• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Senja yang selalu ku rinduka

Bypramayanti

Agu 25, 2021

Berawal dari tidak pernah sepaham, tidak suka satu sama lain. Walaupun banyak dari teman teman perempuan di angkatanku bahkan senior yang suka ke dia.
Tapi tidak dengan ku, mungkin karna perkenalan awal kami yang sudah tidak enak, sehingga kami tidak pernah sepaham dalam hal apapun.
Bahkan kami sempat berdebat di hadapan senior waktu itu, sebenarnya karna hal simpel tapi itu adalah awal cerita kami yang sesungguhnya.
Perdebatan itu terjadi karna keusilan dia, aku yang lagi badmood sudah memperingatkan untuk jangan usil lagi, tapi bagi dia yang ku katakan hanya bencandaan.
Sampai akhirnya aku memblock semua yang berhubungan dengan dia. Jika di ingat ingat aku rindu kejahilan dia itu.
Sampai beberapa hari aku membuka semua blockiran itu, dan kami sempat di tanya oleh senior karna peristiwa waktu itu.
Padahal ketika itu kami sudah baikan, walaupun kami masih diam diaman ketika itu, kami sama sekali tidak menyangka kalau itu akan di tanya oleh senior.
Kami hanya bisa saling tatap dan tertawa. Dari situ lah kami mulai dekat. Bahkan aku sempat menaruh hati padanya.
Dia tidak tau kalau aku menaruh hati padanya. Karna kita yang sering ketemu, bisa hampir setiap hari kita selalu bertemu.
Sampai akhirnya aku tau dari salah satu teman kami kalau dia pacaran dengan salah satu perempuan di angkatan kami.
Semenjak itu aku mulai menjaga jarak dengan dia, tapi itu tidak berlangsung lama. Aku yang mulai menjauh tapi kami selalu di dekatkan.
Di berbagai kesempatan kami selalu di satukan, tapi karna aku sudah bertekat untuk menjaga jarak dari dia aku selalu melewatkan kesempatan itu dengan sengaja.
Entah emang kami yang di takdirkan untuk bersama waktu itu, semakin aku menjauh malah semakin kami di dekatkan. Ketika itu perasaanku untuk dia sudah biasa saja.
Dan dia juga sudah tidak ada hubungan lagi dengan perempuan itu. Kita di satukan di berbagai kesempatan yang aku sendiri tidak bisa untuk mengelak untuk kesempatan itu.
Aku menjalaninya dengan menganggap dia hanya sebagi teman sama seperti yang lainnya. Tapi justru dari situ kedekatan kami lebih intens lagi.
Yang biasanya kita tidak pernah chatingan dan sekarang kita mulai chatingan, yaa walaupun hanya sebatas membahas acara bukan membahas soal pribadi.
Bahkan hampir setiap hari, walaupun kita baru ketemuan tapi pasti malamnya selalu ada aja yang kita bahas.
Sampai sampai kita memahami satu sama lain. Dimana hanya aku yang bisa memahaminya dan meredakan emosinya dan hanya dia yang mengerti dan selalu ada untuk ku.
Sampai suatu ketika saat kami melakukan acara dia sempat kecewa dengan salah satu teman kami, dia marah dan sangat kesel.
Bagaimana pun teman teman yang lain menenangkan dia pasti ada aja jawaban dari dia. Aku yang sedang berada di dalam ruangan waktu itu sempat mendengar dia yang begitu kesel di luar.
Aku awalnya sama sekali tidak tau apa yang terjadi di luar, karna waktu itu tugas ku menghendel kondisi yang di dalam ruangan.
Mendengar suara dia, aku langsung ke luar dan melihat dia yang masih marah marah.
Langsung ku panggil dia dan ku tanyakan. Dan di jelaskannya padaku apa yang sebenarnya terjadi.
Padahal semua itu sudah selesai, tapi karna dia kesel dia masih marah, disitu aku menenangkan dia. Sampai akhirnya dia mau mendengarkan ku.
Semenjak itu apapun yang terjadi dia selalu curhat padaku, bahkan sampai tengah malam.
Sejak itulah setiap ada kegiatan kami selalu janjian untuk datang atau tidak. Untuk ikut berpartisipasi dalam acara atau tidak.
Bahkan sampai di saat kondisiku lagi tidak dalam keadaan sehat, tapi dia justru membuat suatu keributan. Aku yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Justru malah kondisiku memburuk, di tengah acara yang sedang berlangsung kondisi ku semakin drop. Sehingga aku tidak bisa melanjutkan acara itu.
Padahal 2 hari lagi masih ada acara terakhir kami. Aku tidak tau apakah masih bisa ikut serta dalam acara itu tanpa ada dia dalam acara itu.
Ternyata tanpa aku sadari kita sama sama saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain.
Dia bertahan selama ini karna aku, dan aku yang yakin tetap berpartisipasi dalam kegiatan itu karna dia.
Kegiatan yang lumanyan lama yang menguras tenaga dan emosi.

BACA JUGA :   Close Friend?

Sampai akhirnya aku meminta dia untuk ikut berpartisipasi dalam acara terakhir itu, walaupun rasanya tidak akan mungkin lagi setelah apa yang terjadi ketika itu.
Demi aku, aku meminta dia untuk ikut. Padahal aku tidak yakin dia bakalan menyanggupi keinginan ku saat itu.
Paginya aku datang memang agak terlambat, karna kondisi aku yang masih belum benar benar sehat, di tambah aku harus kuat karna dia tidak akan ikut.
Sesampainya di tempat aku langsung menuju ke ruangan karna untuk acara itu aku yang di percaya untuk menghendel semuanya.
Hal yang membuat aku kaget dan gak bisa berkata apapun saat itu. Aku melihat dia sudah berada di dalam ruangan itu.
Hanya beberapa detik aku berada di ruangan itu langsung ku menuju ke luar, karna kaget sekagetnya. Dan aku sama sekali tidak bicara apapun ke dia.
Yang aku liat raut wajahnya yang sangat berbeda dari biasanya, begitu murung. Sampai semua persiapan kami selesai.
Dan aku mencoba untuk mencairkan suasana dan mengajak dia becanda tapi semua itu sama sekali gak berhasil.
Hari itu dia sangat berbeda, aku berusaha untuk menjaga mood dia karna aku tau ini gak mudah bagi dia, tapi ketika itu karna permintaanku.
Sampai semuanya datang dan satu persatu rangkaian kegiatan sudah ada yang terlaksana.
Sepertinya dia tidak nyaman dengan semua itu, rasanya saat itu aku kehilangan sosok dia yang aku kenal. Bahkan dia hanya lebih dekat dengan ku di bandingkan dengan yang lain.
Sempat dia meminta izin padaku untuk tidak mengikuti acara sampai akhir tapi saat itu aku sangat membutuhkan dia bersamaku.
Awalnya aku sama sekali tidak mengizinkannya, tetapi setelah dia jelaskan dan aku juga tidak mau egois aku mengizinkannya.
Hari itu bisa di katakan apapun yang aku kerjakan pasti dia yang mengerjakannya. Kecuali hal hal yang memang seharusnya aku kerjakan dan tidak boleh di gantikan oleh nya.
Tapi ada hal yang sama sekali tidak aku duga. Ada beberapa hal yang pada akhirnya dia hanya di berikan pilihan untuk mundur atau bertahan.
Padahal situasinya semuanya pada kecewa dengan sikap dia waktu itu, dan dia terpaksa harus mundur karna keadaan dan situasi yang memaksanya.
Ketika dia di berikan pilihan itu aku benar benar takut kalau dia akan memilih mundur dan ternyata memang dia memilih itu.
Perasaanku saat itu campur aduk, tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku melihat ke arah dia di suruh untuk memilih.
Ketika dia mengatakan mundur aku hanya bisa menundukkan wajahku saat itu. Aku berusaha tegar aku tidak mau dia melihatku nangis lagi.
Tetapi hatiku saat itu menangis, dia yang melihat ke arah ku saat itu tetapi aku lebih memilih untuk menunduk dan tidak mau melihat ke arah dia.
Sampai dia pergi meninggalkan kami, saat itu ada yang hilang dalam hidupku. Sampai akhir acara lebih banyak murung yang terlihat di wajahku.
Bahkan aku sempat menangis karna tempat itu banyak sekali cerita dan aku harus menerima kehilangan dia di tempat itu.
Sepulangnya dari acara aku langsung menghubungi dia, aku kecewa dengan keputusannya itu dan aku juga minta maaf coba aja kalau aku tidak memintanya untuk ikut pasti semua ini gak akan terjadi.
Tapi dia menenangkan ku, mungkin memang ini yang terbaik, dan dia ingin melihatku tetap semangat dan selalu berpartisipasi dalam setiap acara.
Aku tidak mau, dan bahkan aku juga ingin mundur seperti dia, tapi dia selalu melarang ku, justru dia yang selalu menyemangatiku.
Dia ingin aku tatap bertahan demi dia, menggantikan dia. Tapi aku tidak kuat karna separuh hidupku terasa hilang sehingga tidak ada alasan untuk ku tetap bertahan.
Tapi demi dia, demi dia aku masih bertahan. Dan setelah beberapa lama dia mundur dia menguatarakan isi hatinya.
Ternyata selama kita bersama sama dia menaruh hati padaku, dan pada akhirnya kita jadian. Walaupun hanya beberapa orang saja dari teman teman kami yang mengetahui hubungan itu.
Tapi hubungan itu tidak bertahan lama. Hanya beberapa bulan saja. Karna kesibukanku yang membuatku sangat sulit membagi waktu.
Menjadi awal permasalahan dalam hubungan kami. Selama 3 bulan terakhir kesibukan ku begitu padat, bahkan jam tidurpun juga kurang, serasa 24 jam dalam sehari itu sangat kurang.
Karna itu membuat hubungan kami pada akhirnya berakhir dengan tanpa kepastian. Sehingga semenjak itu kami menjadi orang asing.
Orang asing yang pernah punya cerita, orang asing yang pernah membuat hari hariku bahagia. Seperti senja yang hadir hanya sebentar tetapi selalu membuat nyaman.
Senja yang selalu di nantikan, yang tau dia akan pergi tapi selalu kembali. Senja yang kurindukan.
Terima kasih karna telah pernah menjadi senja bagi hidupku.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *