• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Terjebak Sangkaan Sendiri

ByNashwa

Agu 26, 2021

Ada salah seorang dari kampung sebelah, dia malas sekali untuk mencari pekerjaan. Bakke namanya. Jadilah dia seorang pengangguran. Suatu ketika, dia ingin pergi ke kampung sebelah. Menginap di penginapan gratis–yang memiliki waktu maksimal tiga hari.

Bakke bermalam di Kampung Koya. Hari pertama jalan-jalan, dia bertemu dengan toko bunga. Pedagang bunga itu sedang membuka slot untuk pekerja yang ingin bekerja di sana. Dari jarak yang agak jauh, Bakke melihat tulisan di atas karton itu.

Dia memikirkan soal itu. Sebab background pengangguran yang dia miliki tiba-tiba menghantui pikirannya. Sebelumnya, mana ada tingkah semacam ini.

‘Apakah cocok aku menjadi seorang penyiram bunga di pagi dan sore hari? Merawat bunga-bunga supaya tetap seperti sedia kala?’

Dia lelaki pecinta bunga. Sebenarnya dari kecil dia selalu merawat bunga di depan teras rumahnya. Kau tahu, mengapa dia tiba-tiba merendahkan pekerjaan yang sebenarnya biasa dia lakukan? Hanya saja dia tidak ingin terlihat bekerja seperti itu.

Diam-diam Bakke memasuki toko terbuka yang berisi tanaman-tanaman bunga. Hanya untuk melihat, bukan membeli. Karena di kantongnya, tidak ada sekoin pun.

Kemudian ada seorang lelaki, yang membeli bunga.

“Harga bunga mawar ini berapa, Pak?” tanyanya dengan meraba mahkota bunga mawar itu.

“Yang kecil dua puluh lima ribu, yang besar itu lima puluh ribu.” Sesekali dia menunjuk barang dagangannya sesuai harganya.

“Ya sudah, yang kecil aja, empat, Pak,” ujar bapak pembeli, sambil mengeluarkan dompet dari saku.

Dia mengambil beberapa uang dari dompet, sambil bertanya juga pada penjual bertopi putih yang melayaninya. “Cari pegawai, ya, Pak?”

“Iya, ini ada satu tugas kosong, jadi belum ada yang gantikan.”

“Kebersihan, Pak?”

“Bukan. Kalau kebersihan itu pastinya selalu ada, itu paling utama.”

“Mungkin nanti teman saya bisa kerja di sini, Pak. Dia juga cari pekerjaan. Semoga saja mau.”

Mendengar obrolan seperti ini, dari awal Bakke tertarik mendengarkan.

‘Apa? Soal kebersihan itu, selalu ada? Jadi, apa yang kurang?’ gumamnya.

Tanpa basa basi lagi, dia tiba- tiba tertarik mengisi hidupnya dengan bekerja. Setelah pembeli empat bunga itu pergi, dia mendekat pada penjual.

“Pak, saya bisa kerja di toko ini, Pak. Soal bunga, saya di rumah juga merawat bunga.” Bakke melihat kanan dan kiri, hamparan bunga berjejer di bawah. Ada yang di dalam polybag dan pot plastik, ada juga bunga di dalam pipa, yang batangnya keluar dari sela-sela lubang pada pipa tersebut.

Penjual itu sedang memasukkan uang ke dalam laci. Dia menoleh karena merasa terpanggil. “Di sini, saya butuh pekerja yang merawat bibit bunga. Di sana sudah tersedia kebutuhannya.”

BACA JUGA :   KEBERAGAMAN UMAT ANTAR NEGARA

“Iya, Pak. Saya dah jago masalah itu.” Anggukannya membuat penjual itu seakan yakin dengan keahliannya.

Semua berjalan mulus. Bakke diterima. Tak ada peraturan khusus dari bapak penjual, yang kian hari tidak senang dipanggil Pak oleh karyawan barunya itu–Bakke.

“Panggil saja ‘Bang Iko’, ndak perlulah panggil-panggil bapak,” ujarnya tanpa basa basi di awal. Bakke hanya mengangguk. Dia menyesuaikan dengan keadaan.

***

Someday, Bakke melangkahkan kaki keluar dari toko bunga, tepatnya saat siang menjelang sore. Dia sudah usai bekerja. Menuju rumahnya –karena dia sudah lewat inap 3 hari, jadi harus pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, dia bertemu seseorang yang tidak asing dipandangannya. Ya, itu Pak Rudi!

Dia terkenal di kampungnya Bakke. Sebab setiap dua kali seminggu dia memberikan daging ke setiap rumah di sana. Di Kampungnya Bakke, hampir seluruhnya fakir miskin, termasuk Bakke. Sebab itulah Bakke mengenalinya.

“Pak!” Dia hanya sekadar basa-basi menyapa.

“Lho! Ngapain, Ke?” Jadilah sapaannya disambut pertanyaan. Walau sudah tiga hari lewat Bakke bekerja di Toko Bunga itu, baru kali ini Pak Rudi melihat ada Bakke di kampungnya. Jelas begitu, karena tidak selalu di jam pulang Bakke, ada Pak Rudi di depan toko dagingnya. Itu karena Pak Rudi sibuk dengan dapurnya.

“Pulang kerja, Pak,” jawabnya sambil cengingisan.

“Kerja di mana, kamu?”

“Di Toko Bunga, Pak, ee Bang Iko.” Susah sekali menyebutnya. Bukan karena susah pelafalan, tapi teringat apa yang dikata Bang Iko bebera hari lalu.

“Oalah.” Ini kata penutupnya, kata yang mewakili ke-barutahuan Pak Rudi.

Bakke mengangguk-angguk, dia lanjut jalan menuju rumahnya. Dia berlari ketika sepi, berjalan ketika terasa ada orang di sekitar. Sampai rumah, ia melakukan rutinitas biasa. Tetapi sore nanti, dia melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dia akan membeli kebutuhannya.

Dengan membeli barang-barang dari uang hasil kerjanya, rasanya seakan-akan bangga. Bakke pun begitu. Uang yang dia dapat tentu cair-an dari Bang Iko. Kau tahu kenapa honor keluar dulu padahal belum satu bulan? Entahlah, Bang Iko itu memang punya kebijakan sendiri–yang sedikit aneh tapi Bakke suka.

Esoknya, si rambut keriting ini terlihat bersemangat. Dia akan membeli roti di pagi hari untuk sarapannya sebelum bekerja. Jeda empat pertokoan dari Toko Daging Pak Rudi, di sana ada Toko Roti.

***

“Bungkus roti dua, Bu.” Penjualnya seorang Ibu berhijab cokelat muda. Seperti orang yang sedang di dapur, tentunya Ibu itu menggunakan celemek, karena sambil menjual, Ibu itu juga membuat roti.

BACA JUGA :   Menata Mural, Menghidupkan Seni Jalanan

Sembari menyiapkan uang, dia juga bertanya kepada Ibu itu–yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan roti. “Ibu apakah tidak bersedekah? Di kampung sebelah juga banyak fakir miskin.” Seakan-akan Ibu itu tidak tahu saja, dia mengatakan kalimat akhir begitu.

Ibu itu tidak menjawab. Dia hanya menoleh sebentar pada Bakke, lalu mengalihkan matanya fokus pada jemarinya menali ujung kantong kertas berisi roti, dengan senyuman di bibirnya. Beliau kemudian menyerahkan kantong roti pada Bakke dan menerima uang. “Terima kasih.” Hanya dua kata itu yang terucap.

Bakke seakan-akan merasa direndahkan, dengan senyuman seperti itu. Dia kesal.

***

Siang menjelang sore.

Bakke pulang. Dia akan bertemu dengan teman lainnya di Kampung Koya ini. Parahnya, perasaan kesal tadi itu masih ada. Dan lebih parahnya, dia mengeluarkan amarahnya dengan hal yang salah.

Mengatakan kepada teman-temannya, sesuatu yang sebenarnya tidak dia ketahui. “Yang jual roti dekat toko daging Pak Rudi itu, enggak pernah sedekah!”

“Bu Nuri? Apa benar begitu?”

“Iya! Enggak usah beli di sana lagi, tau!”

Setelah berbicara ke sana ke mari, dia akhirnya pulang ke rumah. Perasaan kesalnya itu seakan-akan punya hasil: balas dendam.

***

Keesokan harinya, dia berencana menghasut–supaya tidak beli roti di toko Bu Nuri–teman-teman yang lain, dari teman satu ke lainnya, dari teman lainnya ke yang lainnya lagi. Langkah Bakke dan dua teman lainnya yang kemarin sempat menggosip Ibu Nuri itu, semakin cepat. Satu tujuannya itu ke geng terdekatnya.

Sampai beberapa langkah lagi akan memasuki bangunan tua bercat hijau, beberapa detik lagi pintu itu akan diketuk. Tiba-tiba ada kabar berdentang keras dari Masjid. Pengumuman tentunya. Tetapi diawali dengan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un”. Bukan kabar baik!

Mereka bertiga langsung terdiam mendengarkan pengumuman itu. ‘Siapa yang meninggal?’ pikir mereka semua.

“Telah berpulang, Ibu Nuri …”

Bakke dan kedua temannya bertatap-tatapan. Bakke menggeleng-geleng, menarik lengan kedua temannya untuk kembali, mengatakan untuk membatalkan kegaduhan ini. Dia seakan-akan memiliki sebuah firasat. Lagian, buat apa mengatakan hal-hal ini jika roti sudah tidak lagi dijual?

***

Dua minggu berlalu.

Bakke sedang duduk-duduk di gubuk di Toko Bunga Bang Iko. Toko Bunga Bang Iko luas bagian dalamnya. Karena di sinilah letak perawatan segala yang dia jual. Tidak terpisah jauh tempatnya.

“Capek? Tumben amat!” Bang Iko tiba-tiba menepuk pundak Bakke dari samping.

BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 10 Sebuah Fakta Menyesakkan

“Hahaha, kan tugas hari ini sudah selesai, ya tinggal nunggu jam pulang lah, Bang.”

“Oh, udahan?”

“Enggak udahan, Bang. Tugas hari ini sudah selesai! Yaah, gimana coba nangkepnya.”

Bang Iko sekarang yang tertawa. Bakke khawatir dibuatnya. Dia terlihat menyukai pekerjaan barunya, bukan? Bang Iko sering sekali berbincang-bincang dengan Bakke. Seakan-akan Bang Iko itu juga membuat kualitas pemikiran para pekerjanya itu meningkat, bukan hanya soal kualitas cara kerja. Bang Iko sudah berkepala empat–dekat lima. Tetapi jiwa mudanya masih terlihat, apalagi dia suka dipanggil “Bang” daripada “Pak”.

“Buat hari ini, deh, pulang duluan enggak apa-apa. Tapi besok datang lima menit sebelum jam setengah tujuh, ya!”

“Siap, Bang, kalau itu mah gampang!” Bakke turun dari gubuk itu, dan bersiap keluar kebun.

Sebenarnya selama di gubuk, dia memikirkan satu hal, kenapa akhir-akhir ini Pak Rudi jarang sekali memberi daging ke kampung sebelah–kampungnya Bakke. Biasanya satu minggu dua kali, sekarang, dua minggu berlalu pun tak ada. Teman sekampungnya merasakan hal yang sama, tetapi tidak berpikir sampai sana.

Dia berniat berkunjung ke toko daging Pak Rudi–yang jelas-jelas jam segini masih buka. Kebetulan, Pak Rudi ada di depan. “Pak!” sapa Bakke.

“Eh, Bakke, ayo duduk dulu.” Pak Rudi menyambut Bakke seperti tamu yang berkunjung ke rumahnya. Dia sendiri yang menuang Kopi ke gelas untuk menjamu Bakke. Sebenarnya, siapa Bakke?

Tidak-tidak. Bakke berkunjung sebenarnya pun berniat untuk bertamu, bukan membeli. Terlihat dari dia memasuki toko daging. Pak Rudi dari awal sudah tahu, dia akan bertamu.

“Sudah pulang nih, cepat sekali?”

“Haha iya, Pak. Ini saya terlalu semangat hari ini, kerjaan kelar sebelum waktunya.”

Panjang lebar mereka berdua berbicara. Sampai Pak Rudi berhenti sejenak sebelum menjawab apa yang ditanyakan Bakke. “Tumben enggak bagi-bagi ke kampung sebelah, Pak?” Bukan batasan Bakke juga bertanya begitu. Tetapi, itu sudah terlontarkan, tidak bisa ditarik.

Dengan membetulkan duduknya, Pak Rudi mengatakan, “Sebenarnya selama ini Saya memberi daging ke kampung sebelah itu berkat Bu Nuri. Beliau yang membayari.”

Bakke tercekat, matanya terbelalak mendengar perkataan Pak Rudi.

“Subhanallah …”

Pak Rudi mengangguk-angguk.

Besok dia harus melakukan sesuatu–berkata yang sebenarnya pada dua teman yang secara tanpa sadar akan melakukan hal buruk: keonaran.

***

Nasib, besoknya, dia dikeluarkan dari Toko Bunga Bang Iko. Apakah Bang Iko sudah tahu masalah itu?

Nashwa (1)

Penutur Cerita

Bagikan Yok!

Nashwa

Penutur Cerita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *