• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 12 Sahabat Jadi Pacar

Setelah mereka pulang aku segera memasuki kamar untuk belajar. Niatnya sih belajar, tapi kok jadi ingat sama kata-kata Vivi tadi ya. Apa maksudnya kalau besok ada hal yang indah menunggu aku. Ya sudahlah mungkin hanya harapan dia saja agar besoktidak sesial hari ini.

Dear Diary,
Senang banget hari ini bisa ketemu sama sahabat terbaikku, Gigi dan Vivi. Yah walaupun awalnya hariku penuh dengan penderitaan. Tapi ya sudahlah semuanya sudah terjadi enggak ada yang perlu di sesali. Oh iya, kalau Gigi dan Vivi di sini lalu bagaimn dengan sekolah mereka? Masak Cuma gara-gara aku sekolah mereka bisa keteteran. Tapi aku yakin kok mereka pasti tidak akan meninggalkan sekolah, aku mengenal mereka sudah cukup lama. Kalau sudah kumpul sama mereka, jadi ingat sama Ray. Rasanya ada yang kurang kalauenggak ada dia. kenapa jadi kayak gini sih Ray? Kenapa hubungan kita jadi semakin jauh lagi. Aku kangen sama semua hal tentang kamu. Canda kamu, senyum kamu, jailnya kamu dan pastinya perhatian kamu. Semua dugaanku jadi kenyataan. Persahabatan kita hancur karena cinta. Kenapa kamu harus memiliki rasa cinta padaku? Dan karena perhatian lebih yang kamu berikan sebelum kita berantem itu membuat aku semakin bimbang. Aku jadi bingung sama perasaanku sendiri entah ini cinta atau solidaritas. Yang aku pikirkan sekarang, aku hanya ingin kita baikan dan memulai semuanya dari awal. Entah perasaan apa yang kita rasakan biarlah menjadi bumbu dalam persahabatan. Toh kita juga enggak pernah tahu jodoh kita. Kalau kata anak gaul jaman sekarang “JOHAN” artinya Jodoh di tangan Tuhan.
Kali ini pagi yang indah, entah kenapa rasanya aku senang sekali. Semoga saja pagi ini membawa keberuntungan untukku. Saat aku sedang sarapan, tiba-tiba saja aku mendengar ibu ngobrol sama orang di depan rumah.
“Ibu ngobrol sama siapa sih, Yah?”
“Ayah juga enggak tahu, Ra.”
Tiba-tiba saja ibu berteriak memanggil aku.
“Ara..” teriak ibu.
“Iya Bu, sebentar.”
Hahh, apa aku enggak salah lihat? Yang dari tadi ngobrol sama ibu iu Ray. Aku massih kaget bahkan aku terdiam dan bengong sambil berdiri di tengah pintu.
“Kok bengong Ra? Ini sudah ditunggu dari tadi lo.”
“Oh iya Bu, aku mau ambil tas dulu ssekalian pamit sama Ayah.”
Tumben banget Ray menjemput aku, bukannya dia masih marah sama aku? Kok bisa tiba-tiba baik gitu? Apa ini maksud dari perkataan Vivi? Entahlah yang penting isa dapat tumpangan gratis.
Di perjalanan kami hanya terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Ketika aku mau memuai pembicaraan ternyata dia juga berpiir yang sama.
“Emm,” kataku dan Ray.
“Kamu dulu saja!” kata Ray.
“Enggak ah, kan cowok itu pemimpin. Jadi kamu dulu!”
“Kok dari tadi diam saja? Biasanya kan kamu yang cerewet.”
“Emm, enggak apa-apa kok lagi enggak mood saja.”
Setelah percakapan itu, kami hanya terdiam. Haduh, kenapa jadi canggung gini sih ngobrol sama Ray. Padahal kan biasanya aku yang paling cerewet.
Sesampai di sekolah, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan Clara, Vivi, dan Gigi.
“Cie yang sudah baikan..” kata Vivi.
“Apaan sih. Loh kok kalian di sini?”
“Kita pindah Ra, sekolah di sana enggak enak. Kangen mulu sama kamu.”
“Terus kok kalian sudah saling kenal?”
“Ya iyalah kenal, orang Vivi itu sepupu aku Ra.” Kata Clara.
“Hah? Kok kalian enggak ada yang cerita?”
“Kan kamu enggak tanya? Kata Vivi.
Tiba-tiba saja Damar dan Kak Ros datang.
“Cie yang sudah baikan?”
“Damar kamu kok tahu?”
“Iya lah nih ya, waktu kamu berantem sama Ray, aku jadi tempat curahan hati Ray.”
“Hahh?? Kok jadi aku yang kudet gini sih?
“Oh iya, aku juga mau minta maaf. Gara-gara aku hubungan kalian jadi renggang.”
“Santai saja Kak, ini bukan salah kamu kok. Aku saja yang terlalu terpancing emosi.”
Tanpa sengaja, aku melihat Chocho ditindas bahkan dipermalukan di depan teman-teman satu sekolah sama Dedes dan Jeje.
“Apa-apaan nih?” kataku.
“Sudah deh enggak usah ikut campur? Kata Jeje.
“Kenapa enggak? Kalian itu sudah mempermalukan, menindas bahkan menghina Chocho itu sama saja kalian menghina aku.”
“Hubungannya apa?” tanya Dedes.
“Karena Chocho itu sahabatku.”
“Apa kamu lupa? Perlakuan dia akhir-akhir ini? kamu masih saja menganggap dia sebagai sahabat kamu?” kata Dedes.
“Semua orang itu pasti pernah melakukan kesalahan tak terkecuali Chocho.”
“Sekarang kalian lepasin Chocho atau kalian berhadapan sama aku, Roesdi dan Damar.” Kata Ray.
“Ray kok kamu jadi belain cewek ini sih dari pada aku?” kata Jeje.
“Ya memang kamu yang salah.” Jawab Ray.
“Ya sudah kalau gitu kita putus!” kata Jeje.
“Kapan kita jadiannya kok tiba-tiba putus? Aku enggak merasa jadi pacar kamu tu?”Ray justru kembali bertanya.
“Oke, ayo Des kita pergi. Tunggu pembalasanku!”
Chocho pun meminta maaf padaku.
“Ra, maafin aku ya? Aku tahu aku salah.” Kata Chocho.
“Iya lupakan saja. Kita mulai dari awal lagi ya?”
Chocho hanya mengangguk.
Akhirnya waktunya pulang sekolah. Saat ditengah perjalanan tiba-tiba saja Ray belok ke kiri padahalkan seharusnya dia belok ke kanan.
“Loh Ray kok ke kiri sih?”
“Kamu ikut aku sebentar ya?”
Tiba-tiba saja kami sampai di sebuah taman tepi danau. Tamannya bagus banget.
“Ra, aku mau minta maaf sama kamu? Aku sudah menuruti emosiku yang tak berujung. Aku tahu ku salah.”
“Iya enggak apa-apa kok. Sebelum kamu minta maaf aku sudah maafin kamu,”
“Ra, perasaanku sama kamu enggak akan berubah. Sampai sekarang pun aku masih mencintai dan menyayangimu lebih dari sahabat.”
“Aku tahu itu Ray, tapi untuk sekarang ini aku ingin kita bersahabat saja. Toh kita kan enggak pernah tahu, jodoh di tangan Tuhan.Aku enggak mau kejadian kemarin terulang lagi, persahabatan yang telah kita bangun dari kecil hancur karena satu kata yaitu cinta.”
“Tapi masih ada kemungkinan kan untuk kita bersatu lebih dari sepasang sahabat?”
“Enggak ada yang enggak mungkin, lebih baik kita jalani saja biarkan waktu yang menentukan. Kita mulai semuanya dari awal ya?”
“Enggak Ra, kita enggak perlu memulai ini semuadari awal.”
“Kenapa?Kamu masih marah?”
“Aku memang enggak marah. Aku enggak mau kita memulai semuanya dari awal karena sudah banyak kenangan yang kita ukir bersama, bahkan hampir setiap hari kita selalu bersama, melengkapi hari dengan canda, tawa, senyuman, dan kejahilan. Aku enggak mau semua itu hilang kalau kita mulai dari awal. Lebih baik kita lanjutkan semuanya dan membuat hidup kita lebih berarti.” Kata Ray panjang lebar.
Setelah semua pengalamanku hari ini, membuat aku mengerti arti sebuah persahabatan dan cinta. Sebenarnya kedua itu saling berkaitan. Seperti peribahasa orang jawa “Witing tresno jalaran saka kulina” artinya cinta itu berasal dari kebiasaan.
Kalau ingat dulu, memang sulit rasanya menahan hati saat luka menyentuh cinta. Yah, kayak pengalamanku sama Ray yang telah memberi rasa sakit karena menganggapku kurang, membanding-bandingkanku, dan tak pernah menganggapku ada. Tapi enggak ada angin, enggak ada hujan tba-tiba saja dia bersikap manis padaku.
Tapi apalah arti semua itu.Toh sekarang kita sudah sahabatan lagi.Yah, kalau masalah jodoh mah, sudah ada yang ngatur.Tinggal menjalani hidup saja.Dan memberi yang terbaik buat semua orang yang pernah mewarnai hidupku.
Oh iya, selamat ya buat Chocho dan Kak Ros. Langgeng-langgeng deh hubungan kalian.Aku senang kalau lihat kalian senang. Yah, setelah aku pulang daritaman tepi danau bersama Ray. Tiba-tiba saja si Chocho menelponku. Dan yang bikin aku lebih kaget nih, si Chocho bilang kalau dia baru saja jadan sama Kak Ros. Akhirnya keinginan dia buat bersatu sama Kak Ros tercapai juga. Kalian memang cocok, sama-sama baik.
Senangnya semua berakhir bahagia. Masa-masa kayak gini nih yang enggak bisa dilupain. Walaupun banyak konflik ang terjadi, toh ujung-ujungnya barengan lagi. Oh iya, terimakasih deh buat Ray walaupun sering menyakiti hatiku tapi secara enggak langsung dia telah mengajariku tentang keikhlasan, ketabahan, kesabaran, keberanian, percaya diri, menerima apa adanya dan banyak hal lagi yang enggak bisa disebuti satu per satu.
Memang sakit rasanya…
Saat diberi luka dari orang yang dipercaya
Memang sulit rasanya…
Saat hubungan mulai membaik diantara dusta
Memang susah rasanya…
Menerima kasih diantara perih
Saat luka menyentuh cinta…
Semua prasangka itu mulai tiada
Luka yang dulu membeku
Kini meleleh dengan berjalannya waktu
Sifatmu yang mulai berubah
Kata-katamu yang mulai indah
Dan senyumanmu yang selalu terpancar
Meluluhkan hatiku yang selama ini terluka
Membuatku melupakan segala perbuatan dusta
Tuhan memang adil…
Beliau telah memberikanku sahabat yang baik sepertimu
Sekaligus guru dalam segala bidang kehidupanku
Terimakasih karena pernah hadir dalam hidupku
Terimakasih karena pernah mengecewakanku
Terimakasih karena pernah membuat luka di hatiku
Terimakasih atas semua goresan luka yang membuatku mengerti tentang arti sahabat dan cinta

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Saatnya Luka Menyentuh Cinta Bab 8 Pertengkaran Kecil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *