• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Karl Marx-Agama Candu Masyarakat, sebuah review bacaan dari buku Menalar Tuhan karya Franz Magnis Suseno

Review Bacaan Buku Menalar Tuhan : Agama Sebagai Candu Masyarakat dalam Pemikiran Karl Marx
Oleh Fitria Candra Ningrum

Pada umumnya orang menganggap bahwa agama adalah petunjuk bagi hidup manusia. Dikarenakan sebagai petunjuk hidup, maka manusia akan tersesat apabila dirinya tidak berpegang pada sistem nilai yang diberikannya. Bagaimana tidak, sistem nilai itu dianggap berasal dari entitas transenden yang merupakan pencipta dari manusia itu sendiri. Orang menyebutnya sebagai Tuhan. Ketika agama diposisikan sebagai petunjuk, maka agama itu sendiri dianggap dapat atau mampu menyelesaikan segala masalah yang ada. Baik masalah tentang rahasia-rahasia alam semesta maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan realitas sosial. Agama juga mengajarkan bagaimana seseorang berhadapan dengan Tuhan itu sendiri. Segala masalah yang ada di dunia, singkatnya, akan terselesaikan jika seseorang mendasarkan diri kepada agama.

Karl Marx mengatakan hal yang sebaliknya. Ia menganggap bahwa agama bukanlah petunjuk bagi umat manusia, tapi agama adalah kerangkeng atau jeratan. Marx mengatakan, “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world and the soul of soulness conditions. It is the opium of the people”. Kutipan terkenal ini merepresentasikan posisi Marx ketika berhadapan dengan agama. Agama hanyalah keluh kesah dari mahluk tertindas, kemudian ia hanyalah opium. Agama bukan petunjuk, tapi ia tak lebih dari masalah dari manusia itu sendiri. Alih-alih memberikan petunjuk untuk melepaskan diri dari sebuah masalah, ia malah menjadi opium atau penenang. Opium di sini bermakna sebagai sebuah obat yang dapat meringankan atau melupakan rasa sakit yang riil. Penenang di sini bermakna ilusi belaka, yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah sebenarnya yang ada di masyarakat. Singkatnya agama merupakan sebuah kepalsuan.

BACA JUGA :   Bupati Ferry Sambut Baik Kerjasama BPS dengan Kejaksaan Negeri Kabupaten Benteng

Pemikiran yang sangat terkenal dari karl marx, yang seolah olah karl marx ,menuduh bahwa agama dengan menjanjikan kebahagiaan dialam sesudah kehidupan, membuat orang miskin dan tertindas menerima saja nasib mereka daripada memberontak terhadapnya. Akan tetapi maksud marx bukanlah seperti itu, ia tidak membicarakan apakah fungsi agama dalam masyarakat negatif/positif, melainkan ucapan karl marx itu menanggapi kritik agama feuerbach. Yang mana gagasannya yaitu “Agama sebagai proyeksi luar dari sifat batin manusia” yang menurut karl marx feuerbach berhenti ditengah jalan.

Dalam tema tersebut ada 4 pokok pembahasan yaitu :

1. Agama Sebagai ilusi
Disini Marx berpandangan bahwa agama hanya sebagai ilusi, yaitu hanya buatan manusia itu sendiri yang mana disebabkan karena tertekan dengan realitas(yang kaya makinj kaya dan sebaliknya). Jadi karna kondisi tersebut masyarakat lebih memilih kepada agama daripada melawan.

2.Agama Sebagai Candu
Agama seperti candu, menjerumuskan, menghancurkan dan merusak tatanan kehidupan manusia di muka bumi dengan janji-janji yang tidak rasional. Menurutnya, orang orang yang terpuruk di dunia nyata misal dalam hal ekonomi atau kesejahteraan hidup lainnya, selalu melarikan diri kepada agama. Mereka mencari ketenangan dalam agama, seakan agama akan memberikan kesejahteraan dan uang yang banyak,padahal tidak. Orang akan semakin ketergantungan dengan agama.

3.Menghindar dari kenyataan
Menghindar merupakan tawaran yang diberikan agama bagi orang-orang yang tertindas. Tetapi tidak bagi mereka yang beruntung dan tidak tertindas, agama dapat menawarkan hal yang lebih baik. Dengan mengacu dari ajaran kristen, yang mana marx dengan jelas mengkritisi prisip-prinsip ajaran kristen yang membenarkan adanya perbudakan dan penindasan atas kaum proletariat.
Yang mana dari ketiganya saling berkesinambungan. Diawali dengan Agama sebagai candu yaitu Marx mengibaratkan seperti opium/ narkotika yang bisa membuat candu, lalu dilanjut dengan agama sebagai ilusi yang mana menghasilkan halusinasi, yang mana dapat menimbulkan halusinasi-halusinasi tentang kesenangan dan melupakan realitas kehidupan(kesedihan), bisa dikatakan menghindar dari kenyataan karena bersifat sementara.

BACA JUGA :   Yaumil Milad ke-95 Nahdlatul Ulama

4. Analisa Kritis
Penjelasan Funsional dan Reduksional
Pendekatan dalam maslah agama ini mirip dengan pendekatan funsionalisme yang digunakan oleh Freud dan Durkheim. Naun yang menarik bagi marx bukan inti keyakinan atau yang berkaitan dengan dasar dasar keprcayaan yang diuyakini kebenarannya oleh para penganut agama seperti tentang Tuhan, surga, kitab suci atau yang lainnya. Yang lebih penting bagi marx adalah peran dari kepercayaan itu dalam perjuangan sosial. Marx sependapat dengan taylor dan frazer bahwa kepercayaan agama yang utama adalah khayalan yang tidak masuk akal. Ketidakpercayaan terhadap agama marx melihat agama sebagaimana halnya sigmud frued yang melihat agama melalui analisa individual neurotik begitu pula durkheim melalui analisa sosialnya, maka marx pun menganalisa agama melalui ekonmi dan politiknya sebagai alur pendekatan fungsional. Dengan pendekatan tersebut menjadi suatu keberhasilan marx dalam melihat agama melalui sudut pandang kaitannya dengan ekonomi sehingga membawa marx pada reduksionisme yang khas.

Keterkaitan antara Agama dan Ekonomi
Dalam hal ini, penekanannya ada pada realitas ekonomi yang mebuat kita tidak mungkin bisa memahami kehidupan beragama dimanapun kecuali dengan menjelaskan keterkaitan yag erat dengan realitas ekonomi dan sosial. Sejak seabad kematian marx, para muridnya yang setia telah membawakan suatu wawasa yang amat luas tentang pemahaman manusia tentang hubungan anta dimensi kehidupan spiritual dengan dunia materi. Mereka telah berhasil menunjukkan secara keseluruhan keterkaitan antara kebutuhan ekonmi, kelas sosial dan keyakinan agama khususnya dalam kasus kasus yang sangat menentukan dalam berbagai peristiwa sejarah manusia seperti Reformasi Protestan, perang sipil di inggris dll. Bahkan lebih dari itu mereka juga menghasilkan kajian yang bersifat profokatif mengenai hubungan agama dengan isu isu tentang imperealisme modern, kolonialisme dan perbudakan.
Dalam kaitannya dengan ini, apapun yang terjadi pada rexim politik marxis, pandangan ekonomi materialisme mereka tidak diragukan lagi akan terus membuahkan hasil kajian yang baru pada saat berbagi teori mereka digunakan untuk mengkritisi peran agama dalam kehidupan ekonomi,sosial dan politik.

BACA JUGA :   Darurat Membaca Terhadap Generasi Milenial

Kesimpulan yang dapat ambil dari bacaan tersebut bahwa, sebenarnya Karl Marx bukan menolak keberadaan Agama, tetapi dengan melihat realitas kehidupan bahwa agama justru malah dijadikan sebagai tempat pelarian oleh kaum proletar. Ia sangat tidak terima akan hal itu. Maka dari itu ia menganggap bahwa Agama itu Candu, yang mana menyebabkan manusia tidak menjadi dirinya sendiri. Menurutnya, manusia tidak memperdulikan materi yang sudah tentu hadir dalam kehidupan nyata. Manusia hanya terlena dengan khayalan-khayalan mereka tentang agama dan kehidupan setelahnya.
Teori Karl Marx mengenai agama itu candu, ia juga mengungkapkan bahwa penderitaan manusialah tempat kehadiran Tuhan. Hal inilah yang menjadi keresahan Karl Marx, karena disini manusia tidak dapat merealisasikan dirinya sendiri dalam kehidupan. Manusia terus dikekang oleh agama, tetapi manusia selalu bergantung padanya sehingga menimbulkan kekacauan, kehancuran dan kerusakan tatanan kehidupan.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *