jangan mulai menulis apabila data pendukung belum lengkap.
Ketiga, lakukan kegiatan yang menyenangkan hati. Dalam hal ini tiap-tiap orang pasti berbeda-beda kesukaannya. Maka tidak ada kegiatan yang penulis rekomendasikan.
Penulis sendiri paling suka bikin teh ‘nasgithel’. Panas legi (manis) dan kental. Begitu menghirup aroma teh. Lantas saja pikiran jadi tenang. Pelan-pelan otak kembali konek ke topik tulisan.
Sekali lagi ini beraifat individual. Orang lain bisa saja memandangi ikan cupang atau melihat-lihat koleksi tanaman hias, misalnya.
Nah kalau pikiran sudah terasa segar dan otak sudah nyambung kembali ke tulisan. Kita harus secepatnya menyelesaikan tulisan. Jangan sampai kehilangan momen lagi.
Perlu penulis ingatkan kembali. Tulisan ini hanya diperuntukkan bagi penulis pemula dan para calon penulis. Bukan untuk yang sudah biasa atau bahkan berprofesi sebagai penulis.
Selamat mencoba.

MasSam (33)

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Raden Mas Walangsungsang, Banyak yang Percaya Masih Hidup Meski Ada Makamnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *