• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Sekedar Kenangan Masa Lalu

Matahari bersinar keemasan, para petani pulang dari sawah melewati jalan setapak dan silih berganti. Damainya sore kali ini lengkap dengan adanya suara qiro’ dari masjid yang tak jauh dari rumahku. Ku lihat rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin. Mungkin jika mereka dapat berbicara pasti mereka senang karena setiap hari mereka selalu bersama dan selalu bertasbih menyebut nama Allah. Mungkin jika salah satu dari mereka dicabut pasti semua akan menangis dan merasa kehilangan tetapi jika mereka dicabut bersama-sama mereka pasti merasa senang karena walaupun mereka takkan tumbuh kembali tetapi mereka akan selalu bersama dengan orang yang dicintai. Dan ku harap hidupku juga seperti itu merajut mimpi bersama orang yang ku cintai.
Tak terasa tiga tahun sudah kita menjalin ikatan persahabatan. Saling mengingatkan jika salah satu dari kita salah, saling berbagi jika salah satu dari kita membutuhkan, dan saling mengerti jika salah satu dari kita memiliki masalah. Tetapi tak bisa dipungkiri jika kita sering bertengkar. Namun itu semua hanya sementara. Kita lebih mementingkan persahabatan dari pada konflik yang tak kunjung padam.
Masihku ingat saat-saat kita bersama bercanda, bertengkar bahkan merajut mimpi dan mengejar angan. Mungkin dengan berjalannya waktu hal itu akan pudar. Tiada lagi suara jeritan pertikaian, tiada lagi suara keras candaan dan tiada lagi bayangmu yang selalu di sampingku. Sahabat, teman sekaligus saudara kadang bertengkar seperti adik dan kakak, kadang melindungi seperti layaknya ayah dan kadang juga bijaksana seperti layaknya ibu. Takkan ku lupakan semua itu. Hal yang terindah dalam hidupku. Ku harap kau masih seperti yang dulu jika kita bertemu suatu saat nanti.
Mungkin jika waktunya sudah tiba, pasti deraian air mata akan hadir menghiasi perpisahan kita. Canda tawa yang mulanya merekah berubah dengan suara tangisan. Tapi sayangnya hal itu belum terjadi. Ujian Nasional sudah menunggu di depan mata tanda hal itu akan segera terjadi. Semua pasti ingin perpisahan takkan terjadi tapi apakah kita harus berdiam diri di tempat?? Itu tak mungkin. Kita harus memulai semangat dan hidup yang baru meskipun sahabat yang sudah tiga tahun terakhir ini tak lagi bersama. Ingatlah suatu saat nanti jika kita sudah sukses pasti kita akan bertemu dan bernostalgia tentang semua yang telah kita alami bersama.
Kalau masalah kenakalan jadi ingat waktu kelas VIII dulu. Apalagi saat pelajaran Bahasa Ingris. Huuhhh membosankan dan membuat ngantuk. Untuk mengobati rasa ngantuk saat jam Bahasa Inggris aku dan sahabat-sahabatku sering ngobrol, bersenda gurau bahkan ada yang tidur. Gurunya pun tak pernah melarang mungkin memang terlalu sabar atau sudah jengkel dengan perbuatan muridnya. Ya, begitulah keadaan kelasku, kelas VIII-D kelas yang selalu dieluh-eluhkan para guru karena kenakalan dan keramaiannya saat jam pelajaran. Menurut aku dan sahabat-sahabatku sih masa remaja itu cuma satu kali jadi harus ada yang menarik dan selalu diingat-ingat sampai nanti. Dan kenakalan adalah salah satunya. Ya, tapi nakalnya masih dalam taraf yang wajar seperti remaja-remaja lainnya. Awalnya sih cuma satu kali tapi karena ketagihan dan keasyikkan jadi sering deh. Ya, diambil hikmahnya ajalah nanti kalau aku dan sahabat-sahabatku sudah keluar dari sekolah mungkin kami akan dikenang dan selalu diingat oleh semua para guru walaupun sebagai kelas paling ramai.
Dan yang masih aku ingat sampai sekarang adalah kekonyolan yang aku dan sahabat-sahabatku perbuat waktu jam istirahat. Waktu itu ada salah satu dari kami yang membawa kue ulang tahun. Tapi bukan dia yang ulang tahun katanya sih kakaknya karena kuenya sisa banyak akhirnya dibawa ke sekolah. Dan serunya kue yang dibawa itu awalnya sih dimakan tapi karena ada yangg jail, krim yang ada di kue diolesin dimuka temannya dan akhirnya kami perang oles krim kue di wajah teman. Hal itu membuat kelas jadi ramai dan gaduh bahkan mukaku ini penuh dengan olesan kue dari teman-teman. Ya, walaupun di muka rasanya lengket tapi seru banget dan nggak bisa dilupakan apalagi waktu itu nggak ada yang ulang tahun.
Kenakalan kami nggak berhenti sampai disitu, saat jam pelajaran Budi Pekerti aku dan teman-temanku asyik ngobrol sambil bercanda bahkan ada yang curcol (curhat colongan) saat guru menerangkan. Sebagian dari kami memang nggak suka sama guru itu karena suaranya pelan terus kalau lagi menerangkan suka cerita terus ketawa-ketawa sendiri kan kami jadi bingung ya, dari pada mikirin itu yang nggak jelas mending ngobrol sendiri-sendiri. Tapi meskipun kami disebut sebagai kelas paling ramai kami juga lihat-lihat gurunya kalau gurunya menerangkannya jelas terus nggak bikin bosen kami juga nggak ramai. Jadi nggak selamanya kami ramai di kelas tergantung guru yang ngajar aja. Bahkan yang lebih parah lagi ada teman-temanku laki-laki yang makan lollypop saat pelajaran Budi Pekerti. Nggak cuma itu ada juga yang makan snack banyak deh kekonyolan yang lainnya.
Apalagi saat stady tour wahh itu pengalaman yang nggak bisa dilupakan. Itu pertama kali aku dan teman-teman pergi ke Pulau Dewata Bali. Sekitar pukul 13.00 WIB semua sudah berkumpul di kelasnya masing-masing dan berangkat sekitar pukul 14.00 WIB pengalaman yang nggak bisa dilupakan waktu malam pertama di Bali. Saat aku dan teman-teman se kamarku akan menunaikan salat maghrib berjamaah. Mereka menunjukku sebagai imam. Ya, apa boleh buat apa salahnya jadi imam. Saat aku mulai takbiratul ikhram semua temanku tertawa gara-gara masih terbayang wajah salah satu temanku yang gugup saat iqomah dan lucunya karena gugupnya dia sampai lupa lafal yang harus diucapkan saat iqomah. Ya, yang namanya manusia pasti nggak luput dari salah dan dosa awalnya sih bisa menahan agar nggak ketawa tapi lama kelamaan ketawa juga. Akhirnya kami puaskan untuk ketawa baru beberapa saat kemudian kami salat maghrib berjamaah dengan khusyuk. Bahkan suara bising di depan kamar kami tak membuat kami tergoda untuk melihatnya. Malamnya sekitar pukul 11.00 semua kamar hotel sudah ditutup bahkan tiada lagi suara bising yang sedari tadi terdengar di telingaku. Aku dan teman-teman melepas capek dengan nonton tv bersama. Itupun hanya untuk pajangan saja kami lebih asyik ngobrol dan curcol (curhat colongan). Dan tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki yang mendekati kamarku. Aku dan teman-teman pun membagi tugas siapa yang akan mematikan lampu, televisi, menutup korden jendela dan lain-lain. Karena seharusnya semua harus tidur agar besok tidak telat. Saat suara hentakan kaki itu berhenti di depan pintu kamarku. Semua temanku menjalankan tugasnya dengan baik dan segera pura-pura tidur. Setelah hentakan kaki itu mulai menjauh kami nyalakan lagi televisinya ya, walaupun tidak ditonton.
Keesokan harinya, aku bangun pukul 02.00 WITA. Semua teman-temanku masih tidur. Tak tahan rasanya ingin tertawa melihat tingkah mereka saat tidur. Ada yang pelukan, yang mau jatuh dari tempat tidur, ada juga yang mepet jendela. Entah kenapa saat itu aku nggak bisa tidur mungkin karena kasur yang terlalu empuk. Ya, maklumlah yang namanya anak kampung. Sekitar pukul 03.00 WITA aku membangunkan teman-teman sekamarku karena aku tak tahan lagi sendirian rasanya sepi. Akhirnya setelah mereka bangun, kami bergantian untuk mandi. Setelah mandi aku dan salah satu temanku makan snack sambil nonton televisi. Seru banget apalagi filmnya horor dan masih sepi sungguh suasana yang mencekam. Selang beberapa waktu saat sedang seru-serunya nonton televisi kami dikagetkan suara teriakan seseorang. Setelah kami membuka pintu dengan hati yang tak menentu dan ternyata itu suara teriakan dua teman sekamar kami yang jail dengan mengetuk pintu dan berteriak untuk membangunkan teman-teman yang ada disebelah kamar kami.
Pengalaman itu takkan ku lupakan sampai kapan pun. Hal yang konyol, memalukan sekaligus menyenangkan dan sangat berkesan dalam hidupku. Ku harap teman-teman yang lain juga berpikir sama sepertiku untuk tidak melupakan ini. Mungkin masa itu takkan terulang apalagi setelah kita lulus itu sekedar kenangan masa lalu. Suatu saat nanti aku yakin kita pasti akan bertemu disaat kita sudah dewasa, telah banyak merasakan pahit manisnya hidup, kerasnya perjuangan, dan pastinya sudah memiliki keluarga sendiri.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Sastra: Aku Terkaget

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *