• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mencuri Di Rumah Pendeta, Dua Anak Berhadapan Dengan Hukum

Jayapura-Dalam kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) perlu mengikuti peraturan UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Pradilan Pidana Anak (SPPA) yang berlaku di Indonesia.

Anak berinisial SA (16) dan anak berinisial RT (15) harus berurusan dengan pihak berwajib lantaran melakukan tindakan tidak terpuji.

Sudah dua kali mencuri di rumah bapak pendeta beralamat di dok V, kelurahan angkasa, Jayapura Utara.

Pada hari Senin (7/8) jam 11.00 WIT, di adakan musyarawah (diversi) yang mempertemukan keluarga korban dan keluarga anak pelaku yang di fasilitasi oleh polisi berlangsung di kantor polisi sektor Jayapura Utara.

Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar Pradilan Pidana.

Pertemuan diversi dilaksanakan sebagai amanat Undang-undang (UU) Nomor (11/13) tentang Sistem Pradilan Pidana Anak (SPPA). Maka Kepolisian, Kejaksaan dan pengadilan wajib melaksanakan diversi terhadap kasus anak berhadapan dengan hukum.

Penyidik dan PK Bapas menyampaikan, anak SA dan RT tidak asing karena mereka sering melakukan tindakan kasus pencurian.

Dalam pertemuan tertutup untuk umum itu, anak SA dan RT tertunduk murung. Walaupun ruangan itu full AC, namun terlihat mereka tidak nyaman dan baju tipis yang di kenakan pun basah di punggung belakang.

Belum lagi keringat yang menetes di wajah, membuat anak SA dan RT harus memakai baju untuk mengusap keringat tersebut.

Apalagi saat bapak anak pelaku hadir di dalam ruangan dan memarahi mereka, membuat anak-anak ini menjadi tertekan dan takut.

Atas tindakan pencurian itu, Keluarga korban menyesali pengulangan kasus yang dilakukan kedua anak ini.

Apalagi peran orang tua kurang intens dalam mendidik anak. Orang tua tidak dapat berbicara banyak dan hanya tertunduk malu dengan ulah kenakalan anak-anak mereka.

BACA JUGA :   TAMBAH LAGI COVID 19 MENINGGAL

Saat di Polsek Jayapura Utara, bapak dari anak pelaku RT memarahi dengan mengeluarkan kata cacian maki dan memukul anaknya di depan semua pihak yang hadir musyawarah diversi di kantor polisi.

Sentak polisi dan pekerja sosial anak mencoba melerai dan menahan orang tua tersebut.

Rupahnya belum lama ini tindakan pencurian perna mereka lakukan. Dimana pelaku anak mencuri uang milik bapak pendeta dengan jumlah uang 100 juta rupiah.

Waktu kejadian pertama, bapak pendeta memaafkan dan mendoakan keluarga anak pelaku agar tidak mengulangi perbuatan mereka lagi.

Korban menjelaskan, pelaku masuk ke dalam rumah dengan cara membobol plafon belakang rumah. Setelah berada di dalam rumah, pelaku masuk ke kamar bapak pendeta dan menggasak uang berjumlah 80 juta rupiah, ungkap anak sulung dari pendeta.

Lanjut korban, kedua anak sebelumnya pernah mencuri di rumah Pendeta dan kini mereka mengulangi lagi di rumah yang sama.

Melihat isi UU SPPA, dimana dalam kasus pertama, korban tidak melapor pelaku ke pihak berwajib dan hanya menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan di rumah pendeta sehingga kasus ini boleh dikatakan bukan pengulangan.

Maka berdasarkan UU SPPA wajib dilakukan diversi, mengingat dalam kasus pertama belum ada penetapan diversi dari penyidik.

Di lihat dari jumlah nominal uang yang di ambil pelaku cukup fantastis sehingga orang tua mereka tidak sanggup untuk mengembalikan uang ini.

Dari penjelasan Laporan penelitian Masyarakat (Linmas) Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Balai Permasyarakatan (Bapas) Abepura, dimana uang hasil curian di pakai bersama orang dewasa untuk membeli minuman keras, Narkoba jenis ganja dan jajan sehari-hari.

Keluarga korban berharap kasus ini di proses saja sehingga mereka mendapatkan pembinaan yang baik di Lapas Anak.

BACA JUGA :   Tetap Waspada, Covid 19 masih melanda

Apalagi, kedua anak ini sering bandel dan tidak mendengarkan nasehat orang tua.

Proses diversi di tingkat kepolisi memutuskan bahwa diversi gagal sehingga penyidik wajib melimpahkan perkara ke penuntut umum dengan melampirkan berita acara diversi dan laporan penelitian kemasyarakatan, (pasal 29 ayat (4) UU SPPA).

Kini perkara akan di lanjutkan ke ranah kejaksaan.

Paskalis (38)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *