• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Selalu Terpendam Dalam Angan Semu Part 2

Bymutiaradee

Agu 25, 2021

“Kok lu teriak sih?? Kayak abis lihat setan aja.”
“Abis lu ngagetin sih!!”
“Ya maaf gue tadikan niatnya mau nemenin lu..hehehe.” sambil tersenyum.
“Dih sok perhatian banget.”
Senyum manis itu, oh Tuhan kenapa perasaan ini harus ada. Bila aku boleh memilih aku tak ingin merasakan jatuh cinta jika hanya membuatku terluka.
“Ini gelang buat lu dan satu lagi buat gue.”
“Buat apa nih? Couple? Dih kayak anak panti aja?”
“Biar kita tambah kompak aja, sekalian buat mengikat persahabatan kita.”
“Kayaknya lu terlalu berlebihan deh.” Katau samba mengernyitkan dahi.
Radika memakaikan gelang itu ke tanganku.
“Sekarang ganti lu!” aku pun memakaikan gelang ke tangan Radika.
“Kayak tunagan aja!”
“Sekarang kita harus janji. Enggak bakal ada yang jatuh cinta diantara kita. Hubungan kita sebatas persahabatan. Gimana?”
“ Ya gue setuju. Mungkin itu yang terbaik untuk kita.”
Pagi kali ini aku sampai di sekolah lebih awal. Entahlah apa yang mendorongku berangkat lebih awal aku hanya ingin melihat senyumnya meskipun hanya sepintas.
“Rania tumben berangkat pagi??” tanya Radika yang memutuskan lamunanku
“Emang cuma lu yang bisa berangkat pagi? Gue juga bisa.”
“Oh ya Ran, lu masih ingat Raisa enggak??”
“Raisa teman kita SD dulu??”
“Iya dia sekarang cantik banget, lebih cantik dari lu lagi. Padahal lu tahu sendiri
Kan, dia dulu culunnya minta ampun.”
Apaa???? Radika bilang Raisa lebih cantik dari aku. Rasanya sangat sakit bagai terhempas angina dan tertelan bumi. Apa dia tidak berpikir bagaimana perasaanku?? Lagipula aku kan cuma sahabatnya. Mungkin ini tuuan janji kita kemarin. Oke enggak masalah Rania. Keep strong!!
“Kecantikan itu enggak bisa dilihat dari wajahnya saja. Kalau dia cantik tapi punya karakter yang buruk percuma saja” jawabku dengan nada yang sinis.
“Yang penting kan cantik. Masalah karakter bisa dirubah.”
“Yee yang namanya karakter seseorang itu enggak mudah dirubah kayak membalikkan telapak tangan.”
“Mulai deh ceramahnya.”
“Gue enggak ceramah Radika. Gue serius.”
“Kok lu jadi nyolot gitu sih??”
“Lagi dapet. Puas lu??”
Aku langsung pergi meninggalkan Radika. Kenapa sih dia enggak bisa mengerti perasaanku dan kenapa harus Raisa. Sejak saat itu Radika sering sekali menceritakan Raisa di depanku. Sungguh menyebalkan. Saat istirahat Radika mengajakku ke kantin.
“Rania kita ke kantin yuk!!”
“Enggak ah lagi enggak punya duit nihh!!”
“Gue traktir deh!! Mumpung gue lagi seneng”
“Ya sudah deh, yuk!! Perut gue udah berkokok nih minta makan”
“Emang ayam??”
Kami pun tertawa. Sesampai di kantin sambil makan bakso Radika curhat padaku.
“Rania, gue lagi senang banget nih! Sudah kayak melayang-layang di udara gitu.”
“Sejak kapan lu jadi puitis kayak gitu??”
Hahahahah…. kami tertawa bersama. Mungkin masa ini takkan terjadi lagi jika aku berkata jujur padanya. Mungkin ini memang yang terbaik. Aku harus memendam rasa ini agar persahabatan kami tetap utuh. Lagipula aku juga belum bisa memutuskan apa aku benar – benar jatuh cinta padanya atau hanya kagum saja. Radika meminta pendapatku tentang hubugannya dengan Raisa yang baru jadian.
“Terserah deh kalau lu seneng, gue ikut seneng kok!!”
Tanggapanku padanya meski sakit hati ini tak bisa ku tahan lagi. Tapi mau apalagi?? Toh kami tidak akan bisa bersatu karena janji dan komitmen yang telah kami putuskan bersama. Aku tak mungkin melarangnya mencintai Raisa. Lebih baik memang jika melihat orang yang kita sayangi bahagia meski tak bersama kita.
Sesampai di rumah, tiba-tiba Radika datang ke rumahku katanya sih mau kerja kelompok. Tapi kerja kelompok apaan orang yang diomongin dari tadi aja Raisa. Bikin aku tambah gila.
“Kalo lu kesini niatnya mau ngomongin Raisa, lu salah tempat mending lu pulang gih!!”
“Kok lu sinis banget sih??”
“Terserah gue dong!! Mulut-mulut gue masalah buat lu??”
Aku langsung pergi masuk kamar dan meninggalkan Radika begitu saja. Ku rebahkan diriku ke kasur. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Beberapa hari ini Radika tak pernah menghubungiku. Bahkan saat di sekolah pun dia lebih asyik main hp tanpa mempedulikan aku yang berada di sampingnya. Memang benar apa kata orang, cinta itu menyebalkan hanya derita yang ku rasakan. Nikmat sesaat yang semu. Cinta perusak ikatan persahabatan. Tapi mau apalagi semua sudah terjadi tak mungkin ku putar waktu kembali. Kini aku selalu terpendam dalam angan semu. Tetapi aku ingat kata ayah aku harus jadi wanita yang kuat. Ini hanya masalah kecil. Mungkin masih ada masalah yang bertubi-tubi telah menungguku di depan sana. Aku hanya bisa berharap jika kami memang berjodoh, kami pasti bertemu kembali. Mungkin ini suratan takdir yang Maha Kuasa untuk membuatku menjadi lebih kuat.
Pagi-pagi sekali ku temukan surat di jendela kamarku. Kubuka dan ku baca surat itu.

BACA JUGA :   Puisi: Apa Kabar Indonesiaku?

Jakarta, 10 Juli 2012
Dear Rania,
Rania gue mau minta maaf. Sebenarnya gue juga cinta dan sayang sama lu. Tapi gue enggak mau mengingkari perjanjian kita dulu bahwa enggak ada jalinan cinta di antara kita. Dulu gue sempat menjauh dari lu dan mendekat sama Raisa karena gue pengen rasa cinta ini hilang. Tapi usaha gue justru sia-sia. Bahkan persahabatan kita mulai retak. Sekali lagi gue mau minta maaf. Kali ini gue pindah ke Bandung karena rumah gue yang di sini udah disita. Orang tua gue gulung tikar. Gue pengen meski jarak memisahkan kita, kita harus tetap berkomunikasi lewat sosil media. Masalah perasaan kita lebih baik kita pendam terlebih dahulu kita harus fokus ke pelajaran agar nilai kita memuaskan dan orang tua kita bangga pada kita. Seperti angan-angan semu yang sering kita rakit di taman samping rumah. Biar perasaan ini mengalir apa adanya. Jika kita memang berjodoh kita pasti bertemu kembali
Sahabat sekaligus angan semumu
Radika

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *