• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Keteguhanku Menuju Masa Depan

Cinta, cinta dan cinta. Kata-kata itu selalu ku dengar setiap waktu. Sampai-sampai aku lelah menghadapinya. Bahkan telingaku sudah bosan mendengarnya. Bayangkan saja, hampir disetiap tempat semua orang selalu berkata cinta. Padahal jika ditanya apa itu hakikat cinta mereka tak banyak yang tahu. Mereka bilang yang pasti suka sama suka itu saja. Apakah sesingkat itu hakikat cinta. Ntahlah, mungkin hanya orang-orang yang berpengalaman yang dapat mengerti apa hakikat cinta yang sebenarnya.
Matahari mulai menampakkan wujudnya. Sang mentari tak bosan-bosannya menyinari bumi dengan cahayanya. Pagiku kali ini tak ada yang spesial, sama seperti pagi-pagi biasanya. Baru saja aku melangkahkan kakiku menuju kelas, telahku dengar lagi kata-kata yang puitis itu yaitu Cinta. Teman-temanku ini memang tak henti-hentinya mengatakan cinta pada pacarnya, padahal aku saja sudah bosan mendengarnya. Aku juga sering mendengar cerita dari teman-temanku entah teman sekolah, les atau mengaji. Mereka sering berceri hal-hal yang indah tentang menjalin hubungan dengan lawan jenis atau biasa disebut pacaran. Bahkan mereka sering membohongi orang tuanya hanya demi sang pacar tercinta. Huuuhh, tega-teganya padalahkan mereka tahu sendiri orang tua itu yang membiayai hidup mereka mungkin jika tak ada orang tua mereka tak dapat bertahan hidup.
Pernah suata hari saat teman lesku berkunjung ke rumahku. Tumben sekali dia mau berkunjung ke rumahku. Ternyata masih ingat juga dia dengan temannya satu ini. Pasti dia sedang senang atau sedang galau. Aku sudah hafal dengannya.
“hai..” sapanya padaku
“tumben ke sini ada apa??” tanyaku
“eh, tahu nggak?? Aku lagi senang nih si dia (pacar) suka banget sama baju yang aku beliin kemarin.”
Tu kan, tebakanku benar pasti dia ingin curhat padaku. Huuhh, terpaksa harus dengerin cerita yang membosankan. Kalau boleh milih sih, mendingan baca cerpen atau apalah dari pada harus dengerin dia cerita masalah pacarnya.
“emang pake uang siapa kamu beliin si dia baju??” tanyaku
“minta ortu dong!!”
“emang nggak dimarahin??”
“ya enggak lah, orang izinnya buat beli buku kok!! Hehe” jawab dia sambil ketawa.
“lalu kalau nanti ortumu tahu masalah ini gimana??”
“itu sih, dipikir nanti yang penting si dia senang”
Aku masih tak menyangka, tanpa rasa dosa dia menceritakan itu padaku. Apa itu yang namanya cinta, menomorsatukan pacar dari pada orang tua dan mengajarkan kita tentang kebohongan. Kalau seperti ini, bisa-bisa hakikat cinta yang suci ternodai dengan kebohongan. Temanku ini tak bosan-bosannya menceritakan semua pengalamannya dengan pacarnya mulai dia pertama bertemu, jadi teman, PDKT (pendekatan), jadian, sampai semua hal tentang sang pacar tercinta diceritakannya padaku. Padahal aku sudah berulang kali menguap untuk memberi tanda bahwa aku sudah bosan dan mengantuk tentang pembahasan itu. Tetapi tetap saja dia tak berhenti bercerita. Hingga akhirnya hujan datang mengguyur, dia pun berhenti bercerita dan segera pulang. Untung saja hujan turun. Memang hujan penyelamatku dari si cerewet yang dari tadi menceritakan sang pacar.
Hujan tak henti-hentinya mengguyur bumi. Bahkan sampai malam pun tetap terus berlanjut hingga bintang-bintang tak dapat bertaburan di langit. Mungkin lagi kena flu abs hujan-hujan kemarin,hehehe… Ku tatap jendela kaca kamarku. Ku lihat titik-titik air hujan yang terus mendera. Jika aku mengingat temanku tadi da selalu menceritakan hal-hal yang indah tentang pacaran. Entah itu memang benar-benar indah atau dia hanya pamer padaku karena dia tahu kalau aku belum pernah pacaran. Memang sesekali aku sempat berpikir kalau pacaran itu menyenangkan. Tapi aku juga terbayang bahwa pacaran itu hanya penghalang. Buktinya saja banyak sekali teman-temanku yang pacar sudah berubah. mereka sering bepergian, berbohong, oros dan yang paling penting nilai mereka menurun. Hhuuuhh, itu yang membuatku tak mau untuk pacaran dan betah menjomblo. Menurutku jomblo itu menyenangkan kemana-mana nggak ada yang melarang, bisa hemat, kemungkinan untuk berbohong pada orang tua juga sangat sedikit. Ya, kalau kepepet sih terpaksa bohong. Ang namanya manusiakan tidak luput dari salah dan dosa. Dan yang paling penting bisa memperbaiki nilai, karena kita bisa fokus ke pelajaran dan membuat bangga kedua orang tua. Dan yang pasti terbebas dari rasa galau yang sering sekali teman-temanku rasakan. Mungkin untuk saat ini aku nggak ingin berpacaran aku hanya ingin membuat orang tuaku bangga dengan apa yang sedang aku tekuni sekarang. Apa salahnya menomor satukan orang yang telah merawatku sedari kecil. Aku juga ingin fokus dengan masa depanku, toh ada pepatah tulang rusuk tak mungkin tertukar. Jadi nggak perlu takut nggak dapat jodoh. Masalah ejekan teman-teman nggak usah dimasukin hati, positif tingking aja. Masalah jodoh ditunda dulu, toh Jodoh Pasti Bertemu kaya lagunya Afgan, hehehehe…

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Secarik Cerita di Masa PKL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *