• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Kenapa Selalu Salah

Kenapa menjadi seperti ini?? Kenapa dia selalu menang?? Dan kenapa aku selalu dibeda-bedakan?? Bukankah semua orang yang hidup itu sama saja. Kita sama-sama makan nasi. Tetapi kenapa itu tetap saja terjadi. Aku yakin hal ini bukan terjadi padaku saja. Pasti banyak remaja seumuranku yang merasa terganggu dengan orang tuanya yang selalu membeda-bedakannya dengan orang lain. Pantas saja banyak sekali remaja yang tak betah di rumah mungkin itu salah satu penyebabnya. Banyak sekali remaja yang tidak mau dibeda-bedakan tak terkecuali aku. Aku selalu ingin menjadi diri ku sendiri apakah itu salah?? Aku selalu ingin orang tua menerima aku apa adanya apakah itu juga salah?? Apakah orang hidup tidak boleh memilih jalannya sendiri?? Apakah seumur hidup kita harus bergantung pada orang lain?? Orang tua juga selalu membatasi hobi yang dimiliki anaknya. Mereka tidak pernah mendukung apa yang dilakukan anaknya. Yang ada dalam pikirannya hanya prestasi saja. Padalah itu akan memecah tujuan anak untuk sekolah. Tujuan pertama anak sekolah adalah menuntut ilmu bukan mencari nilai yang bagus. Aku juga ingin mengerti bukanprestasi menurutku prestasi yang ku dapatkan hanya bonus dari kerja kerasku. Jika aku mengerti, pasti aku bisa mengamalkannya. Tetapi jika hanya prestasi saja yang di andalkan, pasti itu hanya mengundang kesombongan semata.
Aku sempat memutuskan untuk mengikuti bimbingan menulis cerpen karena itu adalah hobiku. Awalnya memang berjalan dengan lancar, tetapi lama kelamaan karena kesibukanku membuat nilaiku mulai menurun. Dan alhasil pada semester 1 peringkatku menurun. Orang tuaku terutama ibuku menyuruhku berhenti mengikuti bimbingan menulis cerpen lagi. Air mataku tak bisa ku bendung lagi. Perlahan butiran itu menetes. Aku berlari menuju kamar dan ku kunci pintu kamarku. Aku masih tak habis pikir, kenapa hobiku justru membuat nilaiku memburuk. Bahkan orang tuaku menyuruhku meninggalkan hobiku. Padahal mereka pasti tahu sulit sekali meninggalkan apa yang kita telah kita tekuni. Apalagi menulis sudah ku anggap menjadi bagian dari hidupku. Ya, mau bagaimana lagi itu adalah perintah orang tua dan aku tidak mungkin menolaknya. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan hobiku itu walau berat rasanya. Tetapi aku harus mencoba tidak ada yang tidak mungkin. Yang membuatku muak adalah ketika orang tuaku selalu membanding-bandingkanku dengan temanku. Mereka selalu berkata jadilah seperti temanmu setiap semester nilainya semakin bagus dia juga selalu menjadi bintang kelas. Apakah nilai menjamin hidup seseorang di masa depan??bukankah selain nilai juga dibutuhkan skill yang mumpuni??
Sudah beberapa bulan tidak menulis membuat tanganku terasa gatal. Beberapa bulan terakhir ini aku selalu mencari hobi yang dapat menjamin hidupku di masa depan. Apalagi semenjak salah satu anggota keluargaku berkata bahwa menulis tidak menjamin masa depan. Aku mencoba membuat kerajinan tangan, menyulam, membuat gantungan kunci, membuat bros tapi hasilnya tidak memuaskan. Apa dengan itu semua akan menjamin hidupku di masa depan?? menurutku menulis juga bisa menjamin hidupku nanti di masa depan. Aku mulai bertekad akan mengasah hobi menulisku lagi meskipun aku tidak mengikuti bimbingan. Aku baru sadar, sebenarnya larangan orang tuaku itu tidak mengikuti bimbingan bukan berarti aku akan menghentikan hobiku. Aku yakin suatu saat nanti hobiku pasti berguna jika aku terus berusaha dan menekuninya.
Sampai saat ini orang tuaku juga masih saja membeda-bedakanku dengan temanku. Telingaku ini selalu terasa panas ketika mendengarkan orang tuaku membicarakan tentang dia. Tetapi hal itu membuat aku terus berjuang dan berusaha agar aku dapat memiliki apa yang aku inginkan. Akhirnya aku akan menghadapi ujian semester 2. Aku selalu berusaha dan tak lupa berdoa. Aku ingin membuktikan bahwa menulis itu bukan penyebab utama nilaiku menurun, justru itu yang membuat semangatku bangkit lagi.
Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari dimana ibuku datang ke sekolah untuk mengambil rapor kenaikan kelasku. Aku hanya bisa berharap semoga nilaiku lebih baik seperti apa yang orang tuaku inginkan. Ketika ibu keluar dari kelas wajahnya terlihat murung. Itu membuatku patah semangat usahaku selama ini hanya sia-sia. Tiba-tiba tanpa ku sadari ibu mengucapkan selamat untukku karena aku berhasil masuk ke dalam 5 besar.
“Maaf Bu, aku masih belum bisa menjadi apa yang Ibu inginkan” kataku
“ Apa maksudmu?ini lebih dari cukup. Mungkin ini awal dari kesuksesanmu!”
Aku dan ibu pulang dengan bahagia. Sesampai di rumah ternyata ayah telah menungguku sedari tadi. Ayah bertanya pada Ibu tentang hasil ujianku. Ibu memberitahu tentang hasil ujianku. Semua ni belum berakhir. Aku masih harus berjuang menghadapi sifat orang tuaku yang terus membeda-bedakanku dengan temanku. Mungkin saat ini dia memang lebih unggul dariku. Tapi lihat saja nanti, aku pasti akan membuat orang tuaku bangga dengan pencapaianku. Bukan prestasi tapi keahlian. Bukan hanya keahlian tapi juga akan ku lengkapi dengan karakter yang baik dan selalu menghargai orang lain.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Selimut Hidup: Duit Banyak tapi Sering Meratap dan Menangis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *