• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

MIRAS, Menjadi Pemicu Tindakan Kekerasan

Jayapura- Saya meluangkan waktu sebentar untuk mengetik di catatan Word handphone Realme, setelah mendengar sebuah kasus yang mana kasus ini boleh dikatakan sangat tragis dan biadap.

“Bapak kandung Mabuk dan menghamili anak darah dagingnya sendiri. Sedangkan istri tak berdaya melihat bejat suami yg mennggauli anak buah hati mereka( kandung ) hingga hamil lima bulan”.

Miras, atau minuman keras merupakan minuman mengandung alkohol dan bila di konsumsi dalam jumlah banyak akan menyebabkan orang mabuk.

Soal Miras bukan barang baru untuk di perbincangkan karena pada zaman Nabi Isa atau Nabi Muhammad Saw, miras sudah sangat trend untuk di perbicangkan. Kita dapat membaca di Alkitab atau Qlkurhan, disana banyak sekali kisah Nabi Isa atau pandangan Sahabat Nabi Muhamadia Saw tentang Miras dan mereka pun menemukan problematika tentang miras saat bermasyarakat (sosialisasi) di dunia nyata pada saat masa mereka di dunia

Saat Tuhan Yesus berumur 30an Tahun, dia memulai pelayanan, memberitakan firman Tuhan dan membuat berbagai mujisat.
Kana adalah nama sebuah kota di provinsi Galilea pada abad pertama Masehi, yang disebut dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab Kristen, khususnya dalam Injil Yohanes. Di kota ini Yesus Kristus dicatat melakukan mujizat-Nya yang pertama, dengan mengubah air menjadi anggur.

Tentu, Saat Mujizat Tuhan Yesus, membuat tuan Pesta senang karena beberapa tempayan telah terisi anggur lagi. Pesta perkawinan di Kana boleh lanjut dan para tamu turut senang karena mereka bisa terhibur dengan musik khas timur tengah dan meminum anggur sepuasnya yg di suguhkan oleh tuan pesta.

Sebenarnya, Tuhan Yesus sadar akan dampak negatif dari miras dan mengingatkan umatnya akan bahaya miras, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh (Efesus 5 :18).

Pandangan Islam soal Minuman yang dikelompokkan pada khamar hukumnya haram merupakan perbuatan keji dan perbuatan syetan. Aturan larangan (pengharaman) minuman keras (khamar) berlaku untuk seluruh umat islam serta tidak ada perkecualian. (Allah berfirman dalam QS.almaidah ayat 90:90.25)

Salah satu lirik Lagu berjudul Mirasantika oleh Rhoma Irama, menceritakan kondisi bahaya Miras di masyarakat, bisa jadi lirik lagu menceritakan pengalaman pribadi atau kondisi majemuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Penyayi dangdut ini mampu memukau masyarakat dengan lagu lagunya yang memberikan wejaan bahaya Miras, Narkoba, kemaksiatan, korupsi dan lainnya.

BACA JUGA :   Derita Anak Kos

“Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka (Ya-ya-ya)
Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila
(Ya-ya-ya)
Sebelum aku tahu kau dapat merusakkan jiwaku (o-o-o, o-o-o)
Sebelum aku tahu kau dapat menghancurkan hidupku
Sekarang tak-tak-tak-tak
‘Ku tak mau tak mau tak-tak-tak-tak-tak
‘Ku tak mau tak mau tak (‘ku tak mau tak)
Sekarang tak-tak-tak-tak
‘Ku tak sudi tak sudi tak-tak-tak-tak-tak
‘Ku tak sudi tak sudi tak (‘ku tak sudi tak)
Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka
(Ya-ya-ya)
Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila
Minuman keras (miras), apa pun namamu
Tak akan kureguk lagi
Dan tak akan kuminum lagi
Walau setetes (setetes)
Dan narkotika (tika), apa pun jenismu
Tak akan kukenal lagi
Dan tak akan kusentuh lagi
Walau secuil (secuil)
Gara-gara kamu orang bisa…”
(Sumber: Musixmatch)

Tetapi saat konser di lapangan terbuka, apakah pesan moral itu tersampaikan di telinga para fans? Apakah para fans, saat berjoget riang tidak di pengaruhi oleh miras atau narkoba? Apakah, dengan sadar mereka berjoget ria karena syair lagu, musik dangdut dan suara penyayi yg memukau para penonton?

Pandangan saya, Romah Irama, sebagai musisi papan atas, telah memberikan yg terbaik, dia telah menjalankan kampanye sosial dengan target para fansnya mulai dari generasi muda hingga Orang dewasa. Dia sebagai musisi dan seniman tanah air memberikan karya terbaik dengan syair lagunya, yg secara tidak langsung dia telah mengtausiyah para jamaah.

Berbicara soal tausiyah dan kisah hidup, dari sederet kisah Rasulullah dan para sahabat, nama Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah tentu menjadi salah satu tokoh yang tak kalah tenar dengan sahabat lainnya.

Terlebih dalam berbagai kisah, Nu’aiman dikenal sebagai sosok yang jenaka dan senantiasa membuat Rasulullah SAW tertawa dengan segala tingkah polahnya.

BACA JUGA :   Kasus Pelajar Korban Kekerasan Seksual di Jayapura, Kini Bergulir di Polda Papua

Habib Ali Al-Kaff dalam sebuah kesempatan menceritakan kelucuan dari salah satu sahabat Rasulullah tersebut.

Salah satunya berkaitan dengan perilaku Nu’aiman yang kerap mengonsumsi minuman keras.

Meski beberapa kali diperingatkan dan bertaubat, Nu’aiman masih beberapa kali ketahuan Rasulullah meminum minuman keras.

Berbicara soal miras dan orang dewasa cukup rumit. Terkadang remaja pun sering mabuk cinta.

Masa-masa falling in love itu pasti menyenangkan sekali. Rasa-nya falling in love itu, sejuta rasa dan hidup terasa lebih manis karena kita baru aja dapat 1 orang yang menyayangi kita. Momen ini adalah masa-masa bahagia bagi dua sedjoli sebab belum ada konflik yang menggangu kelangsungan percintaan.

Klien dalam kasus kekerasan pun demikian, dia masuk usia seveenteen di dalam masa pergolakan cinta monyet. Dia tentu merasa jatuh cinta yg menggebuh-gebuh keluar dari isi hati dan pikiran soal sosok lelaki dambahan.

Dan bagi saya itu sesuatu yg wajar di alami oleh para remaja. Ketidak wajaran ketika dia mengalami tindakan kekerasan seksual (verbal maupun non verbal )dari siapa saja.

Rupahnya lingkungan sosial mempengaruhi pola hidup sehari hari. Perilaku mengkonsumsi miras, tentu mempunyai latar belakang sosial yg memicu seseorang menunggak miras.

Salah satunya adalah Nu’ aiman yg di kisahkan sahabat Rasulullah suka mengkonsumsi miras namum terlepas dari itu, Nu’aiman dikenal sebagai sosok mujahid islam sejati.

Ia merupakan Ashabul Badr karena ikut terlibat dalam Perang Badar bersama Rasulullah dan para sahabat. Dia adalah sosok paklawan yg tangguh, karena pedangnya telah menebas nyawat musuh. Tetapi di kisahkan, dia ingin sekali melupakan darah yg mengalir, sahitan pedang kepada musuh yg sering terbawah dalam mimpinya. Miras menjadi sebuah solusi dalam menghalau mimpi buruk nya itu.

Kisah para pencandu miras mempunyai latar belakang yg berbedah. Rupahnya miras menjadi barang minuman dan mempunyai efek menghilangkan stress sementara waktu.

Saya terkejut, mendengar cerita kasus seorang anak yang di gaulih bapak kandung hingga hamil lima bulan. Orangtua mengakui melakukan tindakan tidak senonoh itu. Bapak mempunyai kebiasaan buruk menonton video porno, dengan kebiasaan latar belakang ini membuat bapak tidak bisa mengontrol nafsu bejaknya itu.

BACA JUGA :   Perempuan Berkerudung Itu,Salmia Namanya

Antara Bulan April dan Mei, 2020, bapak mabuk dan melihat anak darah dagingnya sedang mandi, dan ingin mengganti pakaian di kamar dan bapak dengan keadaan mabuk membuntuti anaknya ke dalam kamar, serta melepaskan seluruh handuk yg di kenakan tanpa perlawanan, bapak memasukkan kelamin dan melakukan adegan orang dewasa dengan berbagai gaya organ milik bapa kepada anak kandungnya itu. Rupahnya bukan kali pertama, tindakan itu sudah sering dia lakukan.

Kini bapak sedang mempertanggung jawabkan perbuatan di Polresta Mimika, sedangkan klien kini mengalami tekanan batin karena kondisi hamil lima bulan.

Saya percaya, kisah tragis ini bukan di alami oleh anak berinisial A, kelas satu SMA di kota Jayapura. Namun kekerasan terhadap anak sering dialami anak anak lainnya dan pelakunya adalah orang dekat dalam keluarga.

Memang benar Miras memicu tindakan lainnya. Apalagi, Miras membuat lemahnya akal Budi menjadi tidak sehat. Selain itu Saya melihat, para pembisnis miras, terus membuka sayap dalam menjual produk miras ke daerah pedalaman Papua.

Seperti, kejadian yang baru-baru ini sempat viral di media sosial dimana sebuah mobil Avansa mengalami kecelakaan di jalan trans Nabire Enarotali, dan di dalam mobil terdapat beberapa jenis minuman keras dan di duga barang haram itu milik oknum aparat kemanan yang bertugas di kabupaten Paniai, Papua.

Ini menunjukan Bisnis Miras sedang merajalela dan akan mengancam perilaku manusia dan kearifan lokal di suatu daerah.

Kesimpulan yang dapat saya petik adalah anak adalah generasi penerus bangsa. Miras menjadi pemicu tindakan kekerasan (verbal maupun non verbal), Siapa saja bisa menjadi korban. Berperilaku baik itu memulai dari kebiasaan kita sehari hari. Moral perlu di jaga, bila kurang pemahaman agama di tanam, dengan konsultasi dengan pemuka agama. Pelaku perlu di hukum. Dan korban perlu mendapat kan pendampingan.

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *