• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Selalu Terpendam Dalam Angan Semu Part 1

Hari-hariku kini memang dipenuhi kebahagiaan. Apalagi jika orang yang ku sayangi selalu mengisi kekosonganhatiku serasa bumi hanyalah milikku seorang.
Pelajaran yang membosankan!! Sekarang aku harus memeras otak untuk pelajaran IPS yang sangat membosankan. Apalagi ketika Pak Rudi, guru IPS ku menerangkan aku justru terlelap tidur bersama mimpi dan anganku. Itu memang sudah menjadi kebiasaan burukku dimana pun dan kapan pun jika aku mengantuk, aku tak dapat menahannya. Bahkan tadi aku dipermalukan di depan teman-teman sekelas hanya karena aku tertidur di jam pelajaran IPS saat Pak Rudi sedang menerangkan. Kata Radika teman sebangkuku saat Pak Rudi menerangkan aku justru mengigau memanggil-manggil Odhot nama monyet kesayanganku. Ketika aku bangun semua teman-teman menertawakanku. Bahkan disaat itupun aku tak tahu apa kesalahanku hingga teman-temanku menertawakanku. Huuuhh, hal yang menyebalkan. Adalah salah satu temanku meledekku.
“Siapa Odhot?? pacar lu??” sambil tertawa
“ Apaan sih,lu!! Untung aja nggak ada Pak Rudi kalau ada…”
Tiba-tiba ada yang memutus kata-kataku.
“Kalau ada kenapa??”
Huuuhh, sial ternyata Pak Rudi ada tepat di belakangku. Pantas saja si Regan matanya selalu melirik ke belakang ternyata itu kode untukku, aku kira matanya yang kemasukan debu.
“Dasar tukang tidur. Sepertinya kamu pantas mendapatkan hukuman”
“Aduhh..jangan Pak, saya janji enggak akan tidur lagi”
“Janji kamu itu janji palsu.”
Haahh, kok tiba-tiba Pak Rudi jadi puitis gini.
“ Sekarang biar kamu jera dan enggak akan mengulangi ini lagi kamu saya hukum menulis kalimat saya tidak akan tidur di jam pelajaran sebanyak lima ratus kali!!”
“Yah Pak, apa nggak bisa dikurangi??”
“Ohh kamu mau dikurangin??”
“Iya Pak”
“Ya sudah kamu tulis menjadi seribu kali!! Mau ditawar lagi??”
“Hahhh..nggak Pak, sudah cukup”
“Memang kamu pikir saya penjual bawang di pasar??”
“Cocok sih, Pak” gumamku
“Apa katamu?”
“Enggak Pak, bercanda.”
Tet….tet….tet….
Akhirnya selesai juga pelajaran yang membosankan. Istirahat kali ini aku membawa buku ke kantin. Bukan untuk belajar, tapi untuk mengerjakan hukuman dari Pak Rudi tadi. Memang menyebalkan, belum ada satu jam kesalahan yang ku perbuat sekarang semua itu menjadi topic utama pembicaraan sebagian besar murid di sekolah ini. Bahkan banyak anak kelas lain yang tak mengenalku memanggilku dengan sebutan tukang tidur. Aku sungguh malu mau ku taruh mana mukaku ini. Apalagi Radika ikut menertawakanku. Tapi mau bagaimana lagi cacing-cacing di perutku sudah kelaparan memberontak ingin makan. Terpaksa ku hilangkan rasa maluku agar aku bisa memuaskan perutku ini.
“Kok lu ketawa sihh..” tanyaku.
“Abis kebiasaan jelek kok dipelihara” kata Regan
“Kalau boleh milih sih gue enggak pengen kayak gitu. Lagian yang namanya manusia kan pasti punya kekurangan dan kelebihan. Lu pasti malu kan semeja sama gue?? Ya sudah gue pergi.” Kataku dengan nada tinggi.
“Kok lu jadi nyolot gitu sihh, gue kan cuma bercanda. Ayo dong duduk masak lu tega ninggalin gue sendiri.” sambil menahanku.
“Lah, siapa lu siapa gue??”
“Lu mah sama teman sendiri kayak gitu!”
“Iya deh, maaf. Untung aja gue laper kalo enggak udah dari tadi gue pergi.”
“Jadi gue harus berterima kasih dong sama cacing-cacing di perut lu?.”
Kami pun tertawa bersama.
Kali ini memang hari sialku. Ban sepeda yang kutumpangi bocor. Apalagi tidak ada tambal ban disitu. Huuhh mana cuacanya panas banget. Air…air… itulah teriakanku dalam hati. Masih kurang 2 kilo meter lagi perjuanganku sampai ke rumah. Saat aku berjalan tia-tiba ada beberapa preman menghampiriku. Bukan preman sih, lebih tepatnya para pemuda yang urakan. Mereka sedikit lebih tua dariku tapi perilakunya sangat memprihatinkan. Mereka menggunakan pakaian serba hitam dengan celana robk-robek dan tindi disebagian wajah mereka. Bagaimana bangsa ini bisa maju jika generasi muda saja berprilaku seperti ini. Melupakan norma-norma yang sudah berlaku. Bahkan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan uang. Enah bagaimana perasaan orang tua mereka jika melihat perilaku anaknya saat ini. Yang membuatku semakin terkejut adalah mereka memintaku untuk menyerahkan uangku dan semua barang berhargaku. Yang parahnya lagi mereka berusaha merayuku. Spontan saja aku segera berteriak minta tolong. Tapi apa boleh buat, tidak ada yang mendengarkanku jalanan saat ini sedang sepi. Daripada mereka macam-macam padaku akan lebih baik jika aku menyerakan uangku saja. Andai saja hanya satu atau dua orang yang menghadangku mungkin aku akan berusaha untuk melawan mereka.tidak ada catatan dalam sejarah bahwa Rania akan menyerah sebelum berjuang. Tapi saat ini kondisinya berbeda. Mereka terdiri dari 5 orang sedangkan aku hanya sendirian. Alhasil ku putuskan untuk memberikan semua uang yang tersisa di dompetku dan bergegas pergi sebelum mereka berubar pikiran yang bertindak melewati batas. Ya memang enggak ada barang berharga tapi uang sakuku untuk sebulan sudah ludes diambil mereka. Hanya tersisa seratus ribu disakuku. Kalau untuk sebulan mana cukup. Belum lagi hujan datang begitu deras. Ku rasa ini akan mengakhiri segala penderitaanku har ini. Ya, semoga saja. Perjalanan sudah hampir sampai tapi hujan justru terus menghantamku. Saat aku berjalan tiba-tiba hujan reda. Tetapi hanya di tempatku berdiri, kulihat keadaan disekitar tetap hujan.
“Mungkin ini yang dinamakan anugerah Tuhan” imajinasiku mulai beraksi.
“Kok anugerah Tuhan sih”
Tiba-tiba ada yang melontarkan kata-kata di belakangku.
“Ternyata lu Radika. Kok lu bisa ada di sini sih?”
“Gue tadi ke rumah lu. Eh nggak tahunya kata orang tua lu, lu belum pulang makanya
gue nyariin lu. Gue khawatir sama lu!”
“Kok lu senyum-senyum sendiri sih? Lu seneng ya bisa bareng gue.”
“Apaan sih ! pede gila lu.”
“Ye bercanda kali.”
Kami pun pulang berdua dengan jaket kulit Radika yang melindungi kami dari air hujan. Kali ini hujan memang membawa keberuntunganku. Hujan juga mendekatkanku dengannya. Dan hujan juga yang menutup penderitaanku menjadi kenangan manis. Ditemani candaan lucu yang sering kali kami lontarkan. Senyum manis selalu menghiasi bibir indahnya. Oh Tuhan, apa yang terjadi?? Mengapa jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Apa ini yang namanya cinta?? Entahlah yang ku inginkan sekarang menikmati masa-masa indah ini bersamanya.
*****
Itu tadi pengalaman yang menyebalkan tapi paling membekas di hati. Dari pada aku kebingungan belajar IPS mending aku keluar cari angin. Semoga saja ayah dan ibu tidak memarahiku.
“Rania kamu mau kemana??” tanya ibuku.
“Mau keluar Bu, cari angin sambil belajar”
“Angin kok dicari entar pasti datang sendiri.” Kata ayah.
“Yaa Ayah, kan bosen belajar di kamar terus. Biar ada suasana baru gitu pastinya yang hening.”
“Ya kalo mau yang hening di kuburan aja!!”
“Ayah aja, kalau aku mah ngeri”
Ayahku memang seperti itu suka bercanda. Tapi ayahku bisa menempatkan dirinya kapan waktunya harus bercanda dan kapan harus serius. Ayahku juga orang yang bijaksana. Ayah juga selalu mengajarkan aku bahwa bukan berarti jika seorang waniata itu lemah. Bahkan tanpa wanita pun seorang laki-laki tak bisa hidup. Ayah selalu berkata bahwa aku harus menjadi wanita yang kuat. Bukan hanya membela diri tapi aku juga harus kuat menghadapi masalah yang bertubi-tubi. Apalagi kini aku sudah beranjak remaja. Pasti banyak masalah yang datang.
Sesampai di taman samping rumah, ku rebahkan tubuhku di atas rumput-rumput bergoyang yang lembut.
Sekarang aku tersadar
Cinta yag ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi….
Itu tadi satu bait lagu Raisa yang berjudul Apalah Arti Aku Menunggu yang ku dengarkan sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit. Kebetulan sekali hari ini aku bisa merasakan heningnya Jakarta dan taburan bintang yang terlihat sangat jelas. Jika aku menjadi bintang yang bertaburan di langit mungkin aku bisa memilih jalan hidupku. Jatuh dimanapun aku mau. Bahkan aku bisa menerangi semua orang ketika mereka dalam kegelapan. Aku juga bisa menjadi inspirasi banyak orang. Andaikan saja. Saat ku pandangi bintang-bintang, aku jadi teringat tadi saat Radika memayungiku romantisnya. Tapi kenapa jadi jantungku yang berdetak cepat. Apa itu jatuh cinta?? Tapi enggak mungkin aku sudah bersahabat lama dengannya. Menjalani hari-hari bersamanya. Mengisi waktu luang dengan bercanda dengannya. Aku jadi teringat banyak orang berkata bahwa cinta itu datang tiba-tiba tak mengenal waktu dan ruang. Apa itu benar?? Atau hanya mitos belaka?? Jika aku benar – benar jatuh cinta bagaimana dengan persahabatanku dengannya?? Bukankah lebih indah bersahabat daripada berpacaran. Yang ku dengar banyak sekali persahabatan hancur karena cinta. Huuhhh, mungkin aku memang harus memendam perasaanku daripada aku harus mengorbankan persahabatanku yang telah lama terjalin. Tapi apa benar aku sedang jatuh cinta? Astaga Rania mikir apa sih? Lupakan lupakan… Saat aku menoleh ke kanan aku sangat terkejut ternyata ada Radika yang sedang duduk selonjor sambil mendongakkan kepalanya ke atas.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cinta, Cita dan Rasa Anas (Bagian 3 Selesai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *